7. Meja Makan

1039 Kata
Menikah di usia muda bukanlah pemikiran seorang Ratu Zevanya Abimanyu. Sejak masa remaja, Anya hanya memikirkan tentang kesuksesannya di karir. Menikah dan memiliki keluarga berada di peringkat bonus baginya. Tapi, sekarang semuanya berbanding terbalik. Hal yang Anya kira bonus, malah lebih dulu ia dapatkan. Andai saja Abi sejak awal tidak ikut campur dalam pendidikannya, mungkin sekarang Anya sudah sukses dalam bidang yang ia gemari. "Mau nyalahin Papi, tapi gak mau durhaka." Anya menghembuskan napas panjang sebelum meraih catokan rambut. Ketukan di pintu kamarnya membuat Anya menoleh. Kirana masuk sambil tersenyum. Wanita itu membawa sebuah kotak kecil di tangannya. Bisa Anya tebak kalau isinya perhiasan. "Anak Mami udah dandan rupanya. Gak sabar mau ketemu calon suami?" goda Kirana sambil mengerling pada Anya. Anya memanyunkan bibirnya lalu kembali pada aktivitasnya yang sempat tertunda karena kedatangan Kirana. "Nanti Anya bakal minta hal-hal aneh biar keluarga Edward ilfeel. AW!" Anya melotot pada Kirana dari dalam cermin. "Kenapa Mami cubit ih?! Sakit!" "Kalau sampai kamu bicara macem-macem nanti, Mami jewer kamu, Kak," ujar Kirana balas melotot. Anya berkomat-kamit karena kesal sambil mengelus lengannya yang kena sasaran cubitan Kirana. "Itu apa?" tanya Anya mengalihkan pandangan Kirana pada kotak yang ia pegang. "Perhiasan," jawab Kirana sambil tersenyum lebar. Tuh, kan, benar tebakan Anya. "Buat aku?" tanya Anya memastikan. "Hm. Ini stok perhiasan Mami ya, Kak. Edisi terbaru dan terbatas. Kalau sampai kamu rusakin atau kamu jual lagi, Mami gak akan kasih ampun." Anya terkekeh geli sambil meraih kotak yang Kirana sodorkan. Ternyata Maminya itu masih ingat saja kelakuan Anya beberapa bulan yang lalu. "Berapa ini?" tanya Anya penasaran. "Kenapa?" Kamu mau ganti uang Mami?" Anya berdecak. "Uang Papi lebih tepatnya." "Uang Papi uang Mami, uang Mami bukan uang Papi. Tolong dibedakan." Oke, oke. Kalau berdebat masalah uang dengan Kirana, Anya akui dirinya kalah telak. Wanita yang melahirkannya ini jelas sangat pintar dan juga cerdik mengelola keuangan. "2.000 dolar?" tanya Anya saat matanya meneliti perhiasan di dalam kotak. Ada kalung dengan bandul mahkota indah yang diselimuti berlian. Ada sepasang anting dengan bentuk serupa. Gelang dan cincin yang bermodel simpel tapi lebih berkilauan. Kirana memijit pangkal hidungnya. Tebakan macam apa itu? "Apa perhiasan Mami semurah itu?" "Oke, i know, 200.000 dolar. Gak usah marah dong," ujar Anya terbahak. Dia tahu harga perhiasan edisi terbaru dan terbatas yang Kirana miliki tidak pernah di bawah 2M. "Hm, lebih kurang segitu," jawab Kirana bangga. "Gila sih, Papi kerja banting tulang cuma buat dihabisin ke perhiasan gini." Anya mencibir Kirana yang kini meraih catokan rambut Anya. "Namanya juga suami sayang istri. Jadi, Mami harap nanti kamu jangan minta yang macem-macem kalau ditanya mau apa sama calon mertuamu. Mami gak suka orang lain anggap kita orang susah. Paham?!" Anya mengangguk ragu. "Ini lurus gini aja rambut kamu?" tanya Kirana setelah selesai menata rambut sang putri. "Iya. Pakein dong, Mi," pinta Anya sambil memberikan kalung kepada Kirana. "Halo, girls, udah siap?" Anya dan Kirana menoleh, ada Qia yang berdiri di pintu kamar Anya sambil bersedekap d**a. "Kamu ngapain pake baju tidur kayak gitu, Dek?!" pekik Kirana melihat penampilan putri bungsunya dari atas ke bawah. "Adek gak ikut ke bawah, Mi, banyak PR, hehe." Kirana hampir saja meledak lagi kalau alasan Qia tidak masuk akal. "Oh, yaudah, nanti Mami suruh bibi antar makan malam kamu ke kamar." Qia mengangguk semangat sambil berjalan ke arah Anya saat matanya menatap sesuatu berkilauan di telinga dan leher Anya. "Baru lagi?" tanya Qia pada Kirana. Kirana mengangguk sebagai jawaban. "Mami percaya ngasih barang baru gini ke Kakak? Nanti dijual lagi gimana?" "Coba aja. Siap-siap jadi gembel dia kalau berani jual perhiasan yang ini." Qia terkekeh menatap Anya yang memutar bola mata sebal. "Sayang, ayo," suara Abi memanggil Kirana dari ambang pintu. "Ayo, Kak," ajak Kirana sambil membantu putrinya berdiri. "Pi, Mami beli perhiasan lagi." Anya memperlihatkan telinga, leher dan tangannya kepada Abi. "Cantik," puji Abi membuat Kirana tersenyum lebar. Sedangkan Anya dan Qia memutar bola mata jengah. Susah emang kalau udah jadi bucin sejak puluhan tahun lalu. *** Edward datang dengan rombongan. Anya sampai ternganga karena pria itu tidak hanya membawa orangtuanya saja. Tapi beberapa saudaranya yang lain. Sehingga rumah Anya kini sangat ramai dan Anya mendadak gugup. Sial. "Saya gak tahu kalau anak saya menjalin hubungan dengan anak Pak Raja. Pantas saja dia menolak semua perempuan yang saya jodohkan dengannya. Ternyata calon istrinya tidak bisa dibandingkan dengan perempuan manapun," ujar Aslan, Papi Edward. Abi tertawa sambil meraih sebelah tangan Anya dan mengecupnya. Pandangan lembutnya pada Anya membuktikan betapa besar rasa cintanya pada perempuan itu. "Saya yang lebih terkejut lagi, Pak Aslan. Saya juga sempat ingin menjodohkan putri saya karena selama ini tidak terlihat menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Tahu-tahunya malah sudah punya calon begini." Anya yang duduk di tengah-tengah antara Abi dan Kirana menjadi pusat perhatian saudara Edward. Mereka secara terang-terangan memuji kecantikan perempuan itu. Hal tersebut jelas membuat Anya yang tadinya merasa sedikit gugup kembali angkuh dan duduk dengan tegak. "Jadi, gimana, Nak Anya?" tanya Tania memastikan. Anya menatap Edward yang menunduk. Pria itu sama sekali tidak berani mamandangamya. "Anya mau, Tan." Semua orang di sana kecuali Edward berseru gembira. Setelah mengucapkan itu, barulah Edward mengangkat pandangannya menatap Anya membuat perempuan itu mengangkat dagu angkuh. Edward terkekeh geli di dalam hati. Perempuan itu benar-benar menantangnya dengan pandangan seperti itu. "Kalau begitu ayo kita makan malam dulu. Sekalian nanti bicarain tanggal pernikahan," ajak Kirana dan diangguki oleh Tania. Semua orang beranjak menuju ruang makan Abi yang bersebelahan dengan ruang tengah. Di sini ada meja makan yang panjang dengan 22 kursi. Ada 20 kursi yang saling berhadapan. Dan 1 kursi di ujung. Untuk keseharian, biasanya keluarga Abi tidak menggunakan meja makan ini karena mereka hanya berlima dan di dapur sudah ada meja makan untuk 6 orang. Sedangkan meja makan ini memang dibuat khusus untuk acara seperti ini. Anya duduk di samping Edward. Pria itu bahkan dengan sengaja menggoda Anya dengan elusan nakal di paha perempuan itu. Edward kira Anya tidak bisa membalas, hm? Pria itu salah. Beruntunglah karena kursi yang mereka duduki diujung dan kegiatan tak senonoh keduanya tidak diketahui oleh siapapun. Anggota keluarga Edward dan Anya sibuk dengan makanan yang terhidang dan pembahasan pernikahan keduanya. "Anya...." Edward memperingati perempuan itu agar tidak berlebihan menggodanya. Anya mana peduli. Anya semakin mengelus junior Edward dan sesekali menggenggamnya karena gemas. Edward memejamkan mata dan menggenggam sendok di tangannya dengan erat. Sial. Anya benar-benar mempermainkam gairah Edward saat ini. "Kamu tunggu hukuman kamu," bisik Edward sambil meniup telinga Anya. Kirana dan Tania yang mencuri lihat kedua putra dan putri mereka mengira Anya dan Edward romantis karena bicara berbisik-bisik seperti itu. Mereka tidak tahu saja kalau keduanya sedang berusaha memikirkan cara agar pergi dari sana untuk menuntaskan apa yang sudah terpancing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN