Bertemu Calon Bos

1027 Kata
“Se—ri—us?” Tania memandangi Elvina dengan tatapan horor. “Serius banget lah kalo soal kerjaan. Tapi gue mau yang jam kerjanya bisa sinkron sama kuliah. Lo ngerti ‘kan maksud gue?” jawab Elvina acuh. Masa bodoh dengan tatapan kedua temannya yang masih terlihat heran dengan keinginan Elvina. Sepermenit hening, Melia merespon keinginan Elvina untuk bekerja yang dikerjakan di rumah-rumah. “Hm ... kemarin gue denger majikan Kakak gue butuh baby sitter anaknya, tapi anaknya udah gede sih, bukan bayi lagi.” Melia mendengar sepintas saat bos kakaknya berkunjung ke rumahnya beberapa minggu lalu, mengatakan jika ia membutuhkan pengasuh. Elvina menutup bukunya dan memandangi wajah Melia. Elvina yang memang menyukai anak-anak, langsung tertarik dengan pembicaraan Melia. “Serius, Mel? Kuy lah, gue mau jadi baby sitter anak bos Kakak lo,” kata Elvina dengan semangatnya memutuskan untuk bekerja sebagai pengasuh. Tania melongo, mulutnya membentuk O, masih tak percaya jika temannya itu mau menjadi seorang pengasuh. Ia membayangkan betapa sulitnya membuat anak kecil berhenti menangis, tapi tidak ada yang bisa menyangkal jika temannya yang bernama Elvina itu sangat unik. Mungkin hanya ada 1 diantara 1000 spesies di dunia ini. Melia menatap Tania dan menggelengkan kepalanya atas jawaban Elvina. Sudut bibirnya seperti bicara ‘makin gak waras’. Bagaimana mungkin wanita secantik Elvina bekerja sebagai pengasuh? Belum lagi gelar yang ia dapatkan di kampus sebagai ‘primadona’. Sejujurnya, kedua temannya lebih mendukung jika Elvina bekerja di cafe atau restoran. Setidaknya, mereka dapat minuman gratis saat berkunjung. Jika menjadi seorang pengasuh, apa yang dapat mereka todong? Yang benar saja! “Oke, ntar gue bilangin Kakak gue. Biar Kakak gue yang ngomong ke bosnya.” Melia tak yakin, ia hanya mencoba untuk bicara dengan kakaknya nanti. Namun, tak menjamin Elvina akan diterima, karena jam kerjanya jelas akan terganggu waktu kuliah. “Cepet-cepet, ya? Gue gak sabar pengen kerja,” pinta Elvina, ia memang sangat menghargai waktu. Menurutnya, daripada harus jalan-jalan dan nongkrong gak jelas seperti kebanyakan temannya, tak mengubah apapun. “Lo serius mau cepet-cepet? Gue telepon Kakak gue sekarang nih, kalo lo mau,” tanya Melia sunguh-sungguh dan Elvina manggut-manggut secara spontan. Melia lalu menghubungi kakaknya dan menceritakan tentang Elvina di saat itu juga. Kakaknya menyuruh Melia datang saja ke rumah bosnya karena kebetulan beliau sedang berada di rumah. Mereka bertiga lalu bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju parkiran. “Lo tau rumahnya?” tanya Elvina kepada Melia. “Tau lah. Gue juga kenal, walau cuma sepintas,” jawab Melia seadanya. “Emang Kakak lo kerja apaan?” Elvina penasaran. “Gue kurang tau pasti sih. Yang jelas, Kakak gue kayak orang kepercayaannya gitu,” jawab Melia sekenanya. “Oke, kita langsung ke sana aja. Biar besok gue ke sana sendiri,” tutur Elvina dan Melia mengangguk satu kali. “Oh ya, awas lo kesemsem ama bos lo.” Melia menyikut tangan Elvina untuk memperingati. “Cakep loh, Vin. Duren pula, duda keren,” timpal Tania dengan senyum genitnya. “Dih, gue gak mau pacaran,” bantah Elvina mengangkat bahunya. “Oh iya ya, lu ‘kan cewek aneh. Pak Willi segitu cakepnya , tapi lu biasa aja. Kak Adit juga cowok terkeren di sini, masih aja lo anggurin. Sayang muka lo!” celoteh Melia yang baru menyadari keunikan temannya itu. Merasa tersinggung, Elvina menatap sadis ke arah Melia dengan alisnya yang ia angkat satu. “Emang muka gue kenapa?” tanyanya sambil menujukkan ibu jari ke arah wajahnya sendiri meminta penjelasan. “Cakep sih, tapi lo gak punya hati,” ejek Melia dengan malas. “Halah, ntar juga lo kelepek-klepek. Secara dia tuh hot banget,” sahut Tania seperti biasanya, memasang wajah genit andalannya. “Anak gajah!” rutuk Elvina. “ENAK AJA!!!” sahut Melia dan Tania secara bersamaan mengoreksi ucapan Elvina. “Lo bawa mobil gue. Lagi males nyetir,” pinta Elvina yang diangguki Melia sedangkan Tania ada janji bersama kekasihnya. Sepanjang perjalanan, Melia menceritakan kisah cintanya dengan Ryan, bukan menceritakan tentang calon bos Elvina yang akan mereka jumpai sekarang. Ajaib memang, Elvina sampai mengantuk mendengar cerita Melia yang tak ada habisnya. Hingga tak terasa mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju. Keduanya segera keluar dari mobil setelah memarkirkannya dipekarangan rumah. Melia mengangkat tangannya menuju bel dan menekannya beberapa kali hingga seseorang membuka pintu besar di rumah tersebut. “Mbak Melia?” sapa seorang asisten rumah itu. “Iya, Bi. Pak Rafa ada? Udah ada janji juga,” sahut Melia di depan pintu. “Ada Mbak, silakan masuk. Tuan ada di ruang keluarga,” jawab asisten rumah itu mempersilakan untuk masuk ke dalam rumah dengan ramah. Melia mengajak Elvina untuk masuk ke dalam rumah besar yang sepertinya Melia sudah pernah ke sana, ia tahu letak ruang keluarga yang sudah ada seorang pria menunggu di sana. “Pak Rafa,” panggil Melia kepada pria yang sedang memainkan ponselnya di atas sofa. Pria itu melirik ke arah Melia dan Elvina. Ia terdiam seolah bingung dengan kedatangan mereka berdua. Begitupun dengan Elvina yang merasa pernah melihatnya, tapi ia lupa dan berusaha mengingatnya. Kapan ia bertemu pria tampan ini? “Kamu?” ucap pria itu dan Melia sadar bahwa bos kakaknya itu mengarahkan pandangannya kepada Elvina, tapi Elvina si gadis pelupa ini masih saja berusaha mengingat di mana ia pernah bertemu dengan pria di hadapannya. “Pak Rafa kenal?” Melia bingung, menatap Elvina dan pria itu secara bergantian. “Kita pernah bertemu di supermarket, kamu ingat?” tanya pria itu membuat Elvina mengingat itu. “Ah iya, kita pernah ketemu di supermarket.” Elvina menganggukkan kepalanya. Pria itu menatap Melia seolah meminta penjelasan yang entah penjelasan apa dan Melia manggut-manggut membuat Elvina bingung. “Kenapa?” bisiknya pada Melia. Melia meminta Elvina untuk mengulurkan tangannya. “Ini teman Mel, Pak. Elvina.” “Elvina.” Elvina segera mengulurkan tangannya yang dibalas oleh pria yang diketahui bernama Rafael Ivander. Rafael berusaha bersikap baik-baik saja walaupun ada sesuatu yang mengganggu pikiran dan hatinya. Ia meminta Elvina dan Melia untuk duduk di sofa, di ruangan itu. “Jadi, kamu yang mau jadi baby sitter anak saya? Kamu yakin?” Rafael terlihat tak percaya. Melihat wajah Elvina yang sepertinya bukan orang biasa juga berpendidikan, mau menjadi seorang pengasuh?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN