“Aw… pelan-pelan…” Hikaru meringis, luka di sudut bibirnya tengah diberi obat. “Katanya jagoan, masa diberikan obat luka saja kamu meringis,” ledek Eiko. “Iya tetep saja perih,” keluhnya. “Sudah diam, nanti nenek bangun lagi.” “Oh iya benar juga,” kini ia berusaha menahannya. “Hikaru, apakah kamu juga percaya kalau Bilal tidak melakukannya?” “Apakah kamu lupa? Bahwa dia tidak melakukannya? Kamu kemarin bilang itu waktu kita pulang dan aku balik lagi karena itu memang harus diluruskan. Dan aku setuju sama kamu.” “Hehe… anak baik.” Puji Eiko sambil hendak mengelus kepala Hikaru. “hei… kamu bukan nenek, jangan sentuh aku seperti itu.” Hikaru menghindar. “Pokoknya kamu jangan berkelahi lagi.” Pesan Eiko. “Iya…” jawabnya masih dengan sedikit meringis. “Oh iya, apakah kamu sak
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


