Waktu menunjukkan pukul 20.10 ketika Ibu dan Neneknya asyik bercengkrama di depan Tv mengomentari sinetron yang sedang populer saat ini yang baru saja mulai tayang untuk seri ke 100 sekiannya, Billy masih berkutat dengan pikirannya yang juga duduk di kursi ruang tamu sambil menghadap ke Tv, sambil sesekali mengutak-atik layar HP-nya, tak ada panggilan, chat atau SMS dari nomor asing di kontaknya, semua miscall berasal dari nomor yang tersimpan di kontaknya.
"Mereka sama sekali belum menghubungi nomorku"
"Apa benar itu orang-orang si tua sombong itu ??" bathin Billy.
Billy hanya sedikit ragu karena dia masih meyakini bahwa orang-orang itu kemungkinan besar adalah orang suruhan Sastrodinata, 1 minggu lalu orang-orang dengan perawakan seperti yang di gambarkan Bejo pernah datang ke rumah kontrakan mereka ini, namun baru saja mengetahui kalau itu adalah orang-orang Sastrodinata, Neneknya langsung mengamuk dan mengusir mereka tanpa sempat menyampaikan maksud dan tujuan mereka, tentu saja mereka segera beranjak pergi dengan terburu-buru, Nenek marah-marah sambil berteriak akan memanggil Pak RT dan Kantibmas untuk mengusir mereka yang sempat membuat tetangga dan warga sekitar kontrakan mereka datang berkerumun ke rumah mereka, kepada tetangga Nenek mengatakan mereka adalah orang-orang mantan suaminya yang mungkin ingin mengganggu mereka lagi karena Nenek percaya, Dinata, panggilan kakeknya, menginginkan dia menandatangani pelepasan hak atas tanah yang menjadi milik mereka bersama dengan adik Dinata, Sastrawinata dan istrinya, Astining Mahendra seluas 175 Hektar di daerah Bogor dan seluas 200 Hektar di daerah Tanggerang. Tisya Nurmala, Neneknya, tak pernah mau menandatangi surat-surat itu karena dia akan merasa bersalah kepada Mendiang Sastrowinata, ayah Sastrodinata dan Sastrawinata, yang memberikan dan memaksa anak-anaknya menandatangani Surat Kepemilikan Bersama lahan-lahan itu, Beliau menginginkan keluarganya mendirikan usaha di satu kawasan yang sama agar keluarga Sastrowinata tetap satu dan tak tercerai-berai, dan Neneknya juga akan merasa bersalah kepada anaknya, Bramantyo, dan cucunya, Billy, jika menandatangani surat-surat itu, menurut Neneknya itu juga adalah Hak Waris anak dan cucunya.
Sejak 5 tahun setelah bercerai, Neneknya sudah beberapa kali di datangi anak buah Dinata, menawarkan sejumlah uang agar Neneknya mau menandatangi Surat Pelepasan Hak atas lahan-lahan itu, Nenek tidak pernah mau karena dia tidak mau memudahkan urusan ini buat Dinata, walau pun keluarga mereka sangat membutuhkan uang yang di tawarkan itu, ya......itu lah juga salah satu alasan Nenek, balas mempersulit Dinata yang telah mempersulit kehidupannya dan anak cucunya.
Bagi Neneknya kejadian saat itu sangat menyakitkan dan juga sangat mengejutkan, belum 3 bulan sejak Sastrowinata, ayah mertuanya meninggal, Dinata datang dengan seorang wanita asal Maroko, Sofia, yang saat itu sedang mengandung 2 bulan anak Dinata, mereka sudah menikah 6 bulan sebelumnya di Maroko tanpa ada seorang pun keluarga Sastrowinata yang mengetahuinya, Maroko adalah salah satu Negara tujuan bisnis keluarga Sastrowinata dan Sofia adalah salah satu rekan bisnis Dinata di sana.
Nenek tidak bisa menerima pengkhianatan itu, dia memilih bercerai dari pada di Poligami, dan yang lebih menyakitkan bagi Nenek dan Ayahnya, Dinata saat itu tidak terlihat berusaha untuk menahan niat Neneknya untuk bercerai darinya, Nenek dan Ayahnya memutuskan meninggalkan Kakek dan Istri baru kakeknya, walau pun saat itu ibunya, Sarinah, sedang mengandung dirinya......... Billy mengenang cerita Nenek dan Ayahnya yang pernah di ceritakan kepadanya kala dia menanyakan keberadaan Kakeknya, nampak siratan kebencian yang mendalam di wajah Ayah atau Neneknya saat menceritakan kejadian-kejadian itu, Billy pun berusaha untuk tidak lagi mengungkit tentang kakeknya di hadapan Ayah dan Neneknya, karena dari cerita itu dia juga merasakan kebencian itu, dan kebencian itu membuncah ketika Ayahnya meninggal, tak ada sedikit pun perhatian dari Sastrodinata atas meninggalnya ayahnya, pada hari kedua meninggalnya Ayahnya, Billy ingat untuk mengabari ayah dari ayahnya, Sastrodinata, Billy tanpa di ketahui Nenek dan Ibunya menuliskan surat untuk Kakeknya mengabari kematian Ayahnya, surat itu dia titipkan di resepsionis gedung kantor Sastrodinata, saat itu Billy berpikir sudah sepantasnya kakeknya di beritahu kabar duka ini dan memang Billy sedikit menaruh harapan akan munculnya Sastrodinata ke rumah duka tempat kontrakan mereka dan memperbaiki hubungan di antara mereka, setidaknya Kakeknya menunjukkan kepedulian atas meninggalnya anaknya dan mencoba memperbaiki kesalahannya terhadap Neneknya dan keluarganya paska meninggalnya Ayahnya ini dan berharap juga kakeknya ingin bertemu dengannya, seorang keturunan Sastrodinata tulen....... namun harapan itu tak pernah terjadi saat itu, Satrodinata tidak pernah muncul, begitu pun orang-orangnya saat itu.
Hanya beberapa tahun berikutnya orang-orang Sastrodinata muncul lagi untuk meminta Nenek menandatangani Surat Pelepasan Hak atas tanah yang pernah Nenek ceritakan padanya. Semua hal itu lah yang membuat Billy tak pernah lagi menganggap Keluarga Sastrodinata itu pernah ada di kehidupannya, Billy bahkan begitu membenci nama itu, Billy hanya berpikir jika benar orang-orang yang mencarinya di Pangkalan parkir tempatnya nongkrong adalah orang-orang Sastrodinata, pasti lah hanya untuk membujuknya agar merayu Neneknya supaya menandatangani Surat yang selalu mereka bawa ke hadapan Neneknya itu.
"Selamat Malam" terdengar suara di iringi ketukan pada pintu rumah mereka.
Billy berdiri membukakan pintu pada suara yang tak asing lagi baginya.
"Malam Put, masuk" ujar Billy saat membukakan pintu.
"Ekh....rame-rame nih" sambut Billy tersenyum melihat Putra yang tak datang sendiri.
"Ini si Vina mau ikut juga ketemu kamu, rindu katanya" sahut Umar yang langsung di tonjok bahunya sama Vina yang terlihat sedikit malu-malu.
Billy yang tersenyum ke arah Vina cuma menimpali "Ayo masuk".
"Iya masuk-masuk" sahut Ibu dan Neneknya agak berbarengan.
"Kita di teras saja Tante" jawab Umar dan Putra yang juga hampir bersamaan.
"Kita ngobrol di teras aja Bil, enggak enak sama Nenek sama Ibumu kalo kita berisik ngobrol di dalam" kata Putra.
"Ya udah kalau begitu, gua ambil kursi panjang di dapur dulu ya" ujar Billy sambil masuk ke dalam rumah.
"Teman-temanmu mau Mama buatkan minum apa Bil ?"
"Teh apa kopi ?" tanya Ibunya.
"Ada teman cewek juga kan itu ?" tanya Ibunya yang sudah mengikuti Billy ke dapur.
"Iya Ma, Vina, Diana sama Ika"
"Berarti teh 3 dong Ma buat mereka" jawab Billy tersenyum manis ke arah Ibunya yang dia rasa sudah dia repotkan lagi malam ini.
"Kalian cowok bertiga kopi ya" sambung Mamanya yang sudah mulai menyiapkan gelas-gelas.
