Gildaft menatap sosok Madam Yudea yang tampak begitu kacau dan putus asa dengan perasaan yang begitu sulit digambarkan, di pikirannya terselip sedikit keraguan untuk terus melanjutkan rencana penghancuran kerajaan makhluk immortal, tapi dengan cepat dia tepis pemikiran itu. Perlahan Gildaft ikut duduk di lantai, Demon itu menyentuh pipi kekasihnya dengan lembut, dipenuhi oleh kasih sayang. Satu-satunya sisa kebaikan dalam diri Gildaft. "Yudea... aku mohon, ikutlah denganku," bujuk Gildaft dengan nada bicara yang amat tulus, sangat bertolak belakang dengan sikapnya selama ini. "Maafkan aku, Gildaft. Kamu tahu bahwa itu mustahil, kenapa kamu masih saja memaksa?" balas Madam Yudea lemah, hal ini sudah mereka bahas puluhan kali. "Karena aku mencintaimu! Kapan kamu yang akan mengerti Yudea!?

