Perempuan Yang Ditinggal di Kamar Kost

1646 Kata
Wanita itu, tampak sosok yang matang. Usianya sekitar 30-an. Wajahnya cantik alami—bukan hasil riasan tebal atau perawatan mahal. Kulitnya bersih, tubuhnya padat berisi namun tertutup rapi oleh blouse polos dan rok panjang sederhana khas perempuan desa. *** Hujan baru saja reda. Udara malam Jakarta terasa lembap, menempel di dinding kamar kost sempit milik Santa. Di ruangan seluas tiga kali empat meter itu, ia duduk bersandar di atas kasur tipis, menikmati nasi uduk bungkus dari warung dekat pabrik tempatnya bekerja. Tubuhnya lelah, tapi wajahnya tetap tenang—ia sudah terbiasa hidup sederhana, berjuang sendirian. Ia hanya berpikir bagaimana bisa bertahan hidup dan membantu ibu dan dua orang adiknya yang masih sekolah di Tangerang. Tok! Tok! Tok! Santa menoleh, agak terkejut. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Siapa yang datang malam-malam begini? "Santa! Bro, buka pintu dong!" terdengar suara dari balik pintu kayu. Santa buru-buru berdiri dan membukanya. Sosok yang muncul membuatnya mengerjap. Toni. Sahabat masa SMA-nya, yang kini lebih seperti tamu tak terduga. Masih seperti dulu: rambut rapi, parfum mahal menyengat, senyum sok akrab. Tapi mata Santa langsung tertumbuk pada wanita yang berdiri di samping Toni. Wanita itu, tampak sosok yang matang. Usianya sekitar 30-an. Wajahnya cantