Happy Reading ^_^
***
Christopher duduk dengan kaki disilangkan yang menunjukkan betapa angkuhnya dia saat ini. Salah satu jari tangannya mengetuk-ngetuk pinggiran kursi yang menopang lengannya sejak tadi. Tatapannya terlihat tidak nyaman seiring waktu yang terus bergulir dan tanpa sadar sudah lewat dari janji temu yang sudah disepakati.
Di mana Rossy sekarang, pikir Christopher dengan tidak sabaran. Dan ya, Rossy yang dimaksud Christopher adalah Roseanne Wong, sahabat Chrystal.
Salah satu alasan kenapa dirinya ingin bertemu dengan Rossy adalah untuk memuaskan rasa penasarannya tentang tas-tas Chrystal yang ada di tangan perempuan itu. Walau dia tidak memahami Chrystal dengan baik, tapi Christopher yakin sekali kalau Chrystal tidak akan menjual tas-tasnya. Bagi Chrystal benda-benda itu bukan hanya sekedar tas mahal. Itu adalah hal yang disukainya dan Chrystal tidak akan bernegosiasi untuk hal-hal yang disukainya.
Caranya ini memang terkesan agak tidak sopan untuk ukuran orang yang sedang berusaha memuaskan rasa penasarannya. Roseanne mungkin akan marah besar kalau tahu orang yang ingin membeli tas-tas yang dimilikinya adalah Christopher Wang. Tapi demi Tuhan, dia sudah berusaha sebaik mungkin. Cara sopan pun sudah dia lakukan dengan bertamu secara langsung ke apartemen perempuan itu. Tapi apa yang didapatkan olehnya? Pengusiran langsung. Karena hal itulah dia tidak punya pilihan selain menyuruh orang lain untuk berpura-pura.
Apalagi setelah diselidiki ternyata saat ini Rossy sedang berada dalam tahap ingin menjual sisa tas Chrystal yang ada padanya. Tak ingin terlambat dan membuat dia malah kehilangan semuanya—makanya Christopher memilih cara ini.
Lagi-lagi Christopher melirik arlojinya dan mendengus jengkel karena sosok Rossy belum kunjung datang. Sebersit pemikiran tentang rencananya yang terbongkar oleh sahabat Chrystal itu membuat Christopher jengkel. Apakah orang suruhannya tidak becus bersandiwara sampai semuanya terbongkar secepat ini? Padahal dia sudah memperingatkan pada orang suruhannya kalau sosok Roseanne jadi sangat waspada kalau berhubungan dengan dirinya.
Memang benar kalau dia tidak peduli dengan kebencian Rossy padanya –atau lebih tepatnya kebencian semua orang padanya- karena dianggap sebagai penyebab kematian Chrystal. Tapi demi Tuhan, ada sesuatu yang janggal di sini dan dia harus bertemu Rossy. Kalau cara ini gagal, apalagi yang harus dia lakukan untuk bisa bertemu dengan Roseanne Wong? Bagaimana pun juga dia harus menuntaskan rasa penasarannya.
Tapi Christopher bersyukur karena plan B yang sedang disusunnya sepertinya tidak perlu dilakukan. Sosok Roseanne hadir dan membuat mata Christopher berbinar penuh kepuasan. Semuanya butuh waktu dan dia yang terlalu tidak sabaran tadi, pikirnya.
Lain dengan Christopher yang begitu senang melihat kehadiran Rossy, perempuan itu –Roseanne Wong- justru terlihat terkejut sekali. Dia berniat berbalik untuk kabur, tapi sayangnya orang yang menyambutnya di lobby restoran tadi sudah menutup pintu private room ini. Bahkan pria itu menghalangi pintu dengan tubuhnya yang lumayan besar.
Sadar bahwa dirinya sudah dijebak dan tidak ada celah untuk keluar dari ruangan ini, Roseanne memilih untuk mengikuti permainan Christopher. Dengan ekspresi masam Rossy menarik kursi yang agak jauh dari pria yang menjadi penyebab sahabatnya, Chrystalline Tan, memilih bunuh diri.
