BAB 12: SAYA LANJUTKAN PENCARIAN JODOH SAYA

1841 Kata
SELAMAT MEMBACA *** Tidak menunggu lama, setelah pulang menemui Sarah sore tadi Kama langsung kembali ke Jogja dengan alasan pada Sri yaitu ada anak kosnya yang terlibat masalah. Meski Sri sudah mengatakan kembali besok saja, namun Kama tetap pergi. Dia menghindari semua orang termasuk ibunya sendiri. Belum ada yang ingin di katakan Kama dan dia juga sedang tidak ingin menjawab pertanyaan apapun tentang hubungannya dengan Sarah. Jam di pergelangan tangannya, menunjukkan hampir pukul 12 malam. Dan Kama masih betah menghisap rokoknya sambil duduk di teras kosnya. Mengamati lalu lalang kendaraan yang masih banyak berseliweran meski waktu sudah sangat larut. Udara malam ini sedikit panas, cuaca juga terlihat cerah. Tidak seperti beberapa hari ini jika malam cuaca akan mendung. Tiba-tiba, ingatan Kama kembali pada obrolannya bersama Sarah sore tadi. Flashback On "Kalau Mas Kama serius sama saya. Bisa menerima semua kondisi saya. Dan saya ini calon istri yang di harapkan oleh Mas Kama. Apa bisa kalau kita segera menikah?" Kama tidak langsung menyetujui permintaan Sarah karena ini menyangkut masa depannya. Menikah itu gampang besok kalau dia mau juga bisa menikah tapi seumur hidup itu lama. Banyaknya kasus pernikahan yang tidak enak di dengar di luar sana membuat Kama benar-benar harus memikirkan semuanya dengan matang-matang. Meski di katakan kepepet saat ini, dia memang dalam kondisi kepepet yang harus segera menemukan calon istri. Namun, hal tersebut tidak serta merta membuat Kama tidak memikirkan semuanya dengan matang. Harapnnya menikah sekali untuk seumur hidup, dia tidak mau menghadapi drama-drama panjang setelah pernikahannya ini. Dia ingin hidup tenang dan bahagia setelah pernikahannya. Namun, jika seperti ini bukankah dia seperti akan menghadang masalah kedepannya. Kama menatap Sarah dengan lekat, dia benar-benar penasaran kenapa gadis di hadapannya itu ingin segera di nikahi. Bukankah kemarin mereka sepakat untuk saling mengenal dulu beberapa bulan. Kenapa sekarang berbeda lagi, padahal dia hanya pergi beberapa hari. Fikiran negatif Kama langsung menuju pada apakah jangan-jangan gadis itu tengah mengandung makanya langsung minta di nikahi. Tapi Kama langsung buru-buru menyingkirkan pikiran buruknya. Dia meminta maaf di dalam hati karena sempat memikirkan hal yang tidak beretika pada Sarah. Dia percaya jika gadis itu gadis baik-baik. "Mas Kama jangan salah faham, saya tidak sedang hamil." Ucap Sarah dengan tegas. Dia melihat mata Kama menatap kearah perutnya. Kama yang mendengar itu langsung menggeleng. "Maaf Sarah, kalau boleh tau kenapa kamu ingin kita segera menikah?" Ucap Kama setelah berhasil menguasai fikirannya dari hal-hal yang sempat mengganggunya. Sarah terlihat gugup untuk menjawab. "Apa Mas Kama sudah tau, kalau hubungan kita sudah di ketahui oleh banyak orang?" Tanya Sarah lagi pada Kama. "Ya, saya tau." Jawab Kama santai. "Saya ingin cepat menikah, karena saya ingin memastikan jika kita memang berjodoh. Jadi saya bisa dengan tenang melepaskan masa lalu saya tanpa sedikitpun penyesalan." Kama semakin yakin, jika sebenarnya ada sesuatu yang di tutupi oleh gadis itu. Biar dia perjelas agar tidak membuatnya bingung. “Saya tidak keberatan sebenarnya Sarah jika kita segera menikah. Namun, untuk kasus kita ini jujur saja saya masih ada yang mengganjal. Saya seperti merasa ada yang kamu tutupi dari saya. Apa boleh kalau saya meminta kamu untuk bicara yang sejujurnya, saya tidak mau membuat penyesalan sekecil apapun baik untuk saya ataupun kamu sendiri nantinya.” Sarah terlihat Ragu untuk bicara. “Katakan saja, apapun itu saya bisa menerima dan memahaminya. Tapi tolong, katakan sejujur-jujurnya jangan ada yang di tutupi dari saya.” Ucap Kama lagi. Sarah menghela nafasnya dengan pelan. Sebelum pada akhirnya dia bicara. “Mas Kama maaf, saya meminta kita segera menikah agar saya bisa segera melupakan masa lalu saya. Jika hubungan kita tetap seperti ini, saya merasa sulit untuk membuka hati saya untuk Mas Kama. Jujur saya masih mencintai kekasih saya yang lama. Namun, hubungan kami sempat tidak mendapatkan restu. Saya sadar diri, saya memilih mundur dan melupakan dia. Susah payah saya pergi dan membuka lembaran baru, namun dua hari yang lalu dia datang dan mengatakan jika orang tuanya sudah memberi restu. Saya dilema, di satu sisi saya masih belum bisa melupakan masa lalu saya, tapi di sisi lain semua orang sudah mengetahui hubungan kita. Saya fikir jika saya menikah dengan Mas Kama, semua akan selesai. Meski akan sakit di awal, tapi pada akhirnya saya lambat laun akan melupakan dia dan menjadi istri yang baik untuk Mas Kama.” Sarah menyelesaikan ceritanya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia lalu menatap Kama ingin tau reaksi laki-laki itu. Kama langsung tersenyum sinis setelah mendengar jawaban Sarah. Apa baru saja, jika dia simpulkan dia hanya di jadikan pelampiasan atau apa. Dan apa kata gadis itu, jika menikah dengannya masalah akan selesai. Dia akan melupakan masa lalunya. Itu berarti sekarang belum lupa, dan dia harus menikahi perempuan yang jelas-jelas masih mencintai orang lain dan belum selesai dengan perasaanya. Meski lagi-lagi dia katakan jika dia butuh calon istri segera namun sungguh demi tuhan Kama tidak mau menjadi pihak bodoh yang berperan sebagai penyembuh untuk luka hati orang lain. Menurutnya, urusan hati orang lain bukan tanggung jawabnya sama sekali. Dia tidak ingin menjadi penyembuh, cadangan apalagi pelampiasan. Harga dirinya tidak mengizinkan dia melakukan itu. Dia juga bukan orang baik yang memiliki hati lapang rela menunggu gadis itu dalam melupakan kekasihnya. Maaf saja, jika seperti itu Kama akan dengan sukarela melupakan Sarah detik itu juga. Demi tuhan dia akan lakukan itu. "Maaf Sarah, saya memang ingin menikah. Tapi keinginan saya tidak serta merta mampu merusak kebahagiaan seorang gadis. Jangan menikah dengan saya kalau kamu belum selesai dengan hatimu. Bukankah tadi kamu katakan jika hubungan kalian sudah mendapatkan restu. Dan kalian masih saling mencintai. Jika seperti itu, saya akan dengan suka rela mundur silahkan jemput kebahagian kamu bersama orang yang kamu cintai. Dan lagi, jika kondisi yang kamu maksud adalah saat ini kamu yang masih mencintai kekasihmu, maaf Sarah saya tidak bisa menerimanya apalagi menikahi gadis yang masih memiliki perasaan untuk laki-laki lain. Saya tidak bisa," Ucap Kama pada akhirnya. Sungguh, dia serius dengan Sarah. Tapi dia tidak bisa menerima gadis itu menjadi istrinya jika masih ada cinta untuk masa lalunya. “Tapi bagaimana dengan Mas Kama?” Kama lagi-lagi tersenyum sinis. Bagaimana dengannya, memangnya dia kenapa. Apa dia terlihat menyedihkan, apa jika gadis itu menikah dengan orang lain dunianya hancur. “Bagaimana saya, itu bukan urusan kamu Sarah. Saya ikhlaskan kamu, jangan fikirkan saya. Saya bisa mengatasinya. Saya juga akan jelaskan pada orang-orang jika hubungan kita berakhir. Kamu bisa melanjutkan hubunganmu, sungguh jangan fikirkan saya. Saya akan mencari jodoh saya sendiri, saya tidak ingin mengganggu jodoh orang. Silahkan lanjutkan hubungan kalian, sungguh saya berbahagia untuk kalian.” Ucap Kama dengan bijaknya. Dia tersenyum pada Sarah. Sungguh, kali ini senyum yang menenangkan. Bukan senyum culas seperti sebelumnya. Dia jujur tentang apa yang dia katakan, tidak mau membuat gadis itu terbebani atau apapun itu. Flashback Off "Pak Kama." Kama langsung terkejut ketika tiba-tiba Kila sudah berdiri didepannya dan tengah memanggilnya. Sejak kapan gadis itu ada disana. “Kenapa Mbak?” tanya Kama pada Kila. Gadis itu berdiri di hadapannya dengan membawa piring di tangannya. "Pak Kama melamun?" Tanya Kila lagi saat melihat Kama duduk sendirian dan terlihat melamun Kila pun memutuskan untuk menyapa bapak kosnya itu. Dia merasa heran, bukankah baru pagi tadi bapak kosnya itu pulang kenapa sudah ada disana lagi. "Tidak, Mbak Kila mau kemana?" Tanya Kama lagi berusaha menutupi keterkejutannya dan mengelak dari prasangka gadis itu jika dia melamun. Namun, Kila tentu saja tidak percaya. Tidak melamun, tapi dia panggil dua kali tidak menjawab. "Beli nasi goreng, itu didepan. Pak Kama mau nasi goreng?" Kila berbasa-basi menawari Kama nasi goreng. Kama langsung menoleh ke seberang kosnya. Dia melihat penjual nasi goreng yang ada diseberang kosnya. Sedang sibuk melayani pembeli. Sepertinya itu anak-anak kos putra yang ada di seberang kos miliknya. "Boleh, tolong pesankan sekalian. Saya ambil piring dulu." Ucap Kama lagi. Sebenarnya dia sudah makan malam tadi, tapi makan nasi goreng lagi juga tidak masalah kan. Setelah itu, Kila pergi ke depan kos untuk memesan nasi goreng miliknya dan Kama. Sedangkan Kama sendiri berdiri dan masuk kedalam rumah untuk mengambil piring. Tak lama kemudian Kama datang dengan membawa piring ditangannya. Setelah menunggu antrian nasi gorengnya jadi, Kila yang ingin membayar langsung di cegah oleh kama. “Biar saya yang traktir,” ucap Kama sambil menyerahkan pecahan uang lima puluh libu pada penjual nasi goreng. Kila tidak menolak traktiran Kama, didalam hatinya Kila merasa senang. Lumayan bisa sedikit menghemat. “Terimakasih Pak,” ucap Kila pada Kama. Kama hanya mengangguk, lalu kembali ke kos. Kila yang awalnya ingin makan di kamar di cegah oleh Kama. "Makan sini saja Mbak, tidak enak kalau makan sendiri." Ucapan Kama membatalkan niatan Kila yang ingin kekamar. Kila pun menyambut baik ajakan Kama, merasa tidak enak jika menolak. Karena dia sudah di traktir nasi goreng oleh bapak kosnya itu. "Pak Kama kok sudah datang lagi?" Tanya Kila di sela-sela makannya. "Kenapa memangnya? Tidak boleh?" Bukannya menjawab, Kama justru balik bertanya. "Ya boleh, terserah Pak Kama saja. Tapi kan baru pagi tadi kan pulangnya kok sudah sampai sini lagi. Tidak lebih lama lagi di rumah?" "Ngapain lama-lama dirumah." Jawaban Kama membuat Kila heran. Ngapain katanya, memangnya tujuannya pulang apa kok malah tanya ngapain. "Ya ngapain gitu Pak, ketemu orang tua kan bisa." "Kan sudah." Jawab Kama lagi dengan santainya sambil mengunyah nasi gorengnya. "Ketemu calon istrinya Pak, yang waktu itu telpon." Ucap Kila dengan setengah tertawanya. Bukan bermaksud ikut campur atau lancang dia hanya ingin membuka obrolan. Tidak mungkin kan mereka makan berdua dan saling diam seperti orang musuhan. Jika menunggu Kama yang bicara, Kila yakin jika laki-laki itu memilih diam ketimbang berbasa-basi. "Calon istri yang mana?" Tanya Kama dengan malasnya. Kila langsung menatap Kama dengan herannya. Apa katanya, calon istri yang mana. Ya yang waktu di rumah sakit telpon, memang yang mana lagi. Dan ada berapa memangnya calon istri bapak kosnya itu. "Maksud Pak Kama bagaimana? Ya yang waktu di rumah sakit telpon itu kan." Ucap Kila dengan herannya. Bingung dengan maksud bapak kosnya yang tidak jelas itu. "Ingat tidak Mbak, waktu itu saya bilang apa?" Kila mengingat-ingat, apa yang di katakan oleh kama waktu itu. Tapi dia sama sekali tidak ingat. Kila hanya menggeleng. "Jika tuhan mengizinkan, dia calon istri saya. Dan ternyata tuhan tidak mengizinkan." Ucap Kama dengan santainya. Bahkan kelewat santai sampai-sampai Kama justru tertawa di akhir kalimatnya. Kila menatap Kama dengan bodohnya, apa baru saja bapak kosnya itu memberi informasi jika hubungannya kandas. Atau bagaimana, kenapa justru terlihat senang. Bukan kah wajarnya orang yang baru saja putus cinta itu sedih dan merana. Tapi bapak kosnya ini tidak terlihat seperti itu. Sedangkan, Kama yang melihat wajah bengong Kila lagi-lagi hanya tertawa. "Tidak usah berwajah bodoh seperti itu, bukannya menggemaskan malah seperti orang kurang kamu Mbak." Kekeh Kama lagi. "Pak Kama putus?" Tanya Kila spontan. Dia langsung menutup mulutnya, merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya mulutnya begitu lancar menanyakan hal seperti itu pada bapak kosnya itu. Apa tidak di usir dia kalau bapak kosnya itu sampai tersinggung. Tau sendiri, biasanya orang putus cinta akan sangat sensitif perasaanya. Kama langsung mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Kila. "Kenapa?" Ucap Kila lagi spontan. "Memang tidak jodoh. Mau di apakan?" “Lalu?” “Lalu apa? Ya saya lanjutkan pencarian jodoh saya.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN