Tita baru sampai kemarin malam tapi rasa kangen nya pada sekolah, membuatnya memaksakan diri untuk tetap masuk sekolah meski sedikit jatlag.
Huff.....Tita menghembuskan napas, sambil menyedot jus jambu kesukaannya. Pandangannya mengedar sekeliling kelas, belum ada tanda-tanda sahabatnya datang.
Tita duduk di kursi ke dua dari depan, sedangkan Ayla disampingnya dan Deandra dibelakangnya. Kelas mereka menerapkan sistem satu meja satu siswa. Satu kelas pun tidak banyak hanya sekitar 25 orang.
Tita melirik jam tangan hello kitty nya. Waktu menunjukan masih ada waktu satu jam lagi sampe bel masuk berbunyi. Dia buka hp berlogo apel kegigit itu, seperti biasa mengecek beberapa notice yg muncul di layar.
Tita baru ingat selama seminggu di New York, dia sama sekali tidak bawa hp, padahal nyawa hidup seorang remaja terletak pada hp nya. Mau gimana lagi dia "Diculik". Begitu sampe Jakarta hal pertama yang wajib Tita cek Cuma satu. HP!
Sudah Tita duga ratusan notice berdenting tang ting tung berkali-kali dari hp nya. Yang pasti paling banyak dari duo weirdo kentalnya "Ayla & Dea". Belum lagi dari grup SMA, grup SMP, grup SD bahkan sampe grup TK. Mata tita berkilat menscan japri-japri di WA nya siapa tau ada japri penting. Dan.....voila..!! ADA! Japri dari..............Zerico.
Pesan singkat yang cukup mewakili karakter zerico di mata tita. Isinya singkat padat dan jelas.
"Hai, Tita. Apa kabar?"
Tuh kan! Alarm di hati Tita berdentang keras, menimbulkan bunyi Dag! Dig! Dug! Der! Kaya kembang api di malam tahun baru. Cukup satu pesan dari Zerico dan itu sukses membuat pipi Tita merona dan senyum merekah sepanjang hari, "ah indahnya". Pikir tita.
"Aduh jawab apa ya?" Tita masih berpikir keras dan menenangkan hati nya yg berdegup deg-degan sambil berbicara dalam hati. Akhirnya terlintas ide menjawab dengan nada tidak panik.
"Hai juga zerico. Hmm Tita baik. Kamu apa kabar?" Aduuuuh rasanya tita pengen meloncat dari bumi nusantara yang katanya gemah ripah loh jinawi ini. Biar Tita nggak perlu deg-degan nunggu balesan dari Zerico. Tanpa sadar Tita mencet icon kirim dan voilah! Dalam itungan detik pesan itu terdampar di layanan Whatapp nya Zerico.
"Hah! Ko terkirim". Pekik tita dalam hati. Detik berikutnya centang nya sudah berubah menjadi biru. "Waduh udah dibaca lagi". Tita mulai menggigiti kuku nya yang terpotong pendek itu. Untuk menenangkan hati dag-dig-dug nya tita memilih menghabiskan jus nya dengan sekali sedot, sampe tiba-tiba......
"Seminggu nggak masuk. Liburan kemana aja lo, Ta?"
Tita tersedak mendengar suara Ayla. Temen nya yang satu ini udah suaranya kenceng, hobby nya ngagetin pula. Pake nepuk punggung tita keras banget lagi. Sampe jus jambu nya tita hampir nyembur. Tita buru-buru menyembunyikan hp nya tanpa sempat melihat lagi pesan balasan nya.
"Iya nih. Mentang-mentang udah kelar UNBK main kabur aja. Kemarin udah mulai latihan graduation lho". Tambah Deandra.
"Ehm.. anu, tante Mel lahiran di Surabaya. Gue jadi terpaksa ijin deh". Tanpa temannya sadari tita menghembuskan napas lega. Tante mel emang lahiran tapi dua minggu yang lalu.
"Waduh, kayanya Tita bakal jadi sering bo'ong nih ama ayla and dea. Jangan sampe mereka tahu kalau Tita udah married". Katanya dalam hati.
Entah kenapa Tita merasa tiba-tiba meremang ingat kejadian selama seminggu nya di Negeri paman Sam itu. Kalaupun ada yang patut disyukuri nya cuma pas melihat-lihat universitas ternama di sekitar Manhattan.
Tiba-tiba Tita merasa bodoh mensyukuri menikah dengan Al. Tanpa sadar dia memukul-mukul kepalanya pelan "Oh I'm stupid". Pekiknya dalam hati.
"Kenapa lo, Ta?" tanya Dea penasaran. "Hmm nggak kenapa-kenapa ko. Oya ko di lapangan pada rame sih. Emang ada apaan?"
Sedari pagi tadi pas Tita masuk sekolah, memang ada yang beda dengan suasana sekolah. Terlihat ada panggung dan bendera kecil warna-warni berkibar dari ujung tiang ke tiang lainnya. Membuat suasana seperti ada pesta ulang tahun saja.
"Dih. Lu nggak inget hari ini hari apa? Kita kan ada pensi buat try out bersama. Tuh lu liat aja di jendela udah banyak anak-anak SMP pada dateng kan?" Ayla menjawab rasa penasaran tita.
Oiya tita baru inget kalau hari ini kelas XII udah nggak belajar dan ada pensi pula. Beberapa adik kelas X dan XI bahkan ada yang lari-lari dengan kostum dance dan lain-lain. Berarti. Hari ini. Nggak belajar dong? Mood Tita langsung naik. Senyum pepsodent langsung terpampang di wajah nya.
"Yes, berarti free class dong?" tanya Tita.
"Jiaaah kita udah kelas XII neng. UNBK juga udah kelar. Ya nggak belajar lah. Tinggal latihan graduation aja. Tapi buat hari ini mending ke kantin yuk. Gue belom sarapan nih. Kangen gue ama baso mercon nya mba kwuat". Kata Dea sambil nyengir kuda
"Gila, Dea. Lu sarapan aja baso mercon apa kabar makan siang lu?" kali ini Ayla bertanya sambil setengah mengejek.
"Ayam geprek. Puas lu?" Balas Dea.
Tita ngikik sendiri melihat kelakuan dua sahabatnya ini. Mereka itu udah kaya Tom and Jerry tapi nggak rela kalau dipisahin kelamaan. Sambil geleng-geleng kepala Tita mengamit tangan keduanya.
"Udah ke kantin aja yuk. Pensi nya mulai jam berapa sih?" Tanya nya.
Ayla melirik jam tangan gambar vespa nya. Ternyata udah jam 8 lewat. "Kata anak OSIS sih mulai jam 9.30" Jawab nya.
*****
Suasana kantin memang selalu ramai. Apalagi semua siswa hari ini sedang free class karena sedang ada event tahunan sekolah dan pensi. Beberapa siswa bahkan terlihat lalu-lalang mengenakan kostum. Dan sekarang disinilah Tita, Ayla dan Dea memilih duduk. Di pojok kantin yang pemandangannya langsung ke arah lapangan, sambil melihat anak-anak Band mulai menata alat musik nya di panggung. Mereka sengaja duduk di depan warung baso nya mba kwuat, baso sejuta umat kalau kata para murid mah. Udah baso nya enak, banyak, murah lagi. Apalagi dengan lebel 'Mercon' di belakangnya membuat baso ini bisa dipesan dengan level kepedesan tertentu yang dijamin bisa ngalahin samyang challenge atau kripik mak icih.
Tita sendiri cuma berani pesen setengah porsi dengan tingkat kepedesan level terendah. Nggak berani ngadepin mami yang bakal ngomel tujuh keliling kalau sampai Tita sakit perut gara-gara makan baso mercon. Mereka mengobrol sambil mengomentari anak-anak SMP yang jadi tamu hari ini. Sambil tertawa-tawa membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain. Sampai Ayla ingat sesuatu.
"Ngomong-ngomong, lu beneran udah tunangan, Ta?"
Sukses ucapan Ayla itu bikin kuah baso di mulut Tita nyembur.
"Ih Tita, lu jorok". Ayla langsung bergidik jijik sambil mengambil tisu dan dengan ogah mengelap muncratan air di depan meja nya. Tita masih terbatuk-batuk ketika Dea membantu menepuk punggungnya pelan tapi emang dasar Dea juga nggak pekaan. Bertanya juga dia
"Iya, Ta. Terakhir kita teleponan, lu bilang mau ada anak temen bokap lu yang mau dateng. Abis itu hp lu tiba-tiba nggak bisa dihubungi. Kata mba Ita, lu liburan sekeluarga".
Setelah reda dengan batuk nya akhirnya Tita menjawab juga. "Ehm anak temennya papa udah tua ko. Jauh juga umurnya diatas gue. Dia datang cuma buat urusan bisnis aja ko. Lagian... dia bukan tunangan gue juga. Enak aja". Bantah Tita. "Tapi suami gue". Lanjutnya dalam hati.
"Ooooh begitu". Kali ini Ayla dan Dea memandangnya dengan senyum menggoda seolah sadar Tita sedang berbohong. Ayla menopang dagunya sambil tersenyum menggoda pada Tita.
"Pasti.... Dia ganteng". Katanya lambat-lambat.
Tita refleks membayangkan tubuh kekarnya Al, wajah dengan rahang tegas nya, apalagi Tita sempat mendapati Al memakai kaca mata baca dengan ekspresi seriusnya, membuatnya terlihat hmm sebagai pria dewasa. Blush tanpa sadar wajah Tita merona. Menampakan semburat pink di wajah putihnya.
Flashback.
Rasanya seperti De Javu bangun tidur di suatu kamar yang asing dengan dinding-dinding full kaca, tapi kali ini bukan pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang Tita lihat melainkan laut seperti di pelabuhan dengan banyak yacht sedang berlabung di pinggirnya. Aneh rasanya Tita tidak ingat semalam ia berjalan memasuki kamar ini. Terakhir ia ingat, dia ketiduran di mobil limosin yang membawanya bersama Al berdua.
Dia ingat Al mengajaknya untuk menikmati suasana malam kota Manhattan dan entah kenapa dia malah berada di sebuah cottage yang sepertinya berada sangat dekat dengan dermaga atau pelabuhan.
Tok tok tok! Tiba-tiba pintu kamar bercat putih itu diketuk dari luar. "masuk". Kata Tita. Dan seorang wanita paruh baya datang membawakan nampan penuh berisi sarapan. Wow tita membelalakan mata melihat banyak nya menu untuk sarapan. Tita rasa ini hanya ditunjukan untuk satu orang, dirinya.
"Good morning, madam. Here is your breakfast. Perkenalkan saya Matilda. Pelayan disini". Wanita itu tersenyum dan dengan sopan menaruh baki sarapan yang berbentuk seperti meja kecil itu di hadapan Tita.
Hmm aroma croissant hangat dengan isian scrambled eggs, lettuce with ham and cheese, diatasnya ditaburi sedikit spring onion. Hmm tak lupa aroma segelas hot chocolate menguar di udara. Membuat perut Tita langsung keroncongan. Belum lagi beberapa buah seperti angur dan apel yang sudah di kupas kulitnya disajikan sebagai pencuci mulutnya.
"Tuan meminta saya untuk menyajikan sarapan anda di kamar, lalu meminta saya untuk menyuruh anda mandi dan pakaian yang sudah disediakan untuk anda ada di lemari sebelah sana, nyonya". Tunjuknya pada lemari besar berwarna putih di sudut ruangan.
"Bila anda mencari tuan, sekarang beliau sedang ada di salah satu yacht nya di pelabuhan di bawah sana. Nanti putra saya, Matthew akan mengantar anda kesana". Wanita ini menjelaskan sebelum Tita bertanya, seakan tau isi kepala Tita.
"Baiklah kalau begitu saya undur diri nyonya muda". Wanita itu tersenyum hangat pada Tita.
"Tunggu". Kata Tita tiba-tiba menahan kepergian Matilda.
"Bagaimana aku bisa ada di kamar ini? Maksudku hmm seingatku, aku tak pernah berjalan kesini".
"Anda tak mengingatnya, nyonya?" Tanya Matilda balik. Tita menggeleng.
"Tuan menggendong anda sampai kesini". Kata Matilda dengan tersipu seolah dia melihat dirinya yang masih muda dan sedang kasmaran.
"Tapi kalau anda bertanya soal bagaimana pakaian anda bisa berganti? Anda tenang saja, saya yang membantu menggantikan pakaian anda semalam". Katanya dengan senyum menggoda.
Astaga Tita baru sadar kalau dirinya sudah berganti pakaian dengan gaun tidur berwarna putih gading. Lalu setelah Matilda pamit dengan tanpa malu-malu Tita langsung menyantap sarapannya. Selesai itu mandi, berpakaian santai dengan kaos dan celana panjang, dia mulai berpikir mencari Al untuk meminta penjelasan.
Dengan diantar matthew salah satu pelayan juga disini. Tita sampai juga di pinggir sungai Hudson yang terkenal itu, melihat Al dengan yacht nya yang sedang mendekat.
Tita terbelalak ini pertama kali nya dia liat Yacht. Al mendekat dan mengulurkan tangan dan menyuruhnya naik.
"Is it your first time?" Tanya nya
"Yeah. Wow it's beautiful". Jawab Tita
"Dasar norak". Al tertawa mengejek. Tita yang mendengarnya langsung ingin melempar lelaki ini ke sungai Hudson biar dia hanyut sampe ke atlantik.
Al melihat supir yacht nya dan supir itu mengangguk lalu dia turun dan Al yang mengambil alih kemudi.
"Ehmm Al hmm anu... hmm semalem hmm Tita tidur sendiri kan?" Akhirnya Tita berhasil bertanya dengan takut-takut, menyuarakan pertanyaannya dengan susah payah. Al mendengus tapi tersenyum tipis.
"Kau berharap aku menidurimu begitu?" Tanya nya sambil menjalankan yacht nya dan membawanya ke tengah sungai. Ck! Tita langsung manyun, berbicara dengan orang ini harus punya gudang kesabaran ekstra.
"Tenang saja, aku tidak berminat meniduri anak kecil yang bahkan dadanya saja belum tumbuh". Tanpa Tita sadari ternyata yacht ini sudah berhenti di tengah sungai Hudson.
Al sudah mendekat padanya dan berdiri bersidekap memandangnya dari atas hingga bawah dan berhenti di buah dadanya. Refleks Tita mengangkat tangan menutupi dadanya. Al langsung menggeleng dengan tatapan tidak nafsu. Benar-benar orang ini wajib ditenggelamkan. Pikir Tita.
"Kita tidur terpisah semalam". Tita langsung menghembuskan napas lega.
Al mendekat pada Tita, tangannya memegang pundak Tita. Dan suaranya jadi sedikit melembut. "Siang ini jet pribadiku akan disiapkan untuk mengantarmu. Kau tidak keberatan naik pesawat sendirian, bukan?." Entah kenapa suara Al yang lembut dan bersahabat begini membuat jantung Tita berdetak tiga kali lebih cepat. Wajahnya bahkan memerah ketika tangan Al dengan lembut mengusap lengannya. Tita memberanikan diri mendongak melihat wajah Al. Di mata Tita, Al bukan lelaki yang jelek tapi bukan yang tertampan juga. Tampilannya hmm apa ya? Segar. Hanya kata itu yang mampu keluar dari otak Tita sekarang. Dengan wangi kekayuan dan mint dari parfum mahal miliknya, membuat Tita harus menahan kegugupannya.
"Baiklah. Kau akan minta Manila membelikan obat tidur sebelum aku berangkat, kan?". Tanya Tita dengan mata bulat besar nya. Membuat nya terlihat polos dan menggemaskan.
"Hahaha Kau berniat pingsan selama perjalanan?". Tanya Al balik
"Jangan pernah katakan pulang lagi, Tita. Mulai sekarang rumah mu disini. Dimana suami mu berada, disitu lah rumah mu. Kau paham?". Tambahnya. Tanpa aba-aba, bibir Al sudah mendarat dan mengecup kening Tita.
Flashback End.
Wajah Tita memerah mengingat posisinya di yacht tempo hari. Hal itu tak luput dari pandangan kedua temannya.
"Gue rasa beneran ganteng tuh orang, De." Kata Ayla pada Deandra ini telah membuyarkan lamunan indah Tita dalam sekejap.
"Lu yakin ta, kagak dijodohin ama dia?" kejar Dea sambil mengedipkan mata pada Tita.
"Ya ampun, Alfard itu umurnya aja udah 30 tahun. Dua kali lipat ama umur kita, girls. Lu kira gue mau apa dijodohin sama om-om kaya gitu." Tita sengaja meneguk air putih untuk menetralkan suaranya yang bergetar karena berbohong.
"Siapa tadi namanya kata lo, Ta?" tanya Ayla lagi.
"Namanya nggak penting. Udah ah". Balas Tita.
"Nggak tadi lu nyebutin nama, sumpah. Al Al apa gitu? Al-Ghazali?"
Deandra langsung tertawa terbahak. Iya kali Al yang itu bisa kenal ama ini anak pikirnya.
"Alfard, Ayla. Dia nyebut nama Alfard tadi. Bener nggak?" kata Dea.
Sumpah ya Tita merasa Dea suka jadi cerdas tidak pada waktunya. Tita langsung melotot melihat Dea, anaknya malah cuek aja sambil senyum-senyum bangga dia berhasil menebak kata sulit dari kalimat panjang Tita.
Baru Ayla mau menanggapi omongan Dea, tiba-tiba suara seseorang memanggil Tita.
"Tita". Sesosok pria muda mendekati mereka. Ternyata Zerico.
"Ecieeeeeee!!! Ehem ehem ehem". Teman-temannya mulai gaduh bersorak. Seolah lupa dengan obrolan mereka barusan. Tersapu oleh pesona personil band sekolah ini.
Tita nyaris saja syok dengan jantung yang hampir copot. Ya ampun! Zerico! Pesan WA nya belum Tita bales! Gara-gara permasalahan yang dihadapinya Tita sampai lupa kalau ia masih memiliki gebetan yang entah kenapa mulai berbalik perhatian padanya. Bagaimana ini?!!