“Kenapa kau ada di sini, Christ? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku sampai melakukan ini, hah?!” ujar Rossy dengan nada ketus. Tatapan muaknya benar-benar kentara sekali.
Dan karena sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh orang-orang yang membencinya, Christopher mengangkat bahunya dengan cuek. Dia menjawab dengan santai.
“Memangnya apa yang kulakukan, Rossy? Aku hanya mengajakmu bertemu untuk melakukan perdagangan. Kenapa sikapmu seolah-olah aku menculikmu dan berniat mencuri semua tas-tas itu, hm?”
Roseanne langsung meradang. Dia tidak suka ketika Christopher bisa sesantai ini. Dia adalah penyebab semua kemalangan Chrystal, tapi bagaimana mungkin dia sesantai ini? Sangat tidak adil, batin Rossy.
“Lalu apa sikap yang pas untuk mendeskripsikan caramu dalam kegiatan perdagangan ini? Kau jelas-jelas berbohong tentang identitasmu,” cibir Rossy mengingat orang macam apa yang ingin membeli tas-tas yang dijualnya. Katanya, tuannya adalah seorang suami yang ingin membelikan istrinya beberapa tas sebagai kado anniversary pernikahan mereka. Tapi lihatlah siapa sang suami yang terkesan sangat baik itu, batin Rossy seraya melemparkan lirikan tajam ke arah Christopher dan juga orang suruhannya. “Kau bilang ini untuk istrimu? Istri yang mana, Christ? Atau jangan-jangan tanpa sepengetahuan orang lain kau menjilat ludahmu sendiri dan menikah dengan perempuan lain, hm? Woah, kau luar biasa.” tambah Roseanne dengan suara mengejek.
Christopher langsung menampilkan ekspresi tersinggung. “Tutup mulutmu selagi bisa, Roseanne Wong. Jangan sombong hanya karena aku terus membiarkan mulutmu setiap kali kau menghinaku. Kalau kau bukan sahabatnya Chrystal, aku pasti sudah memberi pelajaran pada mulutmu yang sombong itu.” ucap Christopher dengan nada kasar.
Sosok Rossy langsung terlihat gentar karena ucapan Christopher yang cukup kasar itu. Tapi meskipun begitu dia tetap mengetatkan rahangnya agar pria itu tidak semakin merasa di atas awan dan terus mengancamnya. Dia tidak boleh takut.
“.... apa kau pikir hanya kau saja yang muak? Aku juga muak denganmu, Roseanne Wong.” lanjut Christopher dengan tajam. “Aku tak ingin membuang-buang waktu, jadi ayo kita ke intinya saja.”
“....”
“Ada berapa banyak tas Chrystal yang kau miliki? Kumpulkan semuanya dan berikan padaku dalam waktu 1x24 jam. Aku akan membeli semuanya dengan harga yang pantas.”
“Aku tidak jadi menjualnya. Ralat, sebenarnya aku tidak mau menjualnya karena kaulah pembelinya. Jadi, bisakah aku pergi sekarang, Tuan Christopher?” kata Rossy dengan percaya dirinya. Dia memiliki apa yang diinginkan Christopher, jadi kepercayaan dirinya benar-benar meningkat.
“Jangan main-main dengan aku, Roseanne. Kau jelas-jelas membutuhkan uang-uang itu, jadi jangan keras kepala.”
Roseanne mengubah posisi duduknya menjadi condong ke depan. Salah satu tangannya terlipat di atas meja, sementara yang satunya lagi menopang pipinya. “Aku memang membutuhkannya, tapi aku tidak sefrustrasi itu sampai menjualnya padamu. Intinya, aku tidak akan menjualnya padamu –titik.”
“Dan kenapa kau tidak mau menjualnya padaku? Aku suaminya. Dari sekian banyak orang, aku merasa menjadi orang yang pantas untuk memiliki semua itu.”
“Aku tidak akan menjual tas-tas Chrystal pada laki-laki yang sudah menyakiti Chrystal.”
“Tapi aku suaminya.” Christopher berkeras.
“Aku tidak peduli.”
Mendengar itu, sikap duduk Christopher pun langsung berubah. Dia ikut mencondongkan tubuhnya ke depan, sementara kedua tangannya bertautan di atas meja. Sorot matanya menuntut sebuah penjelasan yang lebih dalam karena ketidakinginan Rossy untuk menjual tas-tas mendiang istrinya.
“Tadinya aku hanya ingin membeli tas-tas peninggalan Chrystal. Aku hanya ingin menjaganya sebaik mungkin dan mengenangnya kala merindukan Chrystal –tapi melihat sikapmu yang seperti ini aku jadi penasaran akan beberapa hal,” Christopher menatap Roseanne lambat-lambat. “bagaimana kau bisa memiliki tas Chrystal, Rossy? Ini bukan perkara satu atau dua tas –tapi banyak. Kau punya banyak tas Chrystal tanpa sepengetahuanku.”
“Kau pikir dari mana aku mendapatkan tas-tas ini? Merampoknya? Jangan konyol,” ujar Rossy sambil melemparkan tatapan mengejek. “Aku membelinya. Chrystal yang menjual semua tas-tas itu.”
“Dan kenapa Chrystal menjualnya, Rossy? Aku tidak merasa Chrystal kekurangan uang sepeser pun.”
“Apa kau pikir satu-satunya alasan seseorang menjual tas branded hanya karena dia butuh uang? Chrystal bosan dengan tas-tas itu makanya dia menjualnya padaku,” seloroh Rossy dengan tidak terima. “dan berhentilah bersikap seolah-olah kau tahu segalanya. Kau jelas tidak tahu apa pun, Christopher Wang.” tambah Rossy dengan nada yang semakin ketus.
“Aku memang tidak mengenal Chrystal dengan baik, Rossy, tapi aku cukup yakin kalau Chrystal tidak akan pernah menjual tasnya bahkan dalam keadaan terdesak sekali pun. Dia sangat menghargai tas yang sudah ada dalam genggamannya. Kau sahabatnya, jadi aku yakin kau tahu lebih baik daripada aku, Rossy.”
Dan –entah kenapa- sosok Rossy langsung terlihat gelisah. Dia terlihat tidak nyaman seolah-olah dia membenarkan perkataan Christopher. Tapi di sisi lain dia juga menyembunyikan sesuatu. Melihat gelagat itu, Christopher semakin gencar menekan Rossy. Dia harus menuntaskan rasa penasarannya.
“Tas-tas Chrystal yang ada padaku adalah urusanku dengan Chrystal semasa dia masih hidup. Dia menjualnya dan aku membelinya. Dan ini semua selesai sejak lama, jadi tidak perlu dibahas lagi.”
“Aku hanya bertanya, Rossy, lalu kenapa kau segugup ini?” Christopher sedikit menyeringai yang mana pada titik ini terlihat sangat menakutkan. Roseanne semakin gelisah saja.
“Dan aku tidak mau membahasnya.” sela Rossy dengan ekspresi yang dibuat sepercaya diri mungkin. “Aku tidak mau membahasnya, apalagi menjualnya padamu. Titik.”
Christopher menarik punggungnya agar kembali duduk tegak. Ekspresinya terlihat main-main sekarang. “Baiklah kalau kau tidak mau membahasnya atau menjual tas-tas itu padaku –tidak masalah. Tapi bisakah kau menunjukkan bukti pembelian tas-tas itu padaku?”
Kegelisahan Roseanne semakin menjadi-jadi.
“Bukankah aku sudah bilang tidak mau membahasnya?”
“Ya, aku tidak akan membahasnya lagi setelah kau menunjukkan bukti pembelian tas-tas itu padaku. Aku tidak akan mengusik kau lagi, Rossy.”
Roseanne terlihat frustrasi. “Apa yang sebenarnya kau inginkan dari semua percakapan ini, Christopher?”
“Sebuah kejelasan.”
Singkat dan jelas. Christopher mengamati dan yakin kalau Roseanne memahaminya dengan jelas. Saking jelasnya, kedua tangannya tanpa sadar terkepal gelisah.
“Meskipun kalian adalah sahabat yang sangat dekat, tapi aku yakin sekali untuk sesuatu yang sifatnya sensitif seperti ini semuanya pasti dilakukan dengan cara jelas. Dan saking jelasnya, pasti ada sesuatu yang bisa membuktikannya. Dan itulah yang aku maksud dari percakapan kita sejak tadi, Rossy.”
