4. Teman Baik Gladys

1260 Kata
Gladys tengah berjalan menuju ke sebuah tempat, ia bertemu dengan Haris di jalan. Pria itu selalu menghampirinya setiap mereka berpapasan. Haris adalah seorang anak dari tetangganya yang selalu ramah menyapanya. Kata ibunya, Haris suka padanya tapi nyatanya malah sampai ia lulus sekolah Haris tak kunjung mengatakan apapun padanya. Jadi, bisa disimpulkan kalau ibunya hanya salah sangka saja. “Gladys, mau kemana?” “Eh, Mas Haris. Ehm ... Mau ke kafe depan, Mas. Dari mana juga Mas Harisnya, aku lihat tadi boncengin orang?” Haris terlihat tersenyum malu, ia menggaruk kepalanya. “Tadi itu aku ambil gojekan, lumayan mumpung masih nganggur ini,” jawabnya malu-malu. Pria itu memang terlihat hanya di rumah saja, hampir sama dengan dirinya. Gladys selalu menyempatkan mengobrol jika mereka bertemu. Tapi, dilihat dari gestur tubuhnya, Haris terlihat pemalu dan juga sedikit minder. Entah karena belum bekerja atau apa tapi yang jelas, Gladys melihatnya sebagai sosok pria yang baik. Dering ponselnya berbunyi, Gladys segera undur diri dan langsung berpamitan. Tiba-tiba, Haris minta datang ke rumah nanti malam. “Dys, boleh kan nanti malam ke rumah?” tanyanya. Gladys tercenung, baru kali ini pria itu minta datang dan meminta ijin ke rumah. “Boleh, Mas Haris. Main aja, seperti biasanya. Ibu juga nggak melarang, kok,” “Kalau yang lain?” “Yang lain bagaimana, Mas?” tanya Gladys. “Ehm, maksudku pacar,” jawab Haris. Gladys tersenyum, ia menatap bola mata pria itu, dia begitu lugu dan sangat jujur. Gladys takut menyakitinya. Ia akan dinikahi seseorang meski tak mengenalnya tapi Gladys dan pria kaya itu hanya akan sementara saja bukan untuk selamanya. “Nggak apa-apa, kok Mas. Gladys nggak ada pacar,” jawab Gladys. Sebenarnya ia ingin mengatakan secara jujur kalau ia akan menikah, tapi permintaan pria kaya telah membuatnya berubah pikiran. Ia akan merahasiakannya sampai semuanya selesai. “Mas, aku duluan ya. Sudah ditunggu temanku,” Haris mengangguk, ia tersenyum dan menatapnya hingga ia pergi jauh dengan sepeda listriknya. Di perjalanan ia sedang berpikir, kalau pria yang mengajaknya menikah adalah Haris, ia akan bersedia tanpa menunggu lama untuk menjawabnya. Namun, dirinya seolah bermain dengan takdir. Ia menerima pernikahan untuk menyelamatkan dirinya dari sebuah kejadian. ** Pria itu telah berdiri menunggunya dan mereka membahas tentang rencana pernikahan. Gladys mau tak mau harus menerimanya. Syarat yang diajukan pria itu cukup simpel dan ia mendapatkan jaminan agar semuanya aman tanpa dirinya merasa di lecehkan nantinya. “Baiklah, jika sudah paham, satu minggu lagi kamu harus tinggal bersama ibumu di paviliun. Paham!” Gladys mengangguk, ia masih memiliki waktu untuk bisa meyakinkan ibunya agar pernikahannya berjalan lancar. Mereka berpisah setelah semuanya selesai. Di rumah, Gladys mendapatkan sebuah tamparan dan diminta untuk sadar. “Pernikahan bukan main-main, Gladys! Kenapa kita harus merahasiakannya?” tanya ibunya. “Bu, ini permintaan dari Tuan ehm ... Tuan Mark,” “Mark? Namanya Mark, kenapa kamu tak membawanya kesini? Bukannya ibu sudah minta kamu untuk membawa dan mengenalkannya pada ibu?” Gladys lupa satu hal yang ibunya minta, ia benar-benar lupa. Hingga sorenya ia menghubungi pria itu agar besok datang ke rumah dan berkenalan dengan ibunya. Sementara itu, Mark tengah sibuk dengan rapatnya dan tak bersedia datang ke rumah Gladys. Ibunya Gladys marah lagi dan Gladys bingung mencari akal agar ibunya tak marah-marah lagi padanya. Malamnya, Haris benar-benar datang dan ia membawa makanan yang sangat disukai Gladys. Haris berpakaian rapi dan terlihat cukup tampan. Gladys sampai lupa kalau dia adalah pria yang ia temui siang harinya. Ia merasa pangling. “Assalamualaikum, Bu. Maaf, Haris kesini,” “Waalaikumsalam, Nak Haris. Silakan masuk, jangan malu-malu!” “Iya, Bu. Oh, ya maaf Haris hanya bawa ini untuk ibu dan Gladys,” “Terima kasih, Nak Haris. Datang kesini saja sudah senang, ini malah bawa makanan segala,” Haris dan ibunya mengobrol cukup lama, sementara Gladys tengah duduk kebingungan. Ia diminta membatalkan pernikahannya kalau pria kaya itu tak mau datang ke rumah ini. ** Mark sedang berpikir di taman, ia tengah menyiapkan beberapa persiapan menikah. Kedua orang tuanya menyerahkan semua keputusan terbaiknya pada dirinya. Mereka tak ikut campur urusan dia mencari pendamping. Ia memandangi foto gadis yang akan menikah dengannya. Lalu tersenyum sendiri karena dengan mudahnya ia bisa menjebak seorang gadis agar bisa ia nikahi. Seorang suruhan ia minta untuk menjemput gadis itu yang sedang berada di sebuah toko. Ia memintanya untuk membeli perhiasan siang ini. Namun, terlebih dahulu akan ia ajak ke tempat lain yang bisa menjadi tempat mereka membicarakan tentang rahasia mereka berdua. Sepuluh menit kemudian, keduanya sudah berada dalam mobil. Gladys awalnya bingung karena ia tak pernah menerima atau membeli sebuah perhiasan. “Sebelum ke toko perhiasan, kita ke tempat ku dulu,” ujarnya. “Kemana?” tanya Gladys. Pria itu tak menjawabnya, Gladys menjadi terbiasa diacuhkan dan dia pun diam saja. Mereka berdua duduk dalam diam dan Gladys hampir saja tidur karena mengantuk. Semalam ia memikirkan bagaimana nanti ia dan pria ini menikah sementara Ibunya belum kenal dengannya. Pria ini selalu menolak jika ia mencoba untuk mengajaknya bertemu ibunya. Mobil berhenti di sebuah tempat yang ternyata cukup jauh dari tempat ia tadi berhenti. Gladys melihat ke kanan dan ke kiri, semuanya terasa sepi. Bahkan rumah-rumah besar juga meski terlihat menjulang tapi ternyata lengang dan tak ada siapapun. “Ayo, turun!” ajaknya. Gladys ragu-ragu, ia belum mau turun hingga pria itu membentaknya. “Cepat turun! Kita tidak akan berbuat yang aneh disini, jadi jangan berpikiran kotor!” ucapnya. Gladys tak langsung beranjak turun, ia masih ragu. Ada rasa takut dan bayangan aneh tiap ia memikirkan saat bersama pria itu. “Aku mau kamu turun sekarang dan kita bicara disini merencanakan pernikahan kita,” Gladys mengangguk tapi ia masih takut kalau pria itu akan melakukan sesuatu padanya. Tangannya ditarik membuat ia terpaksa turun. “Aku ... aku harus apa?” tanya Gladys. Mark, pria yang bersamanya ini sedang merokok dan mengambil sebuah kunci dari tas nya. Ia melihat bagaimana isi tas itu begitu penuh dengan banyak uang dan Mark langsung menarik tasnya dan seolah mengamankannya. “Tenang saja, uang ini juga nanti akan menjadi milikmu kalau kamu benar-benar menjadi istriku,” ucapnya. Gladys diam saja, ia diajak masuk ke dalam dan ruangan yang di dalamnya ternyata begitu luas. Mark menatapnya membuat Gladys kebingungan dan mundur untuk melangkah keluar. “Kamu takut? Hahaha, dasar gadis bodoh, aku tidak akan menyentuhmu karena perjanjian kita kamu tak ku sentuh sampai aku menginginkannya,” ucapnya. “Kita disini mau apa, Tuan?” tanya Gladys. “Aku ingin kamu terbiasa bersama ku, setelah pernikahan kita akan ada bulan madu tapi tidak untuk bulan madu sungguhan. Jadi, kamu mau kan sepakat denganku jika pernikahan nanti aku bersama beberapa perempuan lain, kamu tak akan menuntut ku, termasuk keluargamu,” Gladys terkejut, sekali lagi pasti ini harus ia setujui. Mau tak mau ia harus setuju. “Bagaimana?” tanyanya. Mark menunggunya, kali ini ia menatapnya dengan sangat harap dan Gladys menunduk sembari mengangguk. Ia memang tak bisa membantahnya. “Jadi, kamu menyetujuinya, kan? Tanda tangani ini!” perintahnya. Gladys melihat tulisan pada sebuah surat yang ditujukan padanya itu cukup panjang. “Apa boleh aku membacanya dulu?” tanya Gladys. “Baik, cepat baca, dan jangan lama-lama menanda tanganinya!” Mark terlihat tak suka karena gelagat Gladys yang selalu cerewet, dan banyak tanya ini itu, Gladys memang suka bertanya dan bukan gadis yang pemalu. Ia periang dan selalu protes jika tak sesuai dengan keinginannya. Gladys berdiri untuk mengambil kertas itu, ada materainya juga, ia melirik ke arah Mark yang tengah merokok. Pria itu ternyata seorang perokok berat. "Ini, ehm ... banyak sekali tulisannya, kamu benar-benar telaten membuatnya," ucap Gladys. "Dasar cerewet!" ketus Mark.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN