Eiko jalan tidak tentu arah, ia sungkan kembali, Hikaru marah padanya, ia tidak ingin merepotkan Hikaru, namun ia juga tidak tahu akan ke mana. Ia membiarkan langkahnya pergi kemana pun, taman bermain, perpustakaan, bahkan toko elektronik.
“Benar juga, kali aja ada di sini ada tabletku,” ia menyisir satu persatu tablet yang ada di sana, namun tidak ada yang menyerupai tabletnya, semua untuk manusia.
“Benar kata Keyri, tidak enak jadi manusia. Jadi dimana tabletku?” bibirnya manyun, ia sedih. Namun ia tidak putus asa.
Ia mencari ke tempat lain, bahkan ke tempat pembuangan elektronik bekas. Beragam sampah sejenis menumpuk di sana, ada satu hal yang menarik dirinya untuk mendekat.
Sebuah boneka elektronik seperti memanggilnya untuk datang, “Kamu sama kaya aku,” ia bicara dengan boneka tersebut, “Sendirian,” tanpa ragu ia mengambil dan memeluk bonekanya.
Hujan turun, padahal ia jauh dari tempat berteduh yang layak. Ia berlari kecil, melangkahi genangan air dari hujan yang tidak terlalu besar.
Sampailah Eiko di depan sebuah minimarket, terlihat Bilal tengah menikmati mie instan dengan lahap. Sangat cocok untuk suasana hujan seperti ini.
Eiko memandang Bilal dan satu mangkuk mie instannya, ia menelan saipanya, perutnya pun berontak kelaparan.
Bilal balik kanan, tidak suka diperhatikan, terlebih mereka adalah orang asing, tidak saling mengenal. Begitupun Eiko, ikut membelakangi kaca.
“Ternyata begini rasanya dikhianati,” ia berjongkok dan dan memeluk lututnya. “Aku ‘kan menyelamatkannya, tapi kenapa ia menganggapku sebagai musuh?” umpatnya pada Hikaru, ia berdiri dan melanjutkan umpatannya, “Dasar jahat!” katanya sedikit berteriak.
Bersamaan dengan itu, pintu minimarket terbuka, dan keluar Bilal yang tersinggung dengan ucapan Eiko. Ia memandang Eiko dingin, dan diam tanpa satu patah kata pun.
“Bukan, bukan kamu yang jahat, ada laki-laki lain yang jahat,” gadis polos itu segera klarifikasi.
Bilal masih memandang aneh.
Lain dengan Eiko yang justru tertarik dengan payung yang dipegang dan dipakai Bilal. Ia langsung mendekati Bilal dan ikut berteduh di bawah payung. Dengan cepat rasa kesalnya berganti dengan senyuman.
Bilal semakin risih dengan apa yang dilakukan Eiko. Ia mengganti arah payung, Eiko mengikutinya, ke kiri dan ke kanan, payung itu diarahkan dan Eiko ikut melangkah ke kiri dan ke kanan. Terakhir, Bilal justru menarik Eiko untuk keluar dari suasana canggung satu payung berdua. Masih dengan ekspresi dinginnya, Bilal meninggalkan Eiko.
“Kamu sama saja kaya Hikaru!” teriak Eiko.
Bilal tak terima dibandingkan, ia balik kanan dan memberikan payungnya pada Eiko.
“Kamu kasih ini buat aku?” tanyanya. Tanpa berkata apapun, Bilal mengenakan hoodie nya, lalu pergi meninggalkan Eiko.
“Makasih…” teriak gadis polos itu, “Aku batalkan ngatain kamu kaya Hikaru…” tambahnya.
Tak ayal betapa senangnya Eiko mendapatkan payung itu. Di bawah hujan yang tidak deras itu ia menari-nari, berputar-putar, senang menikmati suara rintikan hujan yang jatuh ke payungnya.
Ia melakukan sampai bosan, dan kembali melanjutkan langkahnya, tidak tahu kemana.
“Tabletku tidak ada, sampai sekarang tidak ketemu. Lalu aku harus kemana?” ia berhenti sejenak dari langkahnya. Malam semakin larut, dan hawa semakin dingin.
“Jangan bilang kalau aku akan terus menjadi manusia seperti ini hingga aku mati,” selorohnya.
“Mati?” ia bertanya pada diri sendiri. Hal yang sangat kebetulan, ia sedang berada di pinggir jalan dengan lalu lintas jalanan yang tidak padat, bahkan cenderung sepi.
Eiko terpikirkan sesuatu. Ia mulai melangkahkan kakinya ke tengah, dari jauh sudah terlihat sebuah truk akan melintas. Ia menarik napas, memeluk erat bonekanya.
“Aku ingin kembali…” matanya fokus pada kendaraan yang hendak melintas, “Aku ingin kembali,” semakin terucap, semakin yakin melangkah ke tengah.
Teeeeettttt suara klakson terdengar.
Sreettt, brug…
Eiko membuka mata. Seseorang memegang bahunya kuat. Lalu melepaskannya kasar, cenderung mendorong.
“Apa kamu gila? Apa kamu ingin mati?” dengan kasar Hikaru memarahi Eiko.
“Kamu menggagalkannya,” gadis itu berkata lirih, dan menunduk.
“Apa?”
“Gara-gara kamu aku gagal, aku gagal mati!” teriak Eiko, kesal. “Kamu menyuruhku pergi dan tidak boleh mengikutimu ‘kan? Kamu juga bilang tak mengenalku,” amarahnya memuncak.
“Ayo…” ajak Hikaru, tanpa membalas amarah Eiko. Eiko berdiri kebingungan.
“Kenapa?” tanya Hikaru.
“Katamu tak boleh mengikutimu.” Eiko merajuk.
“Hah…” Hikaru membuang nafas kasar. Ia putar arah, berdiri di belakang Eiko, mendorong gadis itu agar berjalan di depan.
Tak ayal, hal tersebut membuat sang gadis tersebut senang, ia langsung membawa payung dan bonekanya yang terjatuh, lalu melangkah menyusul Hikaru.
“Tunggu! Kita jalan bersama Karu,” teriaknya.
Sesampainya di rumah, Hikaru segera membersihkan diri, terguyur hujan dalam waktu yang lama cukup membuat badannya terasa di tusuk-tusuk jarum, ngilu dan akan masuk angin jika dibiarkan. Diguyur dengan air hangat akan membuat badannya rileks.
Tring…
HP-nya berdering. Tertera nama Arika di sana, yang melihat hal tersebut justru Eiko. Tanpa berpikir panjang ia langsung menuju kamar mandi, membukanya tanpa permisi.
Krek… pintu terbuka.
“Hei…” teriak Hikaru, langsung menyembunyikan badannya yang atletis di balik tirai plastic.
Eiko tersenyum tanpa rasa bersalah, “Arika menelponmu, ini aku antarkan HP-nya,” dengan deretan gigi yang rapi, Eiko mengulurkan tangan pada Hikaru memberikan HP.
“Kamu ini, sumpah ya, keluar sekarang juga, ngapain buka pintu tanpa mengetuk dan tanpa permisi. Keluar…” teriak Hikaru kesal. “Keluar!” sekali lagi pinta Hikaru.
Tak ayal, kejadian itu membuat dirinya stress, membayangkan apa saja yang dilihat Eiko.
“Aku gak lihat, sumpah aku gak lihat apapun.” Kini keduanya tengah berdiri tegang di ruang tamu. Hikaru telah lengkap dengan pakaian tidurnya.
“Gak lihat apapun?” tanyanya memastikan
“Lagian, ‘kan, kamu gak bilang aku tidak boleh melihat apapun.” Eiko membela diri.
“Tidak adil. Nanti kalau kamu mandi, akan aku lihat semuanya!” ancam pemuda bertubuh atletis itu. “Kalau begitu adilkan? Dasar otak ngeres.”
Eiko tak menanggapi ancaman Hikaru, ia justru memperhatikan badan Hikaru dari atas ke bawah.
“Ngapain kamu ngeliatin aku kaya gitu?” Hikaru justru merasa terancam dan dilecehkan oleh Eiko, “Tutup mata kamu hei…” ucap Hikaru dengan suara lantang dan tegas.
“Kamu juga punya itu ‘kan? Aku jelas melihatnya tadi,” matanya menyipit, dahinya berkerut memperhatikan bagian-bagian yang menarik di pikiran Eiko.
“Di drama aku melihat orang memperhatikan perut yang kotak-kotak seperti roti,” dengan polos Eiko melanjutkan ucapannya.
“Ayo buka, biar aku lihat sekali lagi,” senyum sumringah, Eiko meminta pada Hikaru, ia melangkah mendekat pada sang pemuda.
“Aihs, dasar perempuan aneh.” Hikaru melempar handuk kecilnya.
Namun meleset, handuk yang ia lempar menyasar pada Hanan yang baru saja datang di tengah-tengah mereka.
“Aduh, ada apa ini?”
“Nenek, dia masuk tanpa ijin ke kamar mandi saat aku mandi. Dia melihat tubuhku, aduh aku malu nenek,” Hikaru protes manja pada sang nenek, dengan menutup seluruh badannya dengan kedua tangan, dan berjingkrak kecil sangat manja, “mulai sekarang kayaknya harus pasang CCTV di kamar mandi,” usul Hikaru.
“Hehehe….” Nenek tertawa kecil, “Sudah cukup marah-marahnya,” Hanan mengusap punggung Hikaru memberikan ketenangan.
“Membawa dia kemari adalah sebuah kesalahan Nek! Besok pagi-pagi buta kita usir dia pergi dari sini!” Hikaru melanjutkan protes manjanya. Padahal ia baru saja mengejar Eiko untuk tetap tinggal di sana.
“Tega sekali kamu Karu. Aku tidak melihat apa-apa kok, beneran aku tidak lihat!” Eiko membela diri, ia sungguh tidak ingin pergi dari tempat tinggal Hanan. “Tolong jangan usir aku dari sini!” lirihnya hampir mau menangis.
Krubuk…. Krubuk….
“Suara apa itu? Mengapa perutku bisa mengeluarkan suara seperti itu?” Eiko kaget, ia memegang perutnya, ini pertama kalinya ia mendengar suara kelaparan.
“Sangat multitalenta kamu, suara perut saja kamu kaget,” ledek Hikaru.
“Kenapa kamu tidak makan Eiko? Ayo kita makan semuanya.” Ajak hanan.
“Benar juga, bau nasi sangatlah enak, apalagi jika sedang lapar,” ia mengikuti langkah Hanan menuju dapur, “ugh, kenapa perutku lapar seperti ini? Siapa yang membuat peraturan makan tiga kali sehari?” ia terus mengumpat.
“Oh tidak!” Hikaru memegang kepalanya frustasi, “lama-lama aku bisa gila jika terus hidup bersama dia,” ucapnya sedikit berteriak.
“Ini super gawat, aaakkkhhh.” Ia memegang kepala, berjingkrak dan berputar-putar melampiaskan semua kekesalannya, entah hal apa lagi yang akan terjadi antara dia dan Eiko, ia harus bersiap.