Roseanne terlihat muak dengan cara berbicara Christopher yang terkesan mempermainkannya. Tapi di sisi lain Christopher malah senang sekali dengan respon Roseanne yang seperti ini. Ini semakin memperjelas kalau ada sesuatu yang disembunyikan mati-matian oleh perempuan itu.
“Aku tidak membawanya. Untuk apa aku membawa bukti pembelian itu ke mana-mana, hah?”
“Oh, tidak masalah. Aku punya banyak waktu luang untuk pulang bersamamu dan melihat bukti pembelian itu secara langsung. So, kita pergi sekarang?”
Rossy benar-benar sudah tidak tahan dengan kelakuan Christopher. Dengan keberanian yang dia kumpulkan, perempuan itu bangkit dari duduknya. Dia menunjuk Christopher dengan tajam.
“Berhenti bersikap seolah-olah kau pria baik yang bertanggung jawab, Christopher Wang. Nyatanya Chrystal sudah meninggal dan dia tidak akan pernah hidup lagi. Jadi berhenti juga mengungkit hal-hal tak berguna hanya karena kau penasaran.”
“....”
“Ingat kata-kataku dengan baik... Chrystal jauh lebih memilih mati daripada hidup. Dan semua itu karena dirimu. Semua ini salahmu, jadi berhentilah mencari penenang untuk hatimu yang terluka. Kau tetap tidak termaafkan meskipun kau mengumpulkan puluhan tas Chrystal yang sudah dijualnya pada orang selain aku.”
“....”
“Dan untuk masalah tas, aku tidak mau menjualnya padamu karena aku tidak mau bagian dari diri Chrystal bertemu lagi denganmu. Kau tidak pantas untuk bersama dengan Chrystal, bahkan dalam bentuk tasnya sekali pun.”
Christopher terluka. Perkataan Roseanne selalu tepat jika menyangkut kematian Chrystal. Tapi tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Christopher jauh lebih tegar karena merasa sudah terbiasa. Apalagi setelah dia sadar kalau Roseanne selalu melontarkan kata-kata kasarnya di kala terdesak. Beginilah caranya untuk memukul mundur Christopher. Ini semakin memperjelas kalau Roseanne memang menyembunyikan sesuatu dan sedang berusaha menutupinya sebaik mungkin.
Dan sebaik apa pun Roseanne menutupi, Christopher harus bisa membongkarnya. Ini pasti sepadan dengan hasil apa pun yang akan didapatnya nanti, yakin Christopher sambil mengamati kepergian Roseanne yang terkesan buru-buru.
***
Side Story
Roseanne Wong terlihat gelisah di dalam apartemennya. Dia terus berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kukunya yang terlihat cantik dibalut kuteks warna nude. Rasa frustrasinya ini disebabkan oleh Christopher yang secara tiba-tiba mengusiknya dan mempertanyakan banyak hal. Rossy rasa Christopher mencurigai sesuatu dan ini berkaitan dengan sosok Chrystal yang masih hidup dan ada di Selandia Baru saat ini.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah... kenapa Christopher secara tiba-tiba mencurigai sesuatu? Apa ada clue yang didapatkan pria itu sampai berani mendesak dirinya seperti sekarang? Padahal mereka sebelumnya sudah tidak bersinggungan lagi sejak Chrystal palsu dimakamkan.
Dan rasa frustrasi Rossy semakin menjadi-jadi saat seseorang di seberang sana tak kunjung mengangkat teleponnya. Tak hilang arah, dia menelpon sekali lagi. Dan Tuhan memberkati panggilannya kali ini. Tak lama berselang panggilannya diangkat oleh orang di seberang sana.
“Paman Jonathan, Christopher Wang sepertinya mencurigai sesuatu. Apa yang harus kita lakukan sekarang untuk tetap menyembunyikan Chrystal?”
Dan Paman Jonathan yang ditelponnya adalah Jonathan Tan.
Dia adalah Papa Chrystal.
Sekutunya selama ini.
TBC