Happy Reading ^_^
***
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya dokter Hans sambil memerhatikan Chrystal yang terlihat rileks duduk di pinggir tebing pantai yang tak terlalu tinggi ini. Matanya mengedar dengan sopan dan beberapa helai rambutnya berterbangan karena semilir angin menerpa.
“Jauh lebih rileks dari sebelumnya.” jawab Chrystal dengan tatapan yang tetap tertuju pada hamparan laut biru di depan sana. Kemudian dia menambahkan dengan kekehan ringan. “Dulu aku dan Rossy selalu bepergian setiap berada di mood yang buruk. Dan hal ini selalu ampuh untuk mengembalikan mood kita berdua.”
“Kalau begitu kau harus sering-sering berlibur, Esther.”
“Aku sering berjalan-jalan dengan Pippo belakangan ini.” jawab Chrystal sambil membawa-bawa nama anjing kesayangannya selama di Selandia Baru.
“Kau berjalan-jalan dengan Pippo hanya di sekitaran rumah, sedangkan yang aku maksud benar-benar berlibur. Jauh dari rumah dan banyak mengeksplor hal baru. Kau tidak lupa kan kalau sekarang sedang berada di Selandia Baru? Ada banyak tempat menarik di sini. Dan sejujurnya, aku pun tidak keberatan kalau kau ingin melakukannya. Aku siap menemani.”
Pandangan Chrystal teralihkan. Dia menatap dokter Hans lekat-lekat. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan Selandia Baru di saat ada banyak kenangan manis serta buruk yang menimpanya selama berlibur di sini? Semuanya benar-benar tak terlupakan.
“Alihkan beban yang bercokol dengan berlibur santai. Siapa tahu pikiranmu akan dunia yang kau pikir sudah hancur akan berubah. Bahwa semuanya masih baik-baik saja, meskipun tanpa dia. Dengan begitu kau akan lebih mudah untuk merelakan dan akhirnya melupakan dia.”
Chrystal mencoba tersenyum walau rasanya sangat menyesakkan. Mencintai seseorang sampai rasanya mau gila benar-benar bencana. Dia bahkan tidak bisa melepaskan pria itu meski sudah tak terhitung berapa kali hatinya hancur.
“Aku kembali ke mobil sebentar, okay? Masih ada beberapa barang yang aku siapkan untuk piknik kecil-kecilan ini. Kau tidak keberatan kan, Esther?”
Chrystal mengangguk. “Ambillah. Aku akan menunggu di sini.”
Dokter Hans mengangguk lalu meninggalkan Chrystal di pinggir tebing pantai sendirian. Dan dalam kesendirian itu, Chrystal bertekad untuk merelakan semuanya seperti perintah dokter Hans. Hubungannya dengan Christopher bisa dibilang sebagai hubungan yang toxic. Dia tidak bisa lepas dengan mudah karena hatinya selalu menyayangkannya. Padahal dia tidak mendapatkan apa pun di sini selain kesakitan yang membuatnya hampir gila. Dia butuh tekat seperti saat dirinya memutuskan untuk menabrakkan mobilnya dan memanipulasi kematiannya. Tidak ada keraguan dan tidak tergoyahkan.
Seiring dengan tekat tersebut, Chrystal memejamkan matanya untuk memberikan sebuah afirmasi positif pada jiwanya yang lewah. Dia harus kuat demi bayinya dan dia harus merelakan Christopher Wang. Dia harus melupakan Christopher Wang.
"Chrys..."
Chrystal mendengar suara yang familiar dari belakang tubuhnya. Matanya langsung terbuka dan kedua tangannya langsung terkepal ketakutan. Dia berdoa agar bisa melupakan Christopher Wang, tapi kenapa barusan dia mendengar suara pria itu tepat di belakang tubuhnya? Apakah dia sedang berhalusinasi?
Tanpa pikir dua kali, Chrystal langsung menengok ke belakang. Dia tidak mau menerka-nerka. Dan matanya langsung membulat saat tahu kalau apa yang di dengarnya baru saja bukanlah sebuah halusinasi. Itu nyata. Christopher Wang memang ada di belakangnya. Bagaimana mungkin pria itu tahu tentang dirinya yang masih hidup dan ada di Selandia Baru?
Berbeda dengan Chrystal yang nampak terkejut sekali, Christopher Wang malah terlihat menitikkan air mata kebahagiaan. Perasaannya begitu campur aduk. Dia sangat bahagia karena sosok Chrystal yang ada di depannya bukanlah khayalan. Istrinya memang masih hidup.
Selama beberapa detik Christopher merasa diberkahi. Sampai kemudian matanya terpaku pada perut Chrystal yang terlihat sedikit membuncit. Chrystal tidak mungkin hamil kan? Dan pria yang dicemburuinya tadi bukanlah suami barunya kan?
Pemikiran itu membuat Christopher tertohok. Kedua tangannya yang tadi memegang buket bunga di depan d**a langsung terjatuh dengan lesunya.
"Chrys... bagaimana kabarmu? Aku bersyukur kau terlihat baik-baik saja..." ucap Christopher yang sebenarnya tidak terlalu merasa bersyukur, apalagi saat sadar ada kemungkinan sang istri sudah berbahagia bersama pria lain dan saat ini sedang mengandung buah hati mereka. Dia kecewa, tapi dia bisa apa? Terlebih lagi dia sudah menyia-nyiakan Chrystal di masa lalu.
"Christ... kau--bagaimana kau tahu kalau aku ada di sini? Bagaimana mungkin kau tahu kalau aku masih hidup?" tanya Chrystal dengan suara gemetar yang kentara sekali.
"Ada banyak hal yang terjadi makanya aku bisa tahu kalau kau masih hidup. Bagaimana kabarmu sekarang, sayang?" Christopher bertanya lagi sambil memberikan lirikan kecewa pada perut Chrystal yang membuncit. Kalau perkiraannya benar, kehamilannya pasti masih di tahap awal. "Aku sangat-sangat merindukanmu, Chrys." tambahnya dengan gestur tangan seperti ingin meraih Chrystal agar masuk ke dalam pelukannya.
"Stop! Jangan mendekat!" larang Chrystal sambil mengibaskan tangannya sebagai bentuk penegasan. Tanpa sadar, kakinya mundur beberapa langkah. "Kenapa kau datang, hah? Kau seharusnya tidak perlu menemui aku meskipun kau tahu kalau aku masih hidup!"
Chrystal panik, begitu juga dengan Christopher. Apalagi saat dia melihat kaki sang istri terus melangkah mundur seiring dengan ketakutannya yang semakin besar. Dan ini berbahaya karena beberapa meter tepat di belakang tubuh istrinya adalah tebing pinggir pantai. Tebingnya memang tidak terlalu tinggi, tapi bukan berarti tidak berbahaya sama sekali.
"Chrys, aku mohon jangan panik. Tenanglah. Jangan mundur terus atau kau akan berada dalam bahaya."
Christopher berusaha membujuk, tapi Chrystal tetap menggeleng dengan keras kepalanya. Apa dia semenakutkan itu sampai sang istri begitu ketakutan hanya dengan melihat dan mendengar beberapa patah kata darinya?
"Meski tahu, kau seharusnya tidak perlu datang. Kau tidak boleh datang. Apa kau belum puas sudah membuat hidupku kacau? Aku sudah hampir gila, tolong jangan buat aku semakin gila, Christ."
"Demi Tuhan aku tidak bermaksud seperti itu, Chrys..." lirih Christopher dengan ekspresi terluka. "Aku kemari murni untuk meminta maaf. Maafkan aku atas segalanya--"
"Aku tidak mau memaafkanmu! Pergilah sekarang juga!"
Christopher semakin panik saat melihat ketakutan sang istri. Chrystal takut padanya, tapi perempuan itu tidak takut pada tebing yang ada di belakangnya. Ini sangat bahaya, pikir Christopher sambil terkenang momen di mana istrinya yang memilih bunuh diri tanpa peduli apa pun lagi. Dan berdasarkan rekam jejak itu, bukan tidak mungkin untuk sang istri lebih memilih jatuh ke laut daripada masuk ke dalam pelukannya.
Tak ingin peristiwa semacam itu terulang lagi, Christopher memilih berlutut. Dengan air mata yang berlinang dan kedua tangan yang bertautan, dia memohon pada Chrystal.
"Aku tidak akan mendekat--demi Tuhan, Chrys! Tapi aku mohon jangan mundur lagi, okay? Ada bahaya di belakangmu." kata Christopher. Pada titik ini dia hanya ingin sang istri baik-baik saja. Dia tidak mau Chrystal terluka, entah itu karena ketidaksengajaan sekali pun.
"Pergilah dari sini--aku mohon!" kata Chrystal dengan frustrasi. Air matanya mengalir dengan deras.
"Aku akan pergi, Chrys. Aku janji. Tapi sebelum itu, menjauhlah dari sana. Jangan membahayakan dirimu lagi." bujuk Christopher dengan sama frustrasinya.
"Esther..."
Dalam keputusasaannya, Christopher mendengar nama lain didengungkan. Dia menengok ke sumber suara dan melihat pria yang tadi bersama Chrystal sudah kembali. Raut wajahnya pun sama paniknya dengan Christopher.
"Esther, jangan bertindak gegabah..."
Christopher terluka melihat istrinya ditenangkan oleh pria itu. Apalagi saat respon sang istri terlihat jauh lebih baik dari saat dirinya yang menenangkan.
"Ini aku. Kau tidak lupa kan siapa aku? Aku dokter sekaligus sahabatmu. Aku tidak akan menyakitimu."
Hatinya semakin terkoyak.
"Sekarang kemarilah. Ambil tanganku dan kita pergi dari sini. Ayo, Esther..."
Dan tanpa pikir dua kali Chrystal langsung berlari ke arah pria itu dan meraih tangannya. Persis seperti perintah pria itu.
Dan pada detik istrinya meraih tangan pria lain untuk menyelamatkan dirinya, detik itu juga Christopher Wang tertunduk lesu dengan harapan yang sudah menguap. Air matanya mengalir semakin deras dan pria itu berusaha menyembunyikannya dengan menutupi separuh wajahnya. Jadi begini rasanya ketika orang yang kau cintai lebih memercayai orang lain untuk menyelamatkan hidupnya. Miris sekali.
TBC