"Iya, terima kasih ya Ma" sahut Billy sambil mencium pipi Ibunya.
Billy yang keluar membawa kursi kayu panjang di sambut pertanyaan Diana "Ibumu mau buat minum buat kita ya Bil ?"
"Kasian Ibu jadi repot karena kita" sahut Ika.
"Aku masuk bantu Ibu ya Bil" ujar Vina sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Serempak ke empat teman Billy yang lainnya menggoda Vina "Cie...cieeeeee....."
Vina tak acuh dan sudah meninggalkan mereka di teras, Ika dan Diana menyusul Vina masuk ke dalam rumah "kita masuk juga ya Bil, bantu Ibu" seru mereka kompak.
"Vina kayaknya serius tuh suka sama loe Bil" ujar Umar membantu Billy yang sedang mengatur posisi kursi dan Meja untuk mereka berenam.
"Iya, loe ada perasaan juga enggak sih sama Vina?" tanya Putra menimpali.
"Gua enggak berani mikirin perasaan gua ke cewek Put, gua takut cewek yang bersama gua nanti malah hidup susah, kalian berdua kan juga tahu, gua selalu berusaha menyisihkan penghasilan harian gua yang enggak seberapa ke Nenek dan Ibu gua, gua takut si cewek enggak bakal bisa terima kehidupan gue" jawab Billy tersenyum ngeles.
"Lha...itu buktinya si Vina udah tahu kehidupan loe tapi tetap berusaha dekat ama loe" ujar Umar tegas.
"Hadeehh.....gua enggak mau Ge-eR (Gede Rasa) Umar, mana tau kalo si Vina hanya peduli karena sudah temenan sama gua dari kecil, apalagi dari Sekolah Dasar, SMP sampai SMA gua barengan sekelas melulu sama dia" jawab Billy tersenyum ringan.
"Vina udah pernah cerita perasaannya itu ke Ika" ujar Putra.
"Iya, Diana juga pernah bilang ke gua kalau Vina pernah ngomong ke dia kalau Vina suka sama loe" sahut Umar cepat.
"Terus loe maunya si Vina menyatakan perasaannya ke loe duluan baru loe percaya kalo dia suka sama loe ?" tanya Putra sedikit ketus.
Billy menghela nafas memperhatikan wajah kedua sahabatnya yang nampak serius.
"Gua enggak tau Put, udah lah, enggak usah bahas ini dulu" kata Billy berusaha mengakhiri pembicaraan mengenai itu.
"Enggak bisa segampang itu dong loe mengabaikan perasaan Vina ke loe, kasian Vina dong kalau begitu" ujar Putra serius.
"Loe harus ajak Vina ngobrolin ini"
"Kalau loe enggak punya perasaan ke dia, loe harus ngomong ke dia sekarang-sekarang, biar dia berhenti mengharapkan balasan perasaan dari loe"
"Sebaliknya, jika ternyata loe punya perasaan ke dia, ungkapkan ke dia, beritahu beban yang loe pikirin tadi, kalau dia bisa menerima keadaan loe, pasti hubungan kalian bisa lanjut" cetus Putra menggebu-gebu.
"Dan gua yakin si Vina pasti ngerti keadaan loe" timpa Umar meyakinkan.
Billy memicingkan matanya, sekali lagi memperhatikan betul wajah dua pria di hadapannya yang sepertinya begitu menantikan respon positif dari pembicaraan ini.
"Iya, iya, nanti gua coba cari waktu buat ngomong sama Vina" ujar Billy tersenyum berusaha menghilangkan raut serius di wajah kedua anak Band itu.
"Nah itu baru sikap vokalis gua, gentleman" sahut Putra tersenyum bangga.
"Gitu dong, preman cikini kok takut ngomong sama cewek" timpa Umar di ikuti tawa mereka bertiga.
"Bukan takut Umar, segan" sahut Billy dengan tawanya.
"Sama aja jangkung" sahut Putra dan Umar berbarengan.
#
Minuman dan sepiring besar pisang goreng nampak menemani 6 pasang muda-mudi itu bercerita di teras kecil depan rumah kontrakan Billy, kebanyakan membahas kesiapan lagu-lagu yang akan mereka bawakan besok malam di kafe yang selama ini sudah menerima mereka sebagai pengisi hiburan di tempat itu, sesekali terdengar gelak tawa mereka saat menggoda Billy dan Vina yang sengaja mereka buat duduk berdampingan di kursi panjang itu.
Di antara mereka berenam ini cuma Billy dan Vina yang belum resmi berpacaran, Putra sejak lama sudah berpacaran dengan Ika, begitu pula Umar juga sudah sejak lama berpacaran dengan Diana, kedua pasang sejoli ini bahkan sudah berencana dan menabung untuk segera melaksanakan pernikahan, dua personil band yang lain, Abay dan Herman malah sudah menikah dengan pacar mereka yang juga akrab dengan ke semua anak Band mereka. Rina, istri Herman, sedang mengandung 8 bulan, membuat Herman sedikit mengatur waktu untuk kumpul bareng teman-teman Band, sebisanya dia ikut gabung hanya pada saat latihan dan jadwal tampil di kafe tempat mereka manggung. Sedang Abay, malam ini dia mengantarkan banyak pesanan pembeli dari online shop milik istrinya sehingga malam ini hanya Putra dan Umar yang datang membicarakan persiapan lagu untuk di kulik besok siang saat latihan sebelum mereka tampil di malam harinya.
Merupakan hal yang biasa bagi mereka, latihan beberapa jam sebelum tampil, mereka sudah ngeBand bersama sejak tamat SMA, mereka sudah saling mengenali satu sama lain, sehingga tidak terlalu sulit bagi mereka untuk menyatukan ikatan harmoni dari setiap lagu yang akan mereka bawakan, terkecuali Billy yang sedikit memberi perhatian ekstra untuk menghafal lirik saat ada lagu baru yang harus mereka pelajari.
"Malam Bil, Ibu sama Nenek ada ?" tiba-tiba suara yang begitu Billy kenali terdengar dari arah belakangnya.
Billy memang duduk menghadap ke arah rumahnya sehingga membelakangi pagar pendek di depan rumahnya.
"Malam" sahut mereka berbarengan.
"Mila, kok tidak telpon saja ?" sambut Billy sedikit kikuk berdiri menyambut Mila.
"Aku mau bawain ini kok buat Ibu sama Nenek......sama kamu juga" sahut Mila sambil menunjukkan bungkus plastik putih berlogo salah satu penganan favorit yang di bawanya.
Tercium aroma Martabak telur dan Martabak manis dari bungkusan itu, membuat Billy sedikit bengong kebingungan, di ikuti gerak-gerik penuh tanya teman-temannya yang ada di situ.
"Ibu sama Nenek ada ?" Mila mengulangi pertanyaannya.
"Ada, masuk Mil" ucap Billy sedikit gugup yang membuat teman-temannya terutama Vina semakin bertanya-tanya dengan hubungan Mila dan Billy.
"Aku masuk ya" ujar Mila ke kawan-kawan Billy yang duduk di teras itu.
"Iya Mil, lanjut" kata Putra di tengah teman-temannya yang terdiam penasaran.
Billy yang hendak menemani Mila masuk ke dalam di tahan Mila "Sudah biar aku sendiri saja, kamu temani mereka saja dulu" ujar Mila tersenyum penuh arti ke Billy yang tertahan langkahnya dan tiba-tiba merasa ada sesuatu menjalar di tubuhnya akibat tatapan dan senyum Mila tadi.
Baru kali ini Mila datang bertamu ke rumahnya, apalagi ini sudah menunjukkan pukul 21.45, di tambah lagi membawakan bingkisan penganan seperti ini, seperti mimpi saja buat Billy.
Sejak lama Billy memang menaruh hati kepada Mila tapi tidak pernah berani Billy tunjukkan kepada Mila, baginya perasaannya ke Mila mustahil untuk bersambut di tambah dia menyadari keadaannya yang tidak mungkin bisa memberikan kebahagiaan ke orang yang di cintainya dengan keadaannya dan keluarganya saat ini, apalagi bagi Billy, Mila berasal dari keluarga berkecukupan di kawasan itu, menyatakan perasaannya ke Mila sama saja mempermalukan diri dan keluarganya di tempat dia biasa mencari nafkah selama ini, di Catering Bu Ijah. Billy tidak mau orang-orang menilainya sebagai pemuda yang berusaha naik kelas dengan mengambil hati milik anak majikannya.
Hal itu lah yang menyebabkan Billy tak pernah berani meneruskan perasaannya ke Mila, perasaan ke Mila itu pula yang membuat Billy tidak melayani perasaan Vina kepadanya yang sebenarnya sudah dia ketahui sejak lama, karena perasaannya ke Mila terlalu mendominasi tempat di hatinya sehingga merasa agak sulit memberikan ruang untuk perasaan Vina kepadanya.
Elvina, gadis manis dengan rambut lurus sebahu mulai menyukai Billy sejak ayah Billy meninggal, dia kagum dengan kegigihan Billy berusaha menafkahi keluarganya, dia tertarik dengan keceriaan yang selalu Billy perlihatkan di tengah segala kekurangan materi yang melekat pada Billy.
Vina yang kesehariannya bekerja sebagai staff administrasi pada Perusahaan barang pecah belah di kawasan Kramat Jati, sudah memasukkan beberapa temannya, termasuk ke empat teman Band-nya itu bekerja di Perusahaan itu, sebagai tenaga angkut barang dan pergudangan, Billy yang juga pernah di tawarkan Vina ketika ada lowongan lagi di perusahaan itu sengaja menolak dengan halus karena dia tidak mau jika dia menerima tawaran dari Vina itu, dia akan merasa berhutang budi sehingga dia tidak bisa menolak perasaan Vina ketika Vina menyatakan perasaan kepadanya suatu saat bila Vina memberanikan diri menyatakan perasaannya ke Billy, pikir Billy saat itu.
Billy beralasankan bahwa Bu Ijah belum menemukan sopir yang dia percaya untuk membawa mobil cateringnya, sesungguhnya saat itu Vina sudah bisa menebak alasan kenapa Billy tidak mau menerima tawaran kerja di perusahaan tempat dia bekerja, Vina tahu, Billy tidak mau berhutang budi padanya, sedikitnya Vina merasakan kalau Billy sepertinya tidak menaruh rasa kepadanya, namun di tetap kekeuh berusaha menunjukkan perasaannya ke Billy, berharap Billy mau membalas perasaannya, terutama seperti semua orang tahu, Billy belum mempunyai pasangan, hingga malam ini......bagi Vina kejadian ini seperti menjawab, kenapa selama ini Billy tidak membalas perhatiannya........
Mila keluar sambil membawa dua piring yang masing-masing terisi Martabak telur dan Martabak Manis yang sepertinya sudah di bagi dengan Ibu dan Neneknya di dalam, sambil tersenyum Mila meletakkan kedua piring itu di meja kecil di hadapan Billy dan teman-temannya, Mila hendak masuk kembali ke dalam rumah ketika Umar menyapa Mila, "Gabung sini Mil, duduk ngobrol sama kita".
"Aku enggak lama lagi kok Mar, sudah jam 10, mau pulang" jawab Mila dengan senyum di wajah cantiknya yang sudah lama membuat Billy selalu ingin melihat Mila tersenyum.
Mila yang sudah masuk ke dalam, membuat Diana bertanya membisik, "Kamu dengan Mila pacaran ya ??" tanyanya penasaran.
Billy menggeleng dan mengernyitkan dahi tanda bertanya-tanya dengan tatapan penasaran teman-temanya.
"Jujur aja Bil, enggak apa-apa kok" tiba-tiba Vina bersuara dengan di iringi senyum manisnya yang memperlihatkan gigi kelinci yang banyak cowok juga suka melihat senyum Vina.
"Nah lho...!!!" tiba-tiba semua temannya yang lain pun berseru sedikit syok dengan pernyataan Vina.
"Iya Bil, jujur, loe enggak mau terbuka ya sama kita-kita ?" tanya Diana lagi.
"Iya, gua enggak pacaran kok sama Mila" jawab Billy sedikit berbisik.
"Gua aja kaget dia datang malam ini, baru kali ini lho dia datang kesini" sambung Billy masih dengan setengah berbisik.
Terdengar dari dalam rumah suara Mila yang berpamitan kepada Ibu dan Nenek Billy, kemudian muncul lah Mila di temani Sarinah, Ibu Billy, di pintu rumahnya, Mila berpamitan lagi kepada Sarinah sambil mencium tangan Ibu Billy itu yang membuat Billy dan teman-temannya cukup tercenggang.
Saat Mila berpamitan pada Billy dan teman-temannya, Ridwan, adik Mila yang baru saja mulai berkuliah, sudah tiba di depan rumah Billy dengan motor matiknya, rupanya Mila sudah menghubunginya sejak dalam rumah meminta untuk di jemput adiknya.
Setelah Mila pergi, Ibunya menatap tersenyum penuh arti ke Billy sebelum kembali masuk ke dalam rumah yang membuat Billy merasa ada sesuatu yang di khawatirkan Ibunya kepadanya.
Obrolan berlanjut masih dengan pembahasan tentang hubungan Mila dan Billy, yang secara gamblang di jawab sebagai hubungan seadanya, antara putri majikan dan anak buah di rumah sekaligus tempat usaha catering milik Bu Ijah itu, pembicaraan berlanjut kembali dengan pembahasan tentang persiapan lagu yang mereka akan bawa pada penampilan besok malam, namun ada yang sedikit nampak canggung untuk di bahas, tentang kelanjutan hubungan Billy dan Vina, sepertinya masing-masing dari ke empat teman Billy tahu, begitu juga Vina, kedatangan Mila ke rumah Billy malam ini seperti menabuh genderang perang dengan Vina, tertanda dengan membawakan penganan populer buat Billy sekeluarga, di lanjutkan dengan cium tangan ke Ibu Billy ketika hendak pamit dan itu seperti Mila sengaja perlihatkan ke mereka.
Vina menyukai Billy memang sudah menjadi rahasia umum yang di anggap wajar oleh warga di sekitar kawasan tempat tinggal mereka, Billy yang tampan berperawakan tubuh tinggi dengan berat tubuh yang ideal di kenal berbakti kepada keluarganya, sebenarnya Billy cukup populer di kawasan itu, keberaniannya menghalau laju motor yang di kendarai 2 orang begal yang melarikan diri dari kejaran warga ketika melintasi jalan Kali Pasir kawasan tempat tinggal mereka dan berhasil mengembalikan barang yang di rampok kepada pemiliknya serta membuat kedua begal itu tertangkap menjadi berita di koran-koran ibukota saat itu membuat tidak ada lagi begal yang berani melintas di situ saat hendak melarikan diri, di tambah juga dia, Bejo dan Ruli pernah menghajar 4 orang komplotan copet yang baru saja turun dari bus tempat mereka beraksi tepat di daerah pangkalan parkir mereka.
Billy yang merasa rendah diri sehingga tidak berani berpacaran juga menjadi rahasia umum yang malah membuat warga semakin kagum padanya, karena sebagian besar pemuda di kawasan itu kurang lebih juga bekerja serabutan seperti Billy, namun sedikit yang seperti Billy yang tidak berani untuk membangun hubungan dengan wanita.
#
Jejeran chating dari Mila terpampang memenuhi layar akun Mila di HP Billy, rasa terkejut sekaligus senang yang luar biasa membuat jantung Billy berdegup sangat kencang, tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Billy yang sedang berbaring di kamarnya di lantai 2 berkeyakinan jika perasaan senangnya ini dia lanjutkan akan berakibat penilaian buruk dari warga sekitar tempat tinggalnya, terutama kedua orang tua Mila. Dia berpikir akan di anggap sebagai pemuda yang tidak tahu diri, yang ingin memanfaatkan keadaan pada perempuan yang ekonomi keluarganya jauh lebih baik dari ekonomi keluarganya sendiri.
Sedari tadi, selang beberapa menit sejak Mila pulang dari rumahnya, HP-nya beberapa kali berbunyi yang menandakan Chatingan masuk di salah satu media sosialnya, namun entah kenapa dia feeling kalau chat-chat itu berasal dari Mila, sehingga dia enggan membukanya karena dia duduk bersebelahan dengan Vina.
Vina pun menyadari bunyi HP di tangan Billy, walau pun terdengar samar karena memang Billy biasa menyetel bunyi HP-nya kecil, Vina memperhatikan gerak-gerik Billy yang nampak canggung ketika HP-nya berbunyi, dan sepertinya, teman-temannya yang lain pun menyadari itu.
Sebelum naik ke kamarnya Ibu dan Neneknya sempat mengingatkan Billy untuk tidak mempermainkan hati wanita, segera ambil keputusan agar tidak ada yang merasa di berikan harapan berlarut-larut.
Billy sempat bertanya, " Memangnya Mila sama Vina ngomong apa ke Mama sama Nenek ??".
Nenek dan Ibunya cuma tertawa.
"Ke buka sendiri kan Bu" kata Ibunya Ke Nenek.
"Iya, kita yang masih menebak-nebak apa benar Vina sama Mila lagi jatuh hati dengan cucu nenek, malah langsung terjawab sama pertanyaan kamu Bil" seru Nenek yang masih tertawa.
Billy yang tersipu malu, mengulang kembali pertanyaannya, "Mereka berdua ngomong apa Ma ??" tanya Billy dengan nada sedikit manja ke Ibunya.
"Cuman tanya-tanya kabar Mama sama Nenek, sama cerita keadaan orang tuanya masing-masing, Diana sama Ika juga cerita begitu kok, hampir enggak ada yang spesial dari omongan kita sama Vina dan Mila, hanya saja kedatangan Mila itu bikin Mama sama Nenek bertanya-tanya, tiba-tiba anak Bu Ijah datang memperhatikan kita Bil, apalagi pas si Mila mau pulang tadi, Mama ngeliat si Vina agak cemburu ke Mila, begitu juga Mama lihat raut Mila ke Vina" jelas Mama di ikuti senyum manisnya yang nampak senang anak lelakinya ada yang menginginkan, sama dua orang gadis cantik dan manis lagi.
"Sudah sikat gigi sama cuci kaki sana, tidur, sudah jam 11 ini, Nenek sama Ibu juga sudah mengantuk, mau tidur" timpa Nenek yang sedari tadi juga hanya senyum-senyum saja.
"Billy ngobrol sama Mama saja kalau begitu" timpa Billy juga yang masih penasaran mau ngobrolin masalah hati dengan kedua bidadarinya.
"Mama juga sudah mengantuk, besok saja kita ngobrolnya" jawab Ibunya sekenanya.
Mila : Malam Bil, aku mau tanya hal pribadi boleh ??
Mila : Kamu sama Vina sudah pacaran ya ???
Mila : Dari kapan ????
Mila : Selama ini aku merasa kamu godain aku karena kamu suka sama aku, jujur ya Bil, kamu godain aku karena kamu suka sama aku atau hanya sekedar iseng bercanda ????
Mila : Tadi aku lagi main di rumah Lusi waktu teman-temanmu datang, aku sengaja pulang tidak lewat depan rumah kamu karena melihat kamu duduk berdampingan dengan Vina, tapi aku terlalu penasaran dengan hubungan kamu dan Vina, karena kata Lusi kalian belum berpacaran, makanya aku sengaja memberanikan diri untuk datang ke rumahmu, membuktikannya sendiri dan tingkah kamu tadi sudah menggambarkan kok kalau kamu memang sudah jadian sama Vina.
Mila : Kamu terlalu gugup ya aku dapat duduk berdampingan dengan Vina ?
Berarti kamu merasa bersalah kan selama ini godain aku ?
Bikin aku terbawa perasaan ke kamu.
Apa yang kamu lakukan ke aku itu.....jahat.
Mila : Maaf Kalau aku mengganggu, mungkin kamu masih ngobrol dengan teman-teman dan pacarmu.
Mila : Maaf juga kalau kedatanganku tadi membuat kamu, pacarmu dan teman-temanmu terganggu dan tidak nyaman.
Secara tersirat Mila sudah menyatakan perasaannya ke Billy dan membuat jantung Billy tak karuan, Milandari, wanita yang sejak lama di cintainya ternyata juga menaruh rasa kepadanya.
Cepat jari-jari Billy membalas semua chat Mila......