1. Do'a Restu

1536 Kata
Sena Prasinta Putri anak tunggal dari pasangan Windiarni dan Farchan. Sena dibesarkan dengan penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya. Farchan yang merupakan seorang CEO perusahaan distribusi makanan ringan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Satu tahun yang lalu Sena telah menamatkan pendidikan S1 akuntansi di Universitas ternama Jakarta dengan meraih predikat cumlaude dan merupakan sebuah kebanggaan bagi Sena serta kedua orang tuanya saat itu. Saat ini Sena sedang bekerja di sebuah perusahaan tekstil dan menjabat sebagai admin produksi. Sebenarnya tanpa Sena bekerja di tempat lainpun papanya telah mempersiapkan satu jabatan untuk anaknya di perusahaannya yang dia rintis sejak muda, tapi Sena bersikeras untuk hidup mandiri dengan bekerja di tempat lain. Farchan dan Windiarni akhirnya mengabulkan permintaan sang putri semata wayangnya karena bagi mereka yang penting adalah kebahagiaan sang putri. Enam bulan bekerja di perusahaan tekstil ini membuat Sena mengenal seorang lelaki bernama Mikko yang juga bekerja di perusahaan ini di bagian produksi. Setiap perhatian kecil yang diberikan oleh Mikko membuat Sena merasa nyaman hingga mereka bersepakat menjalin kasih dan ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius. Suatu ketika sepulang kerja Sena mengajak Mikko untuk bertemu dengan kedua orang tuanya di rumahnya. Windiarni dan Farchan terlihat sedang bercengkrama di teras rumah mereka sambil nyemil pisang goreng buatan Mbok Diyem tetangganya. Sesekali Farchan menyeruput tehnya untuk menghilangkan dahaga. "Mama, papa, Sena pulang." teriak Sena yang telah berada di halaman rumahnya dan sedang bersama seorang lelaki berkulit sawo matang dengan kumis tipis dan rambutnya sedikit gondrong mengendarai sepeda motor bututnya. "Sena Sayang sudah pulang?" Windiarni menyambut kedatangan putri kesayangannya. "Mama papa Sena mau kenalin seseorang kepada kalian, kenalkan ini mas Mikko teman dekat Sena. Mas Mikko kenalkan ini mama sama papa aku." Mikko tersenyum kepada kedua orang tua Sena kemudian mengulurkan tangannya. "Mikko tante, om." Windiarni memperhatikan penampilan Mikko dari ujung rambut hingga ujung kaki dan entah kenapa seakan timbul rasa tidak suka saat itu. Kemudian mereka berempat menuju ruang tamu, Windiarni dan Farchan duduk berdampingan di satu sofa sedangkan Sena dan Mikko duduk saling berhadapan di sofa yang lainnya. "Om tante maksud kedatangan saya ke sini saya ingin meminta do'a restu kepada om dan tante untuk menikahi Sena anak om dan tante." ucap Mikko kemudian memecah keheningan. "Apa? Kamu mau menikahi anak saya? Memangnya kamu kerja dimana mau menikahi anak saya? Apa kamu bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anak saya nanti dengan kondisi diri kamu saja seperti tidak terawat seperti ini?" ucap Farchan dengan tatapan sinis. "Saya bekerja di bagian produksi tekstil tempan Sena bekerja om, memang saya sekarang belum mapan tapi saya janji akan membahagiakan putri om." terang Mikko. "Sena, Sena, Sena tolong pikirkan baik-baik Sayang,!! Menikah itu ibadah yang paling lama, mama akan lega jika kamu menikah dengan orang yang tepat, kita harus lihat bibit, bebet dan bobotnya juga. Mama tidak ingin kamu hidup kekurangan" Windiarni berjalan menuju tempat Sena duduk dan mengusap punggung anaknya. "Mama kamu betul itu Sena." Farchan menimpali ucapan istrinya. "Ma pa kita jangan melihat seseorang dari tampilannya,! Sena dan mas Mikko saling cinta dan kami sepakat akan memulai hidup dari nol ma, pa. Jadi izinkan Sena menikah dengan mas Mikko,!" Sena memegang tangan Windiarni kemudian menatap Farchan dengan tatapan memohon. "Kalau kamu mau menikah nanti papa kenalkan kamu sama anak kolega papa yang sudah jelas bibit, bebet dan bobotnya nggak kaya Mikko ini yang penampilannya kucel. Memangnya kamu sanggup pergi kemana-mana hanya dengan motor butut itu?" "Pa aku mohon pa jangan hina mas Mikko lagian mas Mikko baik pa orangnya dan selalu perhatian pada aku. Aku mohon pa kasih kami restu,!" titah Sena yang saat itu berjalan menuju sofa yang Farchan tempati kemudian memeluk lelaki paruh baya yang rambutnya sudah ditumbuhi uban itu sambil menangis. Farchan dan Windiarni saling berpandangan. Melihan Windiarni yang pasrah memejamkam matanya akhirnya dengan terpaksa Farchan memberikan restu kepada Sena dan Mikko. Farchan paling tidak tega jika melihat Sena menangis seperti ini. "Ya udah deh iya papa restui kamu menikah sama lelaki ini. Mikko sampai kamu tidak bisa membahagiakan anak saya awas saja ya om tidak akan tingal diam." ancam Farchan kepada Mikko. "Mikko janji om akan berusaha membahagiakan Sena." "Baiklah kalau gitu segera ajak kedua orang tuamu kesini kita tentukan tanggal pernikahan kalian." titah Farchan. "Iya om saya akan segera datang ke sini bersama kedua orang tua saya untuk meminang Sena." Setelahnya itu Mikko berpamitan pulang pada Farchan dan Windiarni kemudian berniat mencium tangan kedua orang tua Sena tapi Farchan tidak menghiraukan uluran tangan Mikko. *** "Ananda Mikko Sahputra bin Suparlan saya nikahkan dan kaeinkan engkau dengan Sena Prasinta Putri binti Farchan dengan mas kawin berupa uang sejumlah dua juta lima ratus dua puluh dua ribu dua ratus rupiah tunai." seorang penghulu yang duduk berhadapan dan memegang dengan erat tagan mempelai pria mengucapkan kalimat ijab. "Saya terima nikah dan kawinnya Sena Prasinta Putri binti Farchan dengan mas kawin tersebut tunai." dengan lantang dan tanpa rasa gugup Mikko mengucapkan akad qobul. "Bagaimana saksi?" penghulu tersebut menanyakan pada kedua saksi yang duduk di samping kiri dan kanan kedua mempelai. "Sah." ucap salah seorang saksi yang kemudian ditirukan dengan yang lain. "Alhamdulillah selamat ya kalian sudah resmi jadi sepasang suami istri semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah." ucap penghulu tersebut. Sena mencium punggung tangan lelaki yang baru saja sah jadi suaminya kemudian dilanjutkan Mikko menyematkan cincin kawin di jari Sena dan mencium kening sang istri. "Sena selamat ya, Sayang." Windiarni menjabat tangan anaknya, menciumi kedua pipi Sena dan memeluknya sesaat. "Makasih ya ma, pa, makasih ya." Sena kini beralih pandangan pada Farchan yang berada disebelah Windiarni, kemudian mengecup puncak tangan papanya dan memeluknya sesaat. Semua tamu-tamu yang hadir kini sedang menikmati hidangan makanan dan minuman yang telah disediakan, ada soto khas betawi, sop iga, sambal goreng hati, rawon, sate, bakso, jus alpukat, jus tomat, es janggelan, sop buah, dan beberapa macam buah sebagai menu pelengkap . Semua jamuan makanan dan minuman tersebut sudah tersaji di beberapa meja yang dibalut dengan kain putih nan bersih. . Beberapa kolega bisnis Farchan berjejer-jejer untuk memberikan ucapan selamat dan menyalami Farchan yang berdiri disamping istrinya dan juga menyalami kedua mempelai yang posisinya berada ditengah diapit