Jingga mengutuk orang yang mengganggu acara menonton tinjunya. Tapi Jingga tetap berjalan menuju pintu. Bisa saja itu Langit yang datang ingin menginap atau mungkin minta makan? Jingga membuka pintu dengan pelan, seseorang di depan pintu langsung ambruk di pelukannya. Bukan Langit, melainkan Bara. Dengan penuh perjuangan, Jingga menyeret tubuh Bara menuju sofa, dan cowok itu terlihat sangat berantakan. Dari mulutnya juga tercium bau alkohol. Bara meringis, memeluk tubuh Jingga semakin erat. “Gue nyakitin Luna...” Hanya itu kata-kata yang terus Bara ucapkan. “Nyakitin gimana?” Cowok itu tak menjawab, malah terus memeluk Jingga. Gadis itu sampai sesak napas, udaranya tertahan. “Gue nyakitin Luna!” Kali ini Bara berteriak dan berdiri dari sofa. Ia berjalan lunglai kemudian dengan ke

