Sebuah video viral tersebar seantero sekolah. Video yang berdurasi dua menit tersebut menampilkan sosok pahlawan yang sedang menolong seorang paruh baya. Ya! Dia adalah Hikaru Gandagi Dewata. Pertolongan pertama yang ia lakukan pagi tadi sudah menyebar luas di sekolahnya.
“Keren banget…” salah seorang murid perempuan berkomentar.
“Ada apa? Kalian sedang melihat apa?” diantara mereka saling menimpali dan membagi informasi segar pagi ini.
“Ini coba kamu lihat, Hikaru…” ia menceritakan apa yang ada dalam video tersebut, “dia benar-benar keren bukan?” salah seorang lainnya memuji.
“Kok bisa ya Hikaru sebaik hati ini, aku semakin terpesona dengannya,” ia memandang tanpa berkedip layar datar yang ada di tangannya.
“Hei Lu, selagi gue ngomong baik-baik, sebaiknya lu, lupain Hikaru,” temannya menginterupsi dengan berkata sinis, seolah tidak boleh ada yang menyukai Hikaru selain dirinya.
Hikaru adalah sosok pelajar yang sangat populer di kalangan siswa perempuan. Ia memiliki perawakan tidak tinggi, namun masuk dalam tim inti pemain basket sekolah. Wajahnya putih menentramkan, matanya sedikit sipit khas oppa-oppa Korea, dan tentu saja hidungnya mancung mirip Amir Khan.
Selain fisiknya yang bisa memanjakan mata perempuan, ia juga pintar dalam hal akademik. Ia selalu menjadi nomor satu di kelasnya. Walaupun tidak menjadi juara umum di sekolah, itu sudah sangat cukup membuat para perempuan terlihat lemah dan tak berdaya di hadapannya.
“Hey Dini, lu gak boleh suka sama Hikaru!” Arika mengeluarkan segepok uang untuk Dini yang sejak tadi begitu terpesona dengan Hikaru.
Dini tercengang melihat lembaran uang berwarna biru yang diprediksi berjumlah lima ratus ribu rupiah.
“Gak,” teman Dini yang sejak tadi melihat video, melawan Arika “Nih, gue serahin semua isi dompetnya buat lu Din, supaya lu gak suka sama Hikaru!” balasnya, tak ingin kalah dengan Arika. Namanya Dian.
Arika dan Dian bertatapan tajam, saling memperebutkan Hikaru.
“Gue denger, lu kemarin membuntuti ‘suami gue’ ngapain lu? Takut ya kalau ketahuan orangnya?” dengan mata menyipit dan mulut julid Dian mengungkit sisi gelap Arika. Suamiku yang dimaksud Dian adalah Hikaru, laki-laki yang sangat ia sukai, sama dengan Arika.
“Lu gak perlu ikut campur urusan orang!” balas Arika, sengit.
“Oh ternyata begini ya sifat asli dari siswi terbaik, apakah masih bisa dikatakan siswi terbaik kalau kerjaannya nguntit?” tambah Dian semakin sengit.
Dini yang berada di tengah-tengah Arika dan Dian semakin kikuk. Untungnya kejadian itu tidak berlangsung lama. Kelas tiba-tiba hening sejenak tatkala Hikaru datang.
Dengan kemeja yang rapi tanpa almamater yang biasa dipakai, tas yang digendong di bahu kanannya, dan buliran keringat di dahi, membuat terpana siswa perempuan seisi kelas.
Ia menyimpan gadget di kotak yang telah disediakan lalu duduk di tempatnya. Disana telah menumpuk berbagai hadiah dari para fans yang tentu saja menyukai dirinya. Semua mata para siswi tertuju pada Hikaru.
“Hikaru…” panggil Arika, “Ini!” ia menyodorkan sapu tangan, senyumnya mengembang, matanya berbinar, berbanding terbalik dengan sebelumnya yang begitu sinis pada Dian.
Dian tidak ingin kalah, ia menyodorkan satu bungkus tisu untuk sang pujaan hati.
Namun, Hikaru mengabaikan keduanya. Sudah biasa ia lakukan, ia tidak suka digemari banyak para siswi, dan lebih baik mengabaikan semuanya.
Hikaru berdiri dari duduknya, membereskan hadiah-hadiah yang bertumpuk, lalu memindahkan ke loker yang berada tepat di belakang mereka.
“Hai teman-teman, siapa yang belum sarapan, silahkan ambil!” Hikaru sudah menyangkanya kalau isi dari hadiah-hadiah itu berupa cemilan atau sarapan ringan. Siswa laki-laki di kelas itu bergegas menuju loker, berebut hadiah milik sang pemuda tampan itu. Para siswi hendak protes, namun keburu guru datang dan kelas langsung kondusif seketika.
Pelajaran tengah berlangsung dengan baik, aman dan tentram, sama seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Di tengah ketenangan tersebut, tiba-tiba pintu terbuka tanpa ada yang permisi.
Seorang perempuan dengan gaya glamor masuk ke dalam kelas. Tas tangan dengan merk terkenal ia pegang dengan anggun, dua anting besar bergantung di telinganya, dan satu bros bunga dengan warna emas terkait di ujung kerah pakaiannya. Konsentrasi pecah seketika, terutama Arika. Ia tidak bisa menyembunyikan raut kagetnya. Dia adalah ibunya yang bernama Maira.
“Apakah siswa yang bernama Hikaru ada di kelas ini?” tanpa basa-basi, Maira, ibu yang berpakaian glamor itu bicara.
“Ibu Maira, iya a… ada apa?” Pak Hafsa dengan suara bergetar mencoba bertanya dengan sesopan mungkin. Namun tidak ditanggapi oleh Maira.
Dengan gentlemen, Hikaru berdiri.
“Ada apa?”
“Hikaru…” dengan nada merendahkan, Maira melangkah mendekat dan menatap mata pemuda penuh pesona itu dari atas hingga bawah, memang tampan, namun semuanya salah dan buruk di mata Maira. Dengan mendongakkan kepalanya, Hikaru membalas tatapan tajam Maira dengan penuh keberanian.
“Kamu berani-beraninya mendekati Arika! Punya apa kamu? Jangan hancurkan masa depan anak saya! Sampai dia berani mengikuti kamu seharian, apa yang telah kamu lakukan pada Arika?” tatapannya galak dan dengan nada sangat merendahkan ia mencecar pemuda penuh pesona dan percaya diri itu.
“Saya tidak pernah mendekati anak Ibu, asal Ibu tahu, Saya tidak pernah jatuh cinta, dan saya tidak pernah menyukai Arika!” balas Hikaru dengan tegas.
“Tidak mungkin, apalagi kamu bersekolah di sekolah yang mahal seperti ini, punya uang dari mana kamu? Pasti kamu mendekati Arika hanya untuk mencari hartanya saja!” perkataannya semakin pedas dan menyakitkan.
Di tengah cecaran itu, tanpa ragu seisi kelas mengeluarkan handphonenya untuk merekam peristiwa yang sangat langka seperti ini. Padahal HP mereka telah dikumpulkan, tapi mengapa masih bisa merekam?
“Ingat bocah tengik. Kamu tidak boleh merayu putriku, dan kamu harus menjadi nomor dua, kamu tidak boleh mengalahkan putriku,” jelas sudah apa yang diinginkan Maira sebenarnya. Ia tidak ingin ada satu orang pun yang mengalahkan anaknya.
“Memangnya mau kasih makan apa jika kamu tidak punya apa-apa? Jadi sebaiknya kamu tidak usah suka pada Arika!” tegasnya sekali lagi.
“Ibu!” Arika menyela memanggil ibunya, “Hentikan!” pintanya dengan raut sangat malu.
“Diam kamu! Dia yang telah merubahmu jadi seperti ini! Berani melawan ibu seperti ini,” matanya mengerling, membentak anaknya sendiri di depan teman-temannya.
Warga kelas makin asik merekam.
“Hentikan! Hentikan semuanya, dan simpan HP kalian!” Pak Hafsa coba melerai apa yang terjadi pada saat itu, serta memerintahkan para murid untuk menyimpan kembali HP yang dipegangnya.
Dengan patuh, para siswa menyimpan HPnya.
“Heran. Padahal kalian sudah menyimpan HP di kotak, mengapa masih ada HP di tangan kalian?” Pak Hafsa membentak dan berkacak pinggang memegang kendali kelas.
“Pak Hafsa, kamu sebagai seorang guru tidak boleh seperti itu, membiarkan bocah seperti dia mendekati putri saya.” Maira mengintimidasi dengan julid.
“Ibu sudahlah, semuanya salah aku, aku yang mengikuti Hikaru, aku yang menyukainya.” Arika mengaku, lalu berlari keluar kelas karena malu dengan ibunya.
“Kurasa Arika tidak sama denganmu, setidaknya dia masih memiliki rasa malu,” ucap Hikaru penuh dengan kelugasan.
Maira menyusul putrinya keluar, masih dengan gaya sinis, angkuh dan sombong. Tidak merasa salah sedikitpun.
“Hikaru, kamu ikut saya ke ruang guru,” ucap Pak Hafsa, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “masalah baru, haduh…” keluhnya.
POV EIKO
Perempuan dengan pakaian serba hitam itu tengah bersembunyi di sebuah bioskop, duduk paling belakang dan tanpa tiket. Tentu, dengan kemampuannya bisa menghilang, berpindah tempat yang tak terikat ruang dan waktu, serta tidak terlihat oleh mata manusia, maka untuk bisa berada di ruang bioskop, akan terlihat mudah baginya. Eiko duduk di belakang, namun layar besar di ruangan tersebut masih sangat jelas ia lihat.
“Untuk apa kamu melihat film-film seperti ini? Kamu melakukan ini hanya akan menghabiskan waktumu saja,” sebuah suara misterius terdengar berbisik di sampingnya. Eiko tidak bergeming, ia tetap menyimak tayangan yang sedang berlangsung.
Dalam tayangan itu, sedang terlihat adegan pertengkaran sepasang kekasih, lalu pertengkaran itu berakhir dengan pelukan dan sebuah kecupan.
“Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, dicintai, benci dan menangis itu seperti apa,” ucap Eiko tanpa menoleh dari mana sumber suara, Eiko fokus pada tayangan menangis di layar.
“Cerita mereka sama saja seperti itu, hanya berganti pemainnya saja, buat apa kamu melihatnya? Dunia kita berbeda,” tambahnya.
“Mereka sadar pada akhirnya akan berpisah, tapi mengapa mereka masih menjalani hubungan itu? Padahal tahu, mereka akan mati, mengapa mereka tetap ingin hidup? Dengan melihat itu aku jadi tahu sedikit bagaimana rasanya jadi mereka,” tambah Eiko yang sama sekali tidak menggubris pernyataan suara di sampingnya.
“Dengan menjadi mereka kamu tidak akan memiliki waktu tenang, manusia selalu gelisah dan tidak pernah puas…”
“Stop. Terimakasih.” Eiko menghentikan ucapan suara misterius itu, seolah mereka memang saling mengenal.
“Jangan campuri urusan manusia, uruslah urusanmu dengan baik,” tutup suara misterius itu.
“Jangan campuri urusan manusia? Memangnya aku apa?” Eiko menengok ke sumber suara, kali ini ia tertarik dengan pernyataan si misterius.
Namun sayang, pemilik suara cukup lembut itu telah menghilang.
“Jangan campuri urusan manusia?” Eiko mengulang pertanyaannya sendiri.
“Kalau bukan manusia, lalu aku apa?”