Malu

840 Kata
Rahasia Suamiku Bab 6 ______ Sayup-sayup terdengar perbincangan mereka bertiga. Mas Hakam, Intan dan Bu Karti. Mereka sudah berada di meja kasir. Terlihat Albert yang tadi di gendong Mas Hakam. Sekarang berpindah di gendongan Intan. Ada tiga tas yang tergeletak di meja kasir. Masih kupantau dari sini. Detik-detik malunya orang-orang tidak tahu diri itu. "Totalnya berapa, Mbak?" tanya Mas Hakam pada penjaga kasir. Wanita muda berseragam biru dongker pun mentotal tiga tas dengan bentuk berbeda tersebut. "Semuanya, lima belas juta dua ratus ribu, Pak." jawab wanita berambut sebahu tersebut. Mas Hakam merogoh saku celana di bagian belakang. Ia mengambil dompet yang kuberikan dulu. Dasar lelaki banyak tingkah. Dompet saja pemberianku. Apa lagi isinya, tentu semua hartaku. Dia menikah denganku hanya bermodal cinta. Namun setelah dia hidup enak. Malah bertingkah seenaknya. Akan jadi gembel Mas kamu, setelah bercerai denganku. Tangan Mas Hakam mengangsurkan benda pipih ke pada penjaga kasir. Tentu itu kartu debit entah kartu ATM. Tak terlalu jelas dari sini. Sejurus kemudian. "Maaf, Pak. Kartunya tidak bisa. Mungkin terblokir." ujar wanita muda yang tengah sibuk mengecek lagi kartu yang diberikan Mas Hakam. "Ah, nggak mungkin. Coba yang ini," jemari Mas Hakam menyodorkan dua kartu lagi. Wajah Intan dan ibunya mendadak pias. Raut kepanikan tak dapat mereka sembunyikan. Dan .... "Semua kartu Bapak tidak bisa." kata-kata itu yang sudah kutunggu sejak tadi. Kena kamu Mas! Gimana rasanya? Malu 'kah? Apa lagi banyak pengunjung yang berlalu-lalang. Ya, aku tahu. Kau dan dua wanita itu tidak akan merasa malu. Karena urat malu kalian kan udah putus. "Hakam! Kok kartunya nggak bisa? Kita mau bayar pake apa?" celetuk Bu Karti dengan emosi meledak-ledak. "Aku juga nggak tahu, Bu. Biasanya bisa kok!" balas Mas Hakam tak kalah ngegas. "Udah-udah, jangan bertengkar di sini. Malu dilihat orang." Intan menengahi pertikaian Mas Hakam dan ibunya. Sok bijak sekali dia, Pake bilang malu. Lantas, tak malu kah? Menjalin hubungan dengan pria beristri. Sekalipun sudah menikah dengan lelaki rakus itu. "In, Ibu nggak rela kalau tas ini dibeli orang." protes Bu Karti sambil mengerucutkan bibirnya. Dikira banyak yang simpatik gitu, pake pasang muka cemberut. Lihat saja, bisa tidak manantumu menolong? Aku jadi punya ide untuk semakin membuat mereka kesal. Kusapu pandangan mataku ke segala arah. Aku berjalan ke arah Ibu-ibu yang mungkin usianya kutafsirkan sekitar 50 tahunan. "Bu, bisa tolong saya?" kataku pada dua Ibu-ibu ini. Tanpa membuka maskerku. "Tolong apa ya, Mba?" sahut salah satunya. Kuambil kartu debit milikku dan memberikan pada dua wanita di depanku. "Ibu tolong beli tas milik orang yang di sebelah sana ya, Pake uang saya. Tasnya buat kalian berdua. Nanti setelah selesai, kembalikan kartu saya di dekat eskalator. Saya tunggu di sana." jelasku secara rinci. Mereka berdua masih agak bingung. "Maksudnya gimana, Mbak?" "Nggak, Ah. Saya takut dituduh nyolong." Kedua Ibu ini menolak kartu yang sedari tadi mengapung di udara. "Anggap aja ini rezeki, Bu. Uang kaget! Tapi jangan bilang siapa-siapa. Kalo kartu ini punya saya. Apa kalian yakin, Nolak tas yang harganya mahal?" godaku sambil terkekeh kecil. "Ya mau, Mbak. Gimana Peh? lu mau nggak?" Wanita berbaju oranye ini menyenggol bahu temannya dengan tatapan mata penuh tanya. "Mau lah. 'kan rejeki kagak boleh ditolak. Yekan?" Sedetik kemudian. Mereka mau menerima benda pipih ini. Akhirnya rencanaku berhasil juga. Kedua Ibu-Ibu itu sudah melenggang menuju tempat Mas Hakam yang tengah kebingungan. Dan untuk mantan pembantu tak tahu terimakasih. Gimana rasanya? Jika barang incaranmu diambil orang lain. Nyesek 'kan? Dua Ibu-Ibu suruhanku mengerjakan tugasnya dengan baik. Ia membayar tas yang tadi dipilih Intan dan Bu Karti. Tentu Intan dan Bu Karti tak terima dan marah-marah. Namun uang mengalahkan segalanya. Nyatanya dua Ibu-Ibu suruhanku tengah menunggu tas-tas itu dibungkus oleh penjaga kasir. Lebih baik aku pergi dari sini. Sudah cukup aku melihat wajah masam Mas Hakam yang masih terperangah karena insident tak mengenakan yang terjadi padanya. Tunggu babak selanjutnya Mas. Kau akan lebih terkejut. Bahkan bisa kubuat jantung kalian melompat dari otot penyangganya. Segera kutinggalkan tempat ini. Dan menunggu dua wanita paruh baya itu mengembalikan kartu debit milikku. Keadaan mall yang lumayan ramai. Tak akan membuat Mas Hakam mengenali aku di sini. Senyum merekah terpampang nyata dari sebrang sana. Sambil menenteng paper bag berwarna jingga. Mereka berdua menghampiriku. "Nih Mbak, Kartunya. Betewe makasih ya," ucap mereka bergantian. "Emang itu siapanya Embak sih? Tadi nenek tua itu marah-marah karena tasnya kami beli." "Bukan. siapa-siapa kok. Ya udah makasih ya, Bu. Udah mau bantuin saya," aku berlalu meninggalkan dua wanita bertubuh tambun ini. Mungkin mereka masih bingung. Kenapa aku memberikan uang secara cuma-cuma. Tak apa lah, yang penting Mas Hakam dan Bu Karti jengkel. Begitu pula dengan Intan. Langkahku tergesa. Mengingat aku harus mengurusi surat pindah lainnya. Ayo Dewi, semangat. Jangan biarkan semua terlambat. Ini kesempatanmu. Mumpung Hakam masih di sini. Lagian, mungkin Mas Hakam akan mengantarkan dua wanita kesayangannya untuk pulang. Jadi aku masih punya waktu untuk mengurus surat pindah kuasa di kantor terlebih dulu. Biar nanti Mas Hakam kaget. Saat kursi kekuasaannya sudah aku tempati. Aku berlari dengan tergesa menuju parkiran mall. Brugh! Astaga ponselnya jatuh! Bersambung.... Hay dears. Jangan lupa tekan love ungunya ya. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN