Audisi Terselubung

1056 Kata
"Janet, ini bukan waktu yang tepat untuk lelucon!" Haley memicingkan kedua mata, mengira Janet sedang bercanda. "Aku tidak bercanda, Hal." Janet menatap serius. "Ada sebuah agensi yang sangat selektif. Mereka mempertemukan pria-pria kaya dengan wanita-wanita muda yang membutuhkan dukungan finansial. Tapi ini bukan seperti yang kau bayangkan. Ini kelas atas. Tidak ada yang vulgar. Para pria ini biasanya sibuk, kesepian dan hanya butuh teman bicara, pendamping untuk acara-acara tertentu. Bayarannya ... bisa puluhan hingga ratusan juta per bulan." Haley menggeleng keras. "Janet, apa kau sadar apa yang kau katakan? Aku perawat! Aku punya profesi! Aku tidak akan menjual diriku hanya karena—" "Karena apa? Karena adikmu butuh terapi mahal? Karena tabunganmu habis untuk persiapan pernikahan yang ternyata dikhianati? Karena ... kau sendiri butuh uang untuk hidup, Hal? Pekerjaan perawatmu mulia, tapi kau tahu sendiri gajinya tidak sebanding dengan kebutuhan Hana." Haley terdiam. Kata-kata Janet memang menyakitkan, tapi merupakan fakta tak terbantahkan. Gaji sebagai perawat di rumah sakit swasta tempatnya bekerja memang pas-pasan. Setelah dipotong untuk biaya hidup, biaya perawatan Hana dan selama setahun terakhir untuk tabungan pernikahan, nyaris tak ada sisa. "Janet, aku tidak bisa ... itu tidak bermoral ...." "Moral?" Janet tertawa kecil. "Apakah moral keluarga Mahacara lebih baik? Mereka merencanakan pernikahan lain di belakangmu, membayarmu dengan uang dan sekarang kau yang menderita sendirian sementara mereka merayakan pertunangan di rumah mewah mereka. Kau bilang moral?" Haley perlahan tertunduk. Tangannya menggenggam erat gelas air putih. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk Hana," bisiknya lirih. "Dia satu-satunya keluarga yang kumiliki. Aku ingin membawanya ke luar negeri, mencari dokter spesialis, melakukan terapi intensif. Setidaknya agar Hana bisa mengurus dirinya sendiri. Agar dia bisa ... bisa hidup layak meski suatu hari nanti aku tidak ada." Janet meletakkan tangannya di atas punggung Haley. "Itu sebabnya aku memberitahumu tentang ini, Hal. Bukan karena aku ingin kau menjadi w************n, tapi karena aku tahu kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Dan dengan uang, setidaknya kau bisa melakukan sesuatu untuk Hana." Haley mulai mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca, tapi di dalamnya mulai terlihat sesuatu yang baru. Bukan kepasrahan seperti tadi, melainkan keraguan yang bercampur harapan. "Tapi ... bagaimana caranya?" Janet tersenyum. "Aku punya kenalan yang bekerja di agensi itu. Dia bilang mereka sedang mencari anggota baru. Tapi aku harus peringatkan, Hal. Dunia ini tidak mudah. Kau akan bertemu pria-pria dengan egonya masing-masing. Kau harus kuat mental." "Aku sudah melalui hal yang lebih berat dari sekadar ego pria," kata Haley lirih. "Tapi beri aku waktu, Jan. Aku perlu berpikir." "Tentu. Tapi jangan terlalu lama. Lowongan seperti ini tidak datang dua kali." Malam itu, Haley pulang ke apartemen kecilnya yang sepi. Ia berbaring di tempat tidur Hana, menatapnya wajah polos sang adik yang sedang terlelap. Meski divonis autis non verbal dan kesulitan komunikasi, Hana selalu tersenyum setiap kali Haley datang. Bahkan terkadang, ia memeluk sang kakak erat, seolah mengerti betapa berat perjuangan kakaknya untuk memastikan ia tetap hidup dengan layak. Haley memejamkan mata disertai air mata merembes dari pelupuk. "Aku akan melakukan apa pun untukmu, Hana," bisiknya dalam remang kamar. "Apa pun." Di saat bersamaan, bayangan tentang tawaran Janet mulai merayap masuk ke dalam pikirannya. Sebuah pintu yang mungkin akan membawanya ke dunia yang sama sekali tak dikenalnya, atau mungkin sarat akan bahaya. Tapi jika itu untuk Hana ... ia bertekad akan melangkah. *** "Haley, kumohon jawab aku. Sayang!" "Sayang, aku bisa menjelaskan. Aku benar-benar tidak bisa tidur!" "Aku tidak rela kita berakhir! Kau masih milikku, Hal." "Kau benar-benar tidak mengangkat panggilanku? Kalau begitu aku akan ke tempatmu!" 20 panggilan tak terjawab lengkap dengan belasan pesan dari Damian Haley abaikan sejak malam hingga pagi menjelang. Haley lebih memilih pada fokus shift dinas pagi ini. Seperti biasa, tak lupa Haley menitipkan Hana pada pengasuh anak spesial bernama Mira Grey yang merupakan janda sekaligus mantan perawat anak kebutuhan khusus saat muda. "Seandainya Hana dibawa ke klinik khusus luar negeri itu, aku yakin perkembangannya akan pesat," ujar Mira berandai-andai penuh harap saat melihat Hana berekspresi polos ketika Haley berpamitan. Padahal, usia Hana akan resmi 17 tahun. Usia yang seharusnya sudah memasuki fase remaja ke dewasa. Namun, imbas kelainan gen yang didera, pertumbuhan Hana lebih mirip seperti bocah berusia 7 tahun. "Doakan saja aku bisa membawa Hana kesana, Mira," respon Haley tersenyum getir. Di sisi lain, konflik batin Haley semakin bergermuruh. Ide mengikuti audisi Sugar Baby semakin mantap demi pengobatan sang adik. Beberapa saat kemudian. Sesampainya di rumah sakit, suasana hati Haley tak juga membaik saat melakukan pekerjaannya karena dikejutkan oleh sesuatu. "Wah, kau benar-benar calon memantu yang sehat, Aurin. Kau dan Damian pasti akan mendapatkan keturunan-keturunan yang sempurna," puji Liana bangga pada calon menantu barunya di sebuah lorong rumah sakit. Ya, Liana baru saja mengantar Aurin mengecek kesehatan atau medical Chek Up. Haley yang tak sengaja mendengar itu semua merasakan kekecewaan besar. Hatinya bagai tertusuk puluhan duri. Mengingat, perlakuan Liana saat ini sama persis baiknya pada Haley yang digadang sebagai calon menantu. Namun, Haley menolak berlarut dalam kesedihan. Saat itu juga, tekad Haley semakin kuat. Sore seusai dinas, ia akan mendatangi audisi Sugar Baby Exclusive. *** Meski awalnya ragu, Haley tetap datang ke tempat yang dimaksud Janet. Tempat audisi pekerjaan sampingan yang menurutnya absurd itu adalah di sebuah penthouse mewah di pusat kota. Haley menelan salivanya dan lalu berguman dalam hati sesaat setelah sampai di depan pintu penthouse lantai 5. Woah, sepertinya audisi ini tidak main-main. S*al! Kuakui aku sangat gugup dan takut sekarang. Namun, saat Haley hendak berubah pikiran, pintu terbuka dan ia tiba-tiba ditarik masuk oleh seseorang ke dalam penthouse. Sempat terkejut, sosok berjas rapi yang menggiring tangannya cukup membuat Haley bingung dan tak dapat merespon. Hingga akhirnya Haley pasrah digiring ke sebuah ruangan. Haley lantas melihat sejumlah 5 orang wanita cantik, sexy serta mengenakan gaun indah kini sudah berjejer menghadap 1 kursi dimana seorang pria duduk membelakangi. "Silahkan baris di sebelah sana, Nona Anderson," titah si pria yang menggiring Haley barusan menunjukan kode tempat Haley harus berdiri yakni di sebelah wanita urutan nomor kelima. Anehnya, tanpa mengeluarkan bantahan, Haley mengikuti perintah si pria ber-tuxedo setelah serba hitam. Semua itu ia lakukan karena sudah terlanjur datang dan juga hatinya semakin penasaran. Terutama pada audisi saat ini, pada sosok pria misterius yang sedang membelakangi. Tak sampai lama, kursi tunggal itu pun perlahan berputar dan sosok pria yang duduk di sana mulai terpampang. Haley dan semua kandidat pun seketika terkejut saat kursi berbalik sempurna. Ternyata pria itu ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN