Calon Ibu?

1020 Kata
“Non Clara jangan nangis, ‘kan sekarang Non sudah punya Mama,” ucap Ambar mencoba membuat Clara tenang, mengusap rambut gadis kecil itu dengan kasih sayangnya yang tulus. “Oh … Clara dipanggilnya Non? Waduh, mohon maaf, aku gak tau.” Sungguh, Elvina ingin sekali menghukum dirinya yang kurang ajar dan tak tahu malu. Elvina tak tahu jika Clara dipanggil dengan sebutan ‘Non’. Melihat kegugupan Elvina, Ambar tersenyum geli. Entah mengapa, ia tak akan setuju jika Elvina memanggil Clara dengan sebutan yang sama dengannya yaitu ‘Non’. “Gak perlu itu, kamu ‘kan calon ibunya,” jawab Ambar dengan penuh keyakinan, tapi membuat Elvina mengerutkan keningnya heran. Sepertinya Ambar belum tahu jika Elvina juga pengasuhnya Clara? Tidak, Ambar tahu siapa Elvina. Namun, Ambar menilai Elvina bukanlah seorang pengasuh, tetapi ibu pengganti untuk Clara. “Lah? Aku juga pengasuhnya Clara kok. Eh Non, Non Clara.” Elvina menjelaskan dan mengkoreksi panggilannya untuk Clara. Ambar hanya tersenyum geli seraya menggeleng pelan. Usia Elvina yang masih sangat muda dibanding dengan dirinya, siapapun akan sependapat jika Elvina cocok menjadi ibu Clara. Dari caranya berpakaian, Elvina memiliki fashion yang baik. Bukan hal yang tidak mungkin jika bersanding dengan Rafael, terlepas siapa latar belakang Elvina yang sesungguhnya. “Jangan sedih gitu dong. Mama ‘kan jadi ikut sedih. Non Clara mau nurut gak sama Mama?” goda Elvina lalu bertanya kepada gadis kecil itu. Clara mengangguk dengan bibirnya yang masih mengkerut disisa tangisnya. “Jangan teriak kalau lagi bicara sama Papa Non Clara, karna itu tidak sopan Sayang.” Elvina ingat saat semalam, Clara menangis dan membentak Rafael. Ia hanya ingin mengajarkan gadis kecil itu untuk bersikap lebih baik lagi dan tidak manja. “Papa suka marahin aku, kalo aku tanya Mama.” Clara menjawab dengan nada lirih yang masih terisak tangis. Untuk sejenak, Elvina terdiam. Mungkin saja yang dikatakan Melia itu benar, bahwa ibu kandung Clara sudah meninggal. Belum lagi Ambar memintanya untuk tidak membahas ibu Clara seakan-akan itu adalah hal yang disembunyikan atau belum diketahui oleh Clara. “Artinya, Papa Non Clara gak mau bahas Mama kamu. Udah deh jangan nangis gitu. ‘Kan udah ada Mama,” pinta Elvina lalu memeluknya dengan tulus dan mengusap lembut rambut Clara. Hanya dalam dua hari saja, gadis kecil itu sudah membuatnya sangat menyayanginya. “Sayang?” panggil Rafael kepada Clara tepat berada di belakang tubuh Elvina. Rafael yang sejak tadi menguping, hanya berpura-pura tidak mendengar apapun. Wajahnya yang tenang, mampu mengelabui siapapun dan menganggap bahwa pria itu baik-baik saja, kenyataan dalam hatinya tidak seperti itu. “Papa.” Clara berlari ke arah sang ayah, lalu memeluknya. Rafael segera mencium pipi Clara kanan dan kiri. “Papa, aku mau Mama itu jadi Mama aku.” Di sela ucapannya, Clara menoleh ke arah Elvina dan menunjuknya dengan jari lentiknya, kemudian kembali menatap sang ayah yang kebingungan. Sepertinya Clara belum mengingat nama Elvina. Namun baik itu Rafael ataupun Elvina, tentu tersentak dengan permintaan Clara yang polos itu. “Sayang .... ” Rafael menghentikan ucapannya. Sementara otaknya ia gunakan untuk berpikir, kata-kata apa yang harus ia jawab. Namun ternyata, sepertinya ia tak bisa menemukan jawaban yang jelas sehingga ia menjawab seadanya, “tidak bisa seperti itu.” “Papa ‘kan bilang mau turutin kemauan aku?” tuntut Clara memaksa. “Tapi orang gak bisa dibeli, Sayang. Mama Elvina ‘kan manusia, bukan boneka.” Rafael semakin bingung menghadapi gadis kecil berusia 5 tahun itu. Menyaksikan ketegangan antara anak dan ayah, Ambar merasa tak enak dan ia memutuskan untuk keluar dari kamar Clara. “Saya permisi, Tuan.” Ambar mengangguk hormat, lalu berjalan melewati Rafael yang sedang bersimpuh agar bersejajar dengan tubuh mungil Clara. “Eh, saya juga permisi, Pak.” Elvina mulai tidak enak, dengan antusias ia ingin mengikuti Ambar. “Aku ikut, Mama,” rengek Clara hendak mengikuti Elvina tapi Rafael mencekal tangan mungil itu. “Clara, cukup!” teriak Rafael membuat Elvina menghentikan langkah kakinya dan menatap pria yang merupakan ayah gadis kecil yang mulai ia sayangi. Clara terlihat terkejut ketika ayahnya marah. “Papa sudah berulang kali bilang, jangan bahas Mama.” Rafael menekankan kata-katanya. Namun, Elvina menilai seolah Rafael tidak suka jika Clara memanggilnya dengan sebutan ‘mama’ dan Elvina kesal dengan cara Rafael memberitahu Clara dengan cara membentaknya. “Pak, tolong. Pak Rafa gak perlu kasar gitu!” bentak Elvina dengan beraninya mengatakan itu. Rafael tampak mengumpat, lalu keluar dari kamar Clara dengan wajah kesal, sedangkan Clara masih terlihat takut melihat punggung ayahnya menghilang dari balik pintu. “Sayang, gak apa-apa ada Mama. Non Clara lapar?” Elvina mencoba untuk menenangkan Clara. Namun bukannya tenang, ia malah menangis histeris. Elvina kewalahan untuk menghentikan tangisan Clara yang semakin menjadi-jadi. Hati lembut Elvina merasakan apa yang Clara alami. Gadis itu tidak memiliki ibu, adapun wanita yang ingin ia jadikan ibu, ayahnya seolah tak setuju. Bentakkan Rafael sangat kasar, itu bukan hal yang baik untuk psikologis anak berusia 5 tahun. Beberapa belas menit kemudian, Clara tertidur sehabis menangis. Elvina berhasil membuatnya tertidur dengan cara mengusap tubuhnya dengan lembut. Ia lalu keluar dari kamar Clara, mencari foto-foto keluarga di rumah itu. Elvina penasaran yang dikatakan Melia tentang wajahnya yang mirip ibu kandung Clara. Dengan langkah pelan, Elvina mencari-cari di lantai dua tapi tidak menemukannya. Hanya ada foto keluarga terdiri dari ayah dan anak, Rafael dan Clara. Adapun foto lain, sepertinya orang dalam foto itu adalah kedua orangtua Rafael. Selain itu, tidak ada lagi foto orang lainnya. Elvina tidak menyerah, ia menuruni anak tangga untuk ke lantai bawah. Ia sangat gugup, tapi rasa penasarannya itu begitu besar. Menyusuri ruangan demi ruangan, hingga berhenti di salah satu ruangan yang terbuka, memperlihatkan sebuah lukisan yang cukup besar. Ia melihat lukisan pernikahan Rafael dan istrinya. Memperhatikan wajah istri Rafael dengan saksama dan memang benar, ibu Clara sangat mirip dengannya. Wajahnya, tubuhnya, senyumnya, tatapannya, semua hampir sama kecuali mimik wajah yang dimiliki istri Rafael lebih tua dari Elvina. Elvina mulai berprasangka yang tidak-tidak. Mungkinkah ia adalah kakak Elvina? Apakah memang benar dugaannya, jika Elvina bukanlah anak dari keluarga Wijaya dan malah keluarga orang lain? Atau apakah ada hubungan keluarga dengan Alm.istri Rafael? Batin Elvina seolah sedang berperang dengan berbagai prasangka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN