Kesempatan Terakhir

1924 Kata

“Daddy kok gak bilang sih kalau mau ke sini? Kan Aya bisa bangun pagi jadinya!” protes bocah itu ketika turun dari mobil. Tangannya ber-kacak pinggang. Bibirnya mengerucut. Sara terkekeh mendengarnya. Ia meneleng-kan kepala melihat ulah Tiara yang begitu menggemaskan. Mereka memang sengaja berangkat pagi untuk berenang di pemandian air panas. Lalu akan bermain sepeda air sebentar dan berjalan-jalan. Usai zuhur mereka sudah harus balik lagi ke Jakarta. “Yang penting kan Aya tetap ikut,” hibur Feri sambil membuka bagasi mobil. Lelaki itu mengambil tasnya dan tas milik Tiara. “Ih! Aya marah sama daddy!” ketusnya sambil memalingkan muka dari Feri. Ia masih kesal karena baru diberitahu ayahnya akan ke sini. Bocah itu mencebik bibirnya. Sara terkekeh lagi dibuatnya. Ia memeluk bocah itu dan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN