Mengurai selaksa kepedihan, Rintih mata teteskan air jernihnya, Membingkainya dalam ungkapan tak terhenti jiwa yang nestapa, Ria girang tawa bibirnya, Gemerlapan penuh cahaya di sudut matanya, Memancar binar indah rona wajahnya, Gelik tubuh lincah mengguncah di bagian lain tubuhnya, Sementara bisu semakin membatu, Bibir membeku, Tak tergerak, Kaku,dan seolah enggan berkata, Hanya tangis yang kau ungkapkan, Hanya sedih yang kau tunjukkan, Terus berjingkrak dan melompat, Dunia seakan berguncang, Menjerit, Membentang lebar gelak tawanya, Mmengajak bumi untuk menari dalam gembira yang terkira itu, Dua sisi alur yang berbeda, Dua sisi cerita yang pasti akan kita alami, Entah kapan datangnya bahagia, Bilamana sedih itu tak kunjung beranjak, Tak bijaksana menunggu dan berdiam menanti kedua c