oleh kedua orang tua mereka. Senyum merekah terpancar dari kedua mempelai di hari bahagia mereka. "Sena bebs selamat ya sekarang sudah menyandang status jadi seorang istri, semoga selalu bahagia dan segera kasih aku keponakan yang cantik dan ganteng." ucap Tasya yang berhambur memeluk sang sahabat yang terlihat cantik dengan balutan make up natural dan gaun pengantin berwarna putih tulang dengan hiasan manik-manik di bagian d**a dan rambut yang disanggul modern membuat Sena terlihat sangat anggun. "Makasih ya bebs aku do'akan kamu segera ketemu jodohnya dan segera nyusul aku." Sena melepas pelukan sahabatnya kemudian mereka berpelukan kembali sekilas. "Tante Windi selamat ya tan." Tasya menjabat tangan Windiarni kemudian memeluk tubuh wanita paruh baya yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. "Makasih Tasya sayang, tante do'akan kamu nanti dapat jodoh yang baik nggak seperti Sena." ucap Windiarni sedikit berbisik pada Tasya. Tasya saat itu hanya mengerutkan keningnya tidak paham dengan maksud Windiarni. "Om Farchan selamat ya om." kini Tasya beranjak ke arah Farchan dan menjabat tangannya. Tasya mengambil sepiring rawon dan segelas jus alpukat kemudian duduk di sudut ruangan yang terdapat hiasan bunga-bunga dibagian dinding-dinding belakang kursi yang Tasya duduki. Sena yang terlihat payah karena dari tadi berdiri menjamu tamu akhirnya memutuskan untuk mencari tempat duduk dan mendapati Tasya yang sedang menyantap rawon di sudut ruangan kemudian dia meraih segelas jus tomat untuk mengurangi dahaganya dan melangkah menuju arah sang sabahat berada. "Tasya." teriak Sena yang berjalan menuju sudut ruangan. "Hey, duh senangnya pengantin baru auranya itu lo kerasa banget." Tasya berdiri sejenak meraih kursi kosong di sebelahnya untuk diberikan kepada Sena. "Iya aku senang banget akhirnya aku bisa menikah dengan mas Mikko pria yang selama ini aku cintai." ucap Sena dengan mata berbinar. "Eh Sen tapi kenapa ya tadi tante Windi aneh banget pas aku kasih ucapan selamat dan aku peluk." cicit Tasya sambil meneguk jus alpukan yang ada di meja. "Maksudnya Sya aneh gimana?" "Iya jadi waktu aku peluk tante Windi tadi, tante Windi itu bilang kalau tante akan do'akan aku agar nanti aku dapat jodoh yang baik nggak kaya kamu Sen. Memangnya ada salah apa sih Sen Mikko kok sampai tante Windi sepertinya nggak suka sama Mikko." ucap Tasya sambil menirukan ucapan Windiarni kepadanya tadi. "Sebenarnya mama papa aku itu awalnya memang tidak merestui pernikahan aku sama mas Mikko Sya karena mas Mikko hanya dari keluarga biasa. Mama papa aku inginnya aku menikah dengan anak teman kolega papa yang memiliki latar belakang dari kelyarga yang terpandang, tapi aku bersikeras untuk tetap ingin menikah dengan mas Mikko karena aku nyaman sama dia, mas Mikko juga selalu perhatian sama aku, Sya." terang Sena yang pelupuk matanya sudah dipenuhi kabut tapi dengan sigap Sena meraih tissue di meja guna menyerka air matanya agar tidak jatuh. "Sen aku turut prihatin ya dengan kisah cinta kamu, aku do'akan Allah bukain pintu hati tante Windi sama om Farchan agar bisa menerima Mikko sebagai menantunya. Tidak ada yang namanya orang tua akan selamanya membenci seorang anak apalagi status mikko sekarang juga sudah resmi jadi suami kamu, hanya butuh waktu saja kok Sen jadi kamu harus sabar ya." Tasya melontarkan sebuah kalimat penyemangat untuk Sena kemudian memeluk sahabatnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN