Daftar Panggilan

1273 Kata
“Keyri…” Eiko berlari mendekati malaikat berhati dingin itu. “Keyri, kenapa kamu menghindariku?” teriaknya. “Eiko… tunggu…” teriak Hikaru dan mengejar gadis polos itu perlahan. Keyri kembali menghilang kala Hikaru mendekat. “Keyri…” panggil Eiko lagi. Sekarang malaikat penjemput orang mati itu ada di atas pohon, Eiko melihat dan mendekatinya lagi. “Keyri kenapa kamu gak mau ketemu aku?” Keyri pergi, tidak menggubris pertanyaan Eiko. Setelah itu Eiko pingsan. “Kenapa sih ini anak, tidur gak tahu tempat kaya gini, jangan-jangan sejak siang kamu tidur di jalan, akh,” ia menghentakkan kakinya ke tanah. Dengan susah payah ia menggendong gadis polos itu sampai ke rumah, masih dengan berat badan yang sama, tidak terlalu ringan tidak terlalu berat. “Jangan sampai kamu tidur dan ditemukan orang lain,” gerutunya sepanjang perjalanan. Sampai di rumah, Hikaru membawa Eiko ke kamarnya, ia tidak ingin membangunkan Hanan yang pasti sudah terlelap tidur. “Kamu jatuh dimana sih, sampai bau kaya gini,” gerutunya lagi. Kemudian ia bergegas membawa air untuk membersihkan rambut dan wajah Eiko. “Imut, cantik…” tiba-tiba bergetar dan menghangat hati Hikaru. “Kamu demam juga…” ia memegang dahinya, Eiko berkeringat, panasnya tidak terlalu parah, “Apakah kalau terlalu capek kamu akan terus seperti ini? Tidur sembarangan dan demam? Ini adalah kali kedua, bukannya jagain aku, malah sebaliknya, kamu merepotkan sekali.” Hikaru terus menggerutu. Eiko membuka mata, melihat sekeliling bukan di tempat biasanya, “Mengapa aku ada di sini?” “Sudah ku bilang aku tidak ingin membangunkan nenek, tidur, dan istirahat saja disini, semoga besok sudah lebih baik.” “Iya.” Hikaru menyimpan handuk dingin di dahi Eiko untuk menurunkan demamnya. “Kamu seperti dokter pribadi aku sekarang,” celotehnya dengan senyum paling manis, namun matanya masih tertutup lelah. “Sudah. Tidurlah, jangan banyak bicara,” seketika Eiko langsung terlelap lagi. Hikaru pergi ke apotek 24 jam untuk membeli obat, Eiko masih belum bangun dari tidurnya, lalu ia menyimpan obat dan minum di samping tempat tidur. “Harusnya aku senang jika ingatanmu kembali, tapi kenapa aku jahat jika aku berpikir dan senang kamu seperti ini saja?” bisiknya dalam hati, “Jangan sakit lagi Eiko.” Hikaru meninggalkan Eiko dan pergi tidur di sofa. Keesokan paginya. Cahaya matahari di kamar Hikaru masuk menyorot tepat pada tempat tidur Eiko, dan membuatnya terbangun. Dilihatnya obat yang harus ia minum, namun ia meninggalkannnya dan langsung keluar mencari Hikaru. “Tidur dimana dia?” lirihnya. Ia langsung berdiri dan keluar mencari sosok Hikaru. Dari atas, ia melihat pemuda yang telah menolongnya terlelap tidur di sofa. Ia membawakan selimut dan menutupnya. Ia tersenyum sendiri. Hari belum terlalu siang untuk berangkat sekolah, ia masih bisa siap-siap dan membereskan apa yang biasanya ia lakukan, termasuk mempersiapkan toko. Hari ini cuaca sangat cerah, Eiko menikmati udara di belakang rumah sambil menjemur pakaian. “Apakah demammu sudah sembuh?” Hikaru mengagetkan Eiko yang sedang meregangkan badan. “Sudah, bahkan sudah segar seperti ini, sudah beres-beres rumah dan mencuci pakaian,” jelasnya cukup panjang. “Coba aku cek…” Hikaru mendekat dan siap menempelkan tangannya di dahi Eiko. “Eits… jangan! Jangan kamu sentuh aku!” tolak Eiko, menghadang dirinya dengan dua tangan. “Kenapa kamu bertingkah seperti itu di depanku? Apakah aku perlu menempelkan kakiku di dahimu?” Hikaru mengangkat sebelah kakinya tepat di wajah Eiko. “Enggak!” Eiko menepis kaki Hikaru dengan tangannya, “Tidak-tidak-tidak. Jangn coba-coba kamu!” protesnya. “Kamu kenapa sih?” gerutunya memanyunkan bibir, gemas sekali melihatnya. “Hei… Eiko, kalau aku kasih kamu ini mau?” Pemuda itu mengeluarkan sebuah gawai berwarna merah muda. “Apa itu? Apakah itu punya ku? Itu buat aku Karu?” tanyanya penuh antusias. “Masih belum, ini akan menjadi milikmu kalau aku berikan HPnya langsung ke kamu,” “Hah? Maksudnya?” Hikaru naik ke atas pagar. “Kalau kamu mau, ambil sini, sebelum aku lempar.” “Aku mau!” teriak Eiko antusias. Dengan mata mengedeip-ngedip manja, dan tangan yang menengadah pada Hikaru, ia merayu, “Berikan pada ku Karu!” “Nih…” Karu kalah, melihat tingkah imutnya Eiko ia tidak tahan melihatnya. “Ini keren banget. Apakah ini gratis untukku?” dengan gigi-giginya yang rapi ia bertanya berseri kegirangan. Ia membolak-balikan HP baru yang diberikan pemuda penuh karisma itu. Benda pipih berwarna merah muda dengan tiga kamere di pojok kanannya. Lantas ia mencoba memijit tombol dan cara memakainya dengan polos tanpa pengetahuan. “Enak saja gratis, mana ada di dunia ini yang gratis. Kamu harus mengangkat telepon aku, kalau tidak, aku ambil lagi HPnya.” “Benar-benar kamu pelitnya minta ampun,” ucapnya, manyun dengan mata mendelik. “Pelit? Siapa kemarin yang pergi dan gak nelpon sama sekali? Pulang-pulang udah kaya zombie, untung gak ada yang nyulik.” Eiko tidak memedulikan ceramah Hikaru, ia lebih antusias melihat HP yang baru saja ia pegang. “Jadi ini kamera yang biasa manusia pakai, coba ya aku ambil gambar mu Hikaru…” Satu, dua, cekrek, satu, dua, cekrek, beberapa kali ia menjepret. “Hapus!” Hikaru tidak suka diambil gambarnya, “Hei… Eiko, hapus gak?” ia berusaha untuk merebut HPnya kembali. “Ternyata menyenangkan ya mengambil gambar orang.” Eiko berusaha menghindar dan tetap mengambil gambar Hikaru. “Kembalikan!” akhirnya ia mendapatkannya, dan langsung menghapus gambar tidak jelas bahkan blur, tidak ada gantengnya sama sekali. “Biarkan saja, untuk kenang-kenangan kalau aku sudah tidak ada,” gadis itu menekuk bibirnya ke bawah. “Hah…” Hikaru membuang nafas kasar, “Ya sudah sini!” ia mengajak Eiko untuk berfoto bersama. “Senyum,” pinta Hikaru, tapi gadis itu masih cemberut. “Ayo senyum! Hii…” Hikaru sampai melebarkan bibir Eiko dengan tangannya supaya ia tersenyum. “Nah gitu…” Eiko mulai tersenyum, lalu dirangkulnya bahu gadis itu sampai salah tingkah. “Satu… dua… tiga…” beberapa kali mendapatkan gambar dengan baik. “Kamu harus cari angle yang bagus untuk foto, jangan mengambil sembarangan. Nih…” ia mengembalikan HPnya. “Ayo bersiap, nanti kita kesiangan.” Eiko meninggalkan Hikaru. Keduanya pun bersiap ke sekolah. Sepanjang perjalanan Eiko terus mengotak-ngatik HPnya “Hei… Eiko… simpan HPnya di tas, jangan dimainin terus.” Sejak berangkat sekolah gadis itu terus memainkan HPnya. “Aneh…” “Apa yang aneh?” “Kenapa panggilan cepatku dari satu sampai 10 semuanya namanya kamu?” “Memangnya kenapa kalau aku?” “Aku mau nambahin nomor nenek dan Joshua dan teman-teman yang lain. Bantuin hapus donk.” “Ikh, hapus aja sendiri, cape-cape masukin ke situ, terus dihapus lagi, rugi donk.” “Ikh… nyebelin,” ia menghentakkan kakinya, ia lebih dulu melangkah ke depan dan melihat seseorang yang sangat menarik hatinya. “Payung…” panggil Eiko, lalu mendekati Bilal dengan berlari kecil. “Aku minta nomor HP kamu donk,” ia memberikan HPnya pada Bilal. “Apa-apaan itu anak, minta nomor HP pada laki-laki lain di HP yang kasih, iyuh…” ia mengejek dan segera mendekat pada mereka. “Kenapa Lu, pagi-pagi udah ngomel.” Joshua tiba-tiba datang berkomentar. “Oh lihat Eiko dengan Bilal, cemburu ya?” “Apaan sih Lu.” “Hei… Eiko…” panggil Joshua. “Hai… sini, simpan nomor HP kamu disini!” “Wah kamu punya HP sekarang, mana, sini aku masukn nomor HP ku.” Ia menyimpannya, “Kenapa panggilan cepatnya sudah terisi?” “Iya, kamu nomor dua puluh.” “Hah… jauh sekali.” “Hihi…” ia nyengir. “Hei kalian, simpan nomor aku di panggilan cepat ya!” pintanya. “Ayo, kita bisa terlambat kalau terus ngobrol di sini,” ajak Hikaru, tidak menanggapi permintaan Eiko, melangkah pergi menuju kelas. Brak… Hikaru terjatuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN