SELAMAT MEMBACA
***
Sudah tiga hari Kila di rawat di rumah sakit. Kondisinya semakin membaik dan jika tidak ada halangan maka sore nanti sudah bisa di bawa pulang.
Selama tiga hari ini teman-temannya di kos bergantian menjaganya sebentar-sebentar. Bu Marni dan Kama juga ikut andil dalam merawat Kila. Dua orang itu tidak bisa lepas tangan, karena Kila tinggal di kos mereka. Terutama Kama, sebagai pemilik Kos dia merasa bertanggaung jawab dengan kondisi dan keamanan anak-anak kosnya.
Seperti siang ini, Kama dan Bu Marni yang kembali menjaga Kila, karena teman-teman Kila semuanya sibuk kuliah dan bekerja. Sebenarnya Kila sudah mengatakan pada mereka, tidak perlu datang jika sibuk. Dia juga tidak papa di rumah sakit sendirian. Namun, siapa yang tega membiarkan Kila sakit sebatang kara di rumah sakit sendirian tanpa seorang pun yang menemani.
“Mbak Kila, Ibu mau kekantin dulu beli teh hangat. Mbak Kila mau di belikan apa?” Bu Marni pamit kekantin, dia merasa haus dan ingin minum teh hangat. Sekalian keluar mencari udara segar.
“Tidak Bu, terimakasih.” Tolak Kila halus.
“Pak Kama mau di bawakan apa nanti kalau saya kembali?” tanya Bu Marni pada Kama.
“Air mineral saja Bu,” jawab Kama.
Bu Marni langsung pergi setelah itu, meninggalkan Kama dan Kila di ruang perawatan Kila.
Kama yang merasa bosan dengan kegiatannya, lalu mengeluarkan ponselnya. Niatnya ingin bermain game untuk mengusir rasa bosannya.
Namun, tiba-tiba saja ponsel di genggamannya berbunyi.
Sarah Calling …
“Halo, assalamu’alaikum.” Salam Kama saat mengangkat panggilan telpon dari Sarah.
“Waalaikumsalam Mas. Mas Kama masih di Jogja?” tanya Sarah dari seberang sana.
“Iya Sar, ada apa?”
“Sedang apa ini?”
“Sedang di rumah sakit, menjenguk teman yang sakit.” Jawab Kama sambil melirik kearah Kila. Kila yang mendengar jawaban itupun hanya diam tidak berani bicara sedikitpun.
“Kamu sudah pulang ngajar?” tanya Kama balik.
Karena sudah siang, dan gadis itu punya waktu menghubunginya. Kama fikir jika pekerjaan Sarah pasti sudah selesai.
“Sudah Mas, baru sampai rumah.”
“Langsung bersih-bersih, terus istirahat.” Ucap Kama lagi.
Kila yang mendengar ucapan Kama, cukup penasaran kira-kira siapa yang menelpon bapak kosnya itu. Tapi Kila buru-buru mengenyahkan fikirannya, mengingatkan jangan terlalu ingin tau urusan bapak kosnya tidak sopan.
“Saya mungkin minggu depan sudah pulang, kamu mau di bawakan apa?” tanya Kama lagi pada Sarah.
“Tidak usah Mas, terimakasih.”
“Bakpia mau?”
“Boleh kalau di bawakan.”
Kama langsung terkekeh, mendengar jawaban Sarah.
“Yasudah nanti kalau saya pulang, saya bawakan bakpia.”
“Iya Mas, terimakasih.”
Kila semakin tidak enak mendengar pembicaraan Kama dengan lawan telponnya. Sepertinya itu perempuan. Kenapa seperti tidak etis sekali jika dia ikut mendengar obrolan mereka.
Kila membuang muka kearah jendela, berusaha mengabaikan sekelilingnya. Di dalam hati dia menggerutu kenapa bapak kosnya itu tidak menerima telponnya di luar saja. Apa dia tidak malu, jika pembicaraan pribadi mereka terdengar oleh orang lain.
“Kenapa kamu?” tanya Kama tiba-tiba.
Kila langsung menoleh, ternyata Kama sudah menutup panggilan telponnya.
“Pak Kama sudah selesai telponnya?” tanya Kila yang pastinya hanya basa – basi karena terlihat jelas jika Kama sudah meletakkan ponselnya berarti laki-laki itu sudah selesai telpon.
Kama berjalan kearah jendela, melihat pemandangan di luar dari balik jendela.
“Sudah, kenapa? Kamu nguping ya tadi?” Ucap Kama dengan santainya.
Kila langsung menatap kearah Kama, dia tidak terima di tuduh melakukan hal tercela seperti itu.
“Ya salah Pak Kama sendiri, kenapa ngangkat telponnya tidak di luar saja. Biar saya tidak dengar,” jawab Kila langsung.
“Ya terserah saja, saya mau angkat telpon di mana saja.” Jawab Kama acuh.
“Ya berarti jangan salah kan saya juga Pak, kalau saya nguping.” Sahut Kila langsung.
Dia juga tidak peduli dengan obrolan Kama, untuk apa nguping sama sekali tidak penting menurutnya.
“Kami juga tidak membicarakan hal rahasia, kamu dengar juga tidak papa.” Jawab Kama lagi dengan santai. Dia yang awalnya berdiri di dekat jendela kemudian kembali duduk ketempatnya semula.
Kila pun hanya diam tidak tau harus menjawab apa.
Keheningan kembali terjadi, Kila berdoa semoga Bu Marni segera kembali agar mereka tidak lama-lama terjebak di suasana canggung seperti ini.
“Emmm, itu tadi adiknya Pak Kama ya?” tanya Kila berusaha membuka obrolan dengan Kama agar suasana mereka tidak terlalu canggung.
“Kalau Tuhan merestui, calon istri saya itu tadi.” Ucap Kama langsung menyangkal dugaan Kila. Kila yang mendengar itu kembali mengangguk, jadi ternyata bapak kosnya itu juga punya pacar.
Kila jadi penasaran jika orang setua Kama pacaran yang mereka lakukan apa. Apa sama seperti para anak muda. Ehhh, tapi Pak Kama itu belum setua itu juga. Tapi juga tidak muda, apa istilah yang pantas untuk bapak kosnya itu. Kila bingung sendiri. Tanpa sadar, Kila terkekeh pelan dan membuat Kama penasaran.
“Kenapa Mbak?” tanya Kama pada Kila.
Kila yang sadar dengan kelakuan tidak sopannya, langsung menghentikan kekehannya.
“Kalau Pak Kama harus pulang, pulang saja. Saya tidak papa disini sendiri,” ucap Kila lagi karena dia tadi sempat mendengar kata pulang dari obrolan Kama. Dia jadi menyimpulkan jika laki-laki itu harus pulang.
“Santai saja, saya tidak sibuk. Nanti pulang sekalian sama kamu Mbak kata dokter sore sudah boleh pulang,” ucap Kama lagi.
Mengingat kepulangannya, Kila langsung meraih dompetnya yang kemarin di bawakan Ema. Dia menarik kartu ATM miliknya dari dalam dompet.
“Pak Kama, nanti kalau mengurus administrasi untuk pulang bisa pakai ini. Disini ada sedikit uang, pinnya 123456.” Ucap Kila sambil menyerahkan kartu ATM-nya pada Kama.
Beruntung kemarin dia baru gajian dan uangnya belum sempat dia gunakan dianya sudah keburu sakit.
Meski rencananya uang itu akan dia gunakan untuk membayar kos dan keperluan lain tapi yasudah lah, biar dia gunakan untuk membayar rumah sakit dulu. Nanti kalau dia sudah sehat akan cari uang lagi.
Kama melihat kartu yang di berikan oleh Kila, namun tak kunjung mengambilnya.
“Memangnya kamu punya uang Mbak?” Kama justru bertanya seperti itu.
Kila mengangguk dengan pelan.
“Ada sedikit Pak,” ucap Kila lirih.
Namun Kama langsung menggeleng.
“Pakai uang saya dulu saja, uangmu pakai untuk keperluan lain selama belum bisa kerja lagi Mbak. Kamu harus istirahat dulu setelah ini. Jangan habis ini langsung gila-gilaan kerja lagi, nanti tumbang lagi.” Ucapan Kama langsung di tolak halus oleh Kila.
“Tidak usah Pak. Saya tidak mau merepotkan Pak Kama,” jawab Kila. Dia tetap memaksa Kama menerima kartu ATM-nya.
“Sejak kemarin kamu juga sudah merepotkan saya Mbak. Harusnya kalau tidak mau merepotkan jangan sakit. Sudah sakit baru bilang tidak mau merepotkan,” kekeh Kama pelan.
Jujur saja dia hanya berbicara santai, tidak mengintimidasi ataupun menyindir Kila. Namun mendengar ucapan Kama, Kila langsung terdiam.
“Iya Pak, maaf kalau saya merepotkan.” Ucap Kila lirih.
“Sudah jangan di fikirkan. Yang penting kamu sehat dulu, urusan yang lain tidak perlu di fikirkan untuk sementara. Biar saya dulu yang tanggung biaya rumah sakitmu. Anggap saja sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai pemilik kos.”
“Tapi saya tidak enak Pak,” ucap Kila lagi.
“Sudah enak-enak saja. Tidak usah seperti itu. Kalaupun bukan Mbak Kila, missal yang lain yang sakit pasti saya akan lakukan hal yang sama. Anggap saja fasilitas kos,” ucap Kama lagi di akhiri dengan kekehan pelannya.
“Saya tetap akan kembalikan uang rumah sakitnya nanti kalau sudah ada ya Pak. Saya tidak terbiasa menerima bantuan cuma-cuma seperti ini.”
“Sudah terserah Mbak saja, bagaimana baiknya menurut Mbak. Atur saja,” Jawab Kama dengan pasrah.
Kama melihat anak kosnya yang satu itu punya harga diri yang cukup tinggi. Dia tidak mau melukai harga diri Kila dengan memberinya bantuan cuma-cuma. Sebenarnya Kama cukup prihatin dengan kondisi Kila, tapi jika gadis itu sendiri yang menolak bantuan darinya dia bisa apa selain menuruti.
* * *