Malam terus berjalan. Kara membereskan make up–nya yang berantakan akibat ciuman panas mereka beberapa menit yang lalu. Ia menyisir rambut dengan jemarinya sambil melirik Ian gugup. Pria itu bersandar di dinding. Bibirnya terus saja tersenyum. Sesekali ia tertawa tanpa suara sembari menggigit bibir atau menggeleng-gelengkan kepalanya. Dadanya masih berdebar-debar setelah mendengar pengakuan cinta dari Kara. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Terkadang kalau dipikir-pikir, Kara seperti berkencan dengan orang gila! “Sudah selesai?” tanya Ian saat Kara berjalan ke arahnya. Wanita itu mengangguk. “How beautiful you are!” Kara menunduk malu. Rasanya amat berbeda ketika jatuh cinta. Ini bukan kali pertama Ian memujinya. Kehangatan menjalaripipinya tiap kali Ian me

