Hampir satu minggu Kara lalui tanpa terganggu pesan-pesan di ponselnya, atau bunga-bunga yang seperti biasa mampir di kantornya. Harinya benar-benar sepi, tenang dan damai. Bram pun juga menghilang entah ke mana. Biasanya pria itu sering mampir membawa anaknya dengan berbagai alasan. Dalam beberapa hari ini juga, sejujurnya Kara merindukan Ariyu, bocah kecil yang kelihatan lebih dewasa sebelum waktunya. Bagaimana dengan Ian? Jujur saja, Kara kesal karena Ian selalu menyinggung pernikahan. Berkali-kali pula ia menegur Ian, tetapi Ian tak mau mengerti. Pria itu begitu ngotot mengajak Kara ke pelaminan. Demi apa si m***m itu terus mendesaknya menikah? Padahal Ian sudah mendapatkan segalanya, tubuhnya, keperawanannya, meski ia juga merasakan kenikmatan tiada tara kala Ian memanjakan hasra

