Chapter 4

1527 Kata
"Itu namanya senjata makan tuan, bukan senjata di makan tuan."   Qilla duduk di sofa dengan gugup. Tangannya sudah berkeringat sedari tadi. Ini semua salah Dewa! Ayahnya tidak mungkin berbicara dengan nada seperti itu jika Dewa tidak memberitahukan semuanya. "Jawab Qill." Nada mengejek yang Dewa gunakan membuat Qilla menatap pria itu dengan tajam. Ingatkan dia untuk memberi perhitungan pada pria itu setelah ini. "Qilla habis main sama Syasa," jawab Qilla sambil menunduk, tidak berani menatap ayahnya. "Terus siapa lagi?" Qilla menggigit bibirnya bingung. Jika berbohong pun akan percuma karena Dewa pasti sudah memberitahu semuanya. "Adit." "Siapa Adit?" tanya Ayah Qilla lagi. "Temen Qilla." "Cuma temen?" Kali ini Dewa yang menyahut membuat Qilla menatapnya tajam. "Belum pacaran kok Yah, 'kan nggak boleh pacaran dulu," sahut Qilla mencoba untuk menarik simpati ayahnya. "Kalo belum pacaran ngapain ngumpet-ngumpet gitu? Besok suruh Adit itu datang, Ayah mau ketemu." "Loh Pak kok disuruh ke sini?" tanya Dewa tidak terima. Badannya sudah duduk dengan tegak, tidak santai seperti tadi. "Ayah pingin kenal dulu, kalo cocok baru kasih lampu hijau." Qilla mendongak mendengar ucapan ayahnya. Tidak ada nada marah di sana, bahkan pria paruh baya itu terkekeh kecil menikmati ketakutan anaknya. "Ayah serius? Nggak bohong?" "Nggak bisa gitu dong Pak, Qilla 'kan nggak dibolehin pacaran?" Dewa kembali berbicara membuat Qilla menatapnya kesal. "Bapak bukan ngelarang Qilla, Dewa. Bapak cuma pingin yang terbaik buat Qilla." "Wihh Ayah terbaik memang!" pekik Qilla bahagia dan memeluk ayahnya dari samping. Qilla sedikit melirik ke arah Dewa yang mengerutkan dahinya kesal. Saat Dewa meliriknya, Qilla tidak membuang kesempatan lagi untuk meledek pria itu. Lidah Qilla terulur ke arah Dewa dan pria itu hanya memandangnya datar. "Yes, lampu ijo!" ucap Qilla tanpa suara pada Dewa yang masih meliriknya kesal. "Ya udah Yah, Qilla mau ke kamar dulu." "Besok suruh Adit-Adit itu dateng ke rumah." Qilla berdiri tegak dan memberikan hormat pada ayahnya, "Siap kanjeng romo!" Sebelum benar-benar pergi Qilla menyempatkan diri untuk menghampiri Dewa. Qilla mendekatkan wajahnya pada pria itu dan memasang mimik wajah yang dibuat sedih dan bingung. Sedetik kemudian dia kembali berbicara dengan ekspresi yang berbeda, “Mamam tuh senjata makan tuan!" Qilla tertawa dan segera berlari sebelum Dewa menangkapnya.   ***   Pagi telah datang, Qilla menuruni tangga rumahnya dengan masih menggunakan pakaian tidurnya. Sepertinya gadis itu belum ingin menyentuh air terlebih dahulu, padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Saat akan berjalan ke dapur, mata Qilla menatap punggung tegap di meja makan. Dengan melihat sekilas pun Qilla tahu jika Dewa yang duduk di sana. "Ngapain di sini Om?" tanya Qilla sambil masuk ke dalam dapur, mengambil secangkir air putih dan meminumnya. Dewa hanya meliriknya sekilas dan kembali fokus pada korannya, "Buatin kopi Qil." Perintah Dewa masih dengan membaca korannya. Qilla yang masih mengantuk pun hanya bisa menurut dan mulai memasak air panas untuk kopi permintaan Dewa. Selagi menunggu air mendidih, Qilla bersandar pada meja dapur dan menatap ke segala rumahnya yang terlihat sepi. "Ibuk ke mana?" tanya Qilla pada Dewa. "Nggak tau, beli sayur kali." "Ayah?" "Lagi di depan ngobrol sama Pak Satpam." "Lahh cowok kok gosip," celetuk Qilla sambil mengambil air yang telah mendidih itu dan mencampurkannya dengan kopi instan yang ada di gelas. Qilla berjalan ke arah Dewa sambil mengaduk kopinya, setelah itu dia ikut duduk di meja makan dan meletakkan kepalanya di atas meja. Matanya mulai terpejam, tapi sedetik kemudian dia merasakan gulungan koran mendarat lumayan keras di kepalanya. "Jorok! Mandi sana," ucap Dewa sambil meminum kopinya. "Ngantuk ah!" Qilla mengubah posisi kepalanya untuk membelakangi Dewa. Mata Qilla berusaha untuk terpejam kemlagi, tapi itu tidak berhasil. Otaknya kembali berputar pada kejadian semalam. Di mana ayahnya secara mengejutkan ingin bertemu dengan Adit dan yang lebih mengejutkan lagi ayahnya tidak marah sedikitpun. Kepala Qilla kembali berbalik menatap Dewa yang sudah sibuk dengan ponselnya, "Om?" Panggil Qilla. "Hmm." Qilla tersenyum dan melirik Dewa jahil, "Dikasih lampu hijau loh aku, berarti nggak papa ya foto bareng lagi yang banyak." "Jangan mimpi, ayahmu mau liat dulu Adit itu kayak gimana? belum kasih lampu hijau." "Adit baik kok, pasti ayah bakalan suka." "Terserah." Dewa kembali fokus ke ponselnya. "Om nggak kerja?" tanya Qilla lagi. "Ini kerja." Qilla mengangkat kepalanya dan menarik kursi yang didudukinya untuk mendekat ke arah Dewa. Matanya juga ikut melirik ke ponsel Dewa yang sedang menampilkan halaman email. "Wihh booking ulang tahun itu." Tunjuk Qilla pada layar ponsel. "Hmm." "Makin rame kafenya, kenapa nggak bikin cabang baru?" tanya Qilla sambil melirik Dewa. "Masih males." "Mana ada orang males kalo bakal dapet duit." "Segini aja udah cukup, kapan-kapan aja bikin cabang barunya." Qilla hanya diam dan kembali melihat layar ponsel Dewa. Suara langkah kaki yang mendekat membuat Qilla menoleh ke belakang. Begitu tahu jika itu adalah ibunya, Qilla kembali fokus pada ponsel Dewa. Dua kantong plastik penuh berisi sayuran diletakkan Ibu Qilla di meja makan. "Belum mandi Qil?" tanya ibunya sambil berjalan ke arah dapur. "Belum Buk." "Jorok ih, anak gadis kok gitu. Betah kamu Dewa sama baunya Qilla?" Qilla menegakkan duduknya dan mencium bau tubuhnya sendiri, "Nggak bau Buk, nggak bau 'kan Om?" tanya Qilla sembari mendekatkan tubuhnya ke arah Dewa. "Udah ah mandi sana! Katanya Adit mau dateng?" Perintah Dewa membuat Qilla berdiri. "Bener juga, jodohku 'kan mau dateng nanti siang." Dengan cepat Qilla berlalu menaiki tangga rumahnya untuk segera masuk ke kamar dan mulai membersihkan diri.   ***   "Jadi kenal Qilla udah berapa lama?" Ayah Qilla bertanya pada Adit yang sedang duduk di hadapannya. Terlihat sekali jika Adit sedang gugup saat ini, apalagi dengan tatapan tajam Ayah Qilla. Bahkan Qilla yang duduk di samping Adit pun ikut bingung dengan ekspresi yang dikeluarkan ayahnya, berbeda sekali dengan semalam. Adit menelan ludahnya sebelum menjawab, "Sudah 2 bulan lebih Om." "Sudah 2 bulan lebih dan baru sekarang kamu temui saya?" tanya Ayah Qilla dengan tidak percayanya. Dewa hanya mengulum senyum dan menyenderkan tubuhnya pada rak berisi figura di ujung ruangan. Ternyata bukan tanpa alasan pria itu berada di rumah Qilla pagi hari tadi, karena pria itu memang telah siap untuk melihat sidang yang dilakukan olehbAyah Qilla tergadap Adit. "Maaf Om, tapi Qilla yang larang saya ketemu Om," jawab Adit dengan sedikit kesal karena merasa telah dipojokkan. "Kamu nurut gitu sama anak saya, kalau kamu gentle seharusnya kamu udah temuin saya meskipun tanpa ada ijin Qilla." Qilla berdecak dan memandang ayahnya kesal. Baru tadi malam dia merasa senang tapi ternyata semua itu hanya alasan ayahnya untuk bersikap seperti ini. Ternyata ayahnya itu ingin memojokkan Adit.   Adit yang malang.   "Maaf Om kalau saya salah." Adit kembali menunduk. "Ya sudah pulang sana kamu." "Terus gimana?" tanya Qilla bingung, karena respon ayahny hanya seperti itu saja dan tidak ada kelanjutannya. "Gimana apanya?" "Aku sama Adit boleh pacaran?" Lanjut Qilla lagi. "Nggak! Ayah masih larang kamu pacaran, kalian boleh temenan tapi belum boleh pacaran." Suara tegas ayahnya membuat Qilla dan Adit mendesah kecewa. "Tapi Adit udah ke sini Yah." "Nggak papa Qil," sahut Adit sambil tersenyum dan menggenggam tangan Qilla.   Uhukk!   "Tangannya dijaga," ucap Dewa sambil menatap lantai, tapi Qilla tahu jika Dewa sedang mengejeknya saat ini. "Ya udah kalau gitu aku pulang dulu. Om makasih atas waktunya." Adit berdiri dan berpamitan pada ayah Qilla. Qilla mengikuti Adit yang berjalan ke luar rumah. Gadis itu terlihat bingung harus mengatakan apa. Dia kecewa dan Qilla yakin Adit juga merasakan hal yang sama. "Maaf ya Dit," ucap Qilla dengan menyesal. Adit hanya tersenyum lemah dan mengangguk, "Bener kata kamu, ayah kamu nyeremin." Qilla tersenyum kecut mendengar itu. "Kita masih.. uhm.. masih deket 'kan?" Tanya Qilla pelan. "Yaiyalah Qil!" Adit tertawa kecil mendengar pertanyan Qilla yang konyol. "Kalo gitu besok berangkat kuliah jemput ya? Kan ayah udah tau jadi nggak perlu ngumpet lagi."  Adit terlihat terdiam sejenak tapi pada akhirnya dia juga mengangguk mengiyakan. "Qill, cowok yang ada di rumahmu tadi siapa? Kakak kamu?" tanya Adit sambil memakai helmnya. Pria itu memang ke rumahnya menggunakan motor, berbeda dengan sebelumnya yang sering menggunakan mobil. "Yang mana?" tanya Qilla bingung. "Yang itu … ” Tunjuk Adit pada teras rumah Qilla yang menampilkan Dewa dan Ayahnya yang sedang berbincang-bincang. "Ohh itu Om Dewa." "Om kamu?" tanya Adit kurang percaya mengingat sepertinya pria itu masih terlihat muda untuk menjadi paman Qilla. "Bukan, tetangga sebelah." Adit hanya mengangguk dan mulai menyalakan motornya. Sekali lagi dia pamit pada Qilla dan berlalu pergi. Qilla kembali masuk ke dalam rumah dan melewati Dewa dan Ayahnya begitu saja tanpa menyapanya terlebih dahulu. Dia sedang kesal sekarang, itu saja. "Qill?" Panggil Dewa membuat langkah Qilla terhenti. "Nggak mau ngomong sama situ," ucap Qilla ketus. Dewa tersenyum dan menghampiri Qilla, "Mau martabak Pak Udin nggak?" Dengan cepat Qilla berbalik dan menatap Dewa angkuh, "Martabak manis, 12 rasa, ukuran jumbo. Deal?" Qilla mengulurkan tangannya pada Dewa setelah mengucapkan itu. Dewa terkekeh dan menjabat tangan Qilla, "Deal!" "Aduh Dewa jangan manjain Qilla terus." "Nggak papa Pak." Dewa membalas ucapan Ayah Qilla dan kembali beralih ke Qilla, "Udah ganti baju sama, aku tunggu di rumah." Dengan cepat Qilla mengangguk dan berlari masuk ke rumahnya untuk berganti pakaian. Sebenarnya martabak Pak Udin tidaklah jauh dari perumahannya, tapi jika Dewa sudah menyuruhnya untuk berganti pakaian berarti bukan hanya martabak Pak Udin yang menjadi tujuan mereka. Biasanya malam minggu seperti ini, mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk wisata kuliner.   Biasa.. jomblo mah suka gitu.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN