“Sudah kelar belum, Non?” Rista melongokkan kepala dari balik pintu ruangan kerja Kara. Tangannya memegang secangkir kopi. “Dikit lagi,” jawab Kara tanpa menoleh. Jarinya menari lincah di papan ketik komputer jinjingnya, menyelesaikan berkas kasus terakhir yang disidangkan hari itu. Publisitasnya lumayan menarik perhatian masyarakat sehingga firma hukumnya ikut kecipratan nama besar setelah kasus pelik itu dimenangkan. Rista meniup kopinya. “Heran, calon manten bukannya dipingit, tapi jam segini masih ngantor.” Kara tertawa. “Manten anti mainstream, Mbak.” Menurut kebanyakan orang seharusnya ia dipingit. Namun, pekerjaannya tidak bisa dilimpahkan begitu saja setelah berjuang habis-habisan dari sidang ke sidang. Kara meninggalkan kantor pukul enam sore. Bibirnya tersenyum kecut. Sia-si

