“Hey?” panggil Elvina sambil mencari orang lain disekitarnya, tapi tidak ada siapapun yang bersama gadis kecil itu.
“Ni anak ama siapa coba? Dibiarin keluyuran,” umpatnya dalam hati.
Gadis kecil itu tersenyum manis ke arah Elvina dan dibalas senyum juga oleh Elvina.
“Kamu sama siapa ke sini?” tanya Elvina penasaran seraya mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri mencari orangtua si gadis berwajah manis itu.
“Mama.” Gadis kecil itu mengatakan ‘mama’ sambil menunjuk ke arah Elvina.
Sontak Elvina memutar badannya, mencari siapa yang gadis kecil itu tunjuk. Namun, ternyata yang ditunjuk adalah dirinya karena tidak ada siapapun di belakangnya.
“Mama aku, ‘kan?” tanya gadis kecil itu membuat Elvina mengernyitkan keningnya tidak mengerti.
Belum sempat menjawab apapun, seorang pria tiba-tiba muncul dari belakang tubuh gadis kecil itu. “Sayang, astaga. Kamu nga—” Pria itu hendak mengomeli gadis kecil itu, akan tetapi suaranya terhenti ketika melihat Elvina.
Pria itu tampak bingung, apalagi Elvina yang sangat bingung, ada apa dengan kedua manusia di hadapannya? Cukup lama keduanya terdiam dan malah memandang satu sama lain, gadis itu mengganggu lamunan sang ayah.
“Pah … Mama?” ucap gadis kecil itu menunjuk lagi ke arah Elvina tapi pria itu langsung menyadari sesuatu.
“Bukan, Sayang. Ayo kita pulang,” tandas pria itu sambil membawa tangan gadis kecilnya.
Elvina masih mematung di tempatnya, merasa ada yang aneh dan tidak wajar dari tatapan pria itu. Namun seperti biasanya, Elvina tak ingin pusing dengan hal itu.
“Tapi, Pah?” Gadis kecil itu hendak menghentikan langkah kakinya, berniat untuk kembali ke arah Elvina.
“Sayang bukan, itu bukan Mamamu,” terang pria itu masih terdengar walau samar.
Elvina sedikit memijat keningnya yang terasa pusing dengan kejadian baru saja, ia lalu melanjutkan memilih produk lainnya dengan mendorong trolli belanjaan dan bergegas ke kasir untuk membayar.
***
“Wait, perasaan gue belum ngerjain tugas Pak Willi deh.” Elvina menghentikan langkah kakinya dan langsung memeriksa buku-bukunya dengan panik. Sedangkan kedua temannya dengan sigap menerima buku-buku yang Elvina keluarkan dari tasnya.
“Kebiasaan lo! Heran gue. Tapi kenapa pas dosennya Pak Willi doang lo mendadak amnesia gini?” sewot Melia merasa prihatin.
“Ya lo tau sendiri, gue gak akur ama si Hulk. Mendadak otak gue ini gak mau mikir kalo dikasi tugas ama tu makhluk.”
Elvina menyebut William dengan sebutan ‘hulk’ karena badan besarnya. Sebenarnya bukan besar karena gemuk, tapi karena otot-otot dibadannya. Juga, William mempunyai perilaku tempramental yang senang sekali membanting atau melempar apa saja yang menurutnya bisa membuat muridnya tak berkutik sedikitpun.
“Ya makanya, lo jangan keras kepala kalo dibilangin. Penyakit lo! Ada datang tepat waktu, tapi tugasnya gak lo kerjain. Giliran tugas lo kerjain, eh telat datang. Gitu aja terus ampe Indonesia pindah ke Jerman!” geram Tania.
Sedangkan Elvina masih mencari-cari tugasnya, membuka buku satu per satu. Gadis pikunan itu lalu melihat jam yang melingkar ditangannya.
“Mampus udah, gak bakal keburu. Gimana dong? Gue bolos aja dah,” tutur Elvina pasrah, memasang wajah cantiknya yang tanpa dosa.
“Ya lo minta maaf lah daripada bolos.” Melia mencoba menasehati teman bobroknya itu.
“Mending gue ngomong ama tiang listrik, daripada minta maaf ama dosen sombong bin judes. Palingan gue dilempar buku ama si Hulk,” bantah Elvina seraya membereskan buku-bukunya yang tadi ia obrak-abrik untuk mencari tugasnya.
Melia ingin mengisyaratkan Elvina untuk berhenti bicara, tetapi terlambat.
“Ekhem,” deham seorang pria dengan nada beratnya yang mampu membuat seluruh wanita terkencing-kencing mendengarnya.
Melia dan Tania tersenyum ke arah belakang tubuh Elvina. Dengan firasat tak enak, Elvina membalikkan badannya untuk melihat siapa yang berada di belakangnya. Sialnya, dugaannya itu benar. Rasanya Elvina ingin menggali lubang sedalam mungkin dan bersembunyi di dalamnya. Tapi tidak, Elvina harus tetap tenang seperti wajahnya yang tanpa dosa secuil pun.
“Elvina, ikut saya ke kantor,” pinta William tanpa menunggu jawaban dan segera melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda saat mendengar ketiga wanita sedang menyebut namanya.
Elvina sudah terbiasa dan ia tidak kaget dipanggil dosen killer di kampus itu untuk ke ruangannya.
“Ck! Lo sih.” Tania mencibir, merasa prihatin sedangkan Melia menggeleng pelan.
Elvina terlihat biasa saja dengan wajah tenangnya. “Gak apa-apa, udah langganan ini.”
Elvina langsung mengikuti langkah kaki William yang lebar dengan santainya. Tampak mahasiswa-mahasiswi menatap Elvina yang berada di belakang William. Pemandangan ini sudah lumrah jika Elvina melakukan kesalahan. Sebagian ada yang menasehatinya agar tidak melakukan kesalahan yang sama, tapi banyak juga yang merasa iri karena Elvina seringkali dipanggil ke ruangan William baik kepergok seperti tadi, ataupun dipanggil setelah pelajaran selesai.
Mereka berhenti saat William tepat di depan pintu ruangannya. Ruangan yang memiliki julukan ‘tempat iblis’ yang sangat dihindari semua siswa-siswi. Tangan William meraih handle pintu yang terlihat kokoh itu, lalu membukanya. Elvina ikut masuk saat tubuh William sudah menghilang dari pandangannya, tak lupa ia menutup pintu sebelum berjalan ke arah depan meja.
“Maaf,” ucap Elvina tanpa basa-basi, padahal dosennya itu belum mengatakan apapun malah baru saja duduk.
“Soal apa?” tanya William menatapnya datar, menyenderkan tubuhnya ke kursi sedangkan Elvina masih berdiri di depan mejanya seperti anak kecil yang sedang meminta uang kepada ayahnya dengan wajah kusut.
“Ya Bapak ngapain minta Vina ke sini? Pasti karna Vina salah, ‘kan? Jadi ya, Vina minta maaf,” jawab Elvina dengan santainya. Ia sudah biasa berhadapan dengan dosennya ini, tidak ada ketegangan apapun.
“Elvina Ayunindya!” William memperingati dengan tatapan tak tenang.
“Ya apa? Vina dengerin,” lirih Elvina segera duduk dan bersiap mendengar wejangan dari dosennya.
“Saya belum kasih tahu kamu kesalahan apa yang kamu perbuat dan kamu sudah minta maaf?” seru William yang mulai kesal, memincingkan satu alisnya.
Elvina menjawab dengan sombongnya, “Artinya Vina pengertian, Pak. Vi—” Mulutnya masih terbuka, tetapi William segera menyela.
“Elvina Ayunindya? Kamu mau mengulang semester?” ancam William dengan murkanya. Elvina melihat tatapannya tak main-main membuatnya bergidik ngeri.
“Ampun, Pak, ampun. Jangan dong hadeh.” Elvina membulatkan matanya, tentu ia tak mau jika harus mengulang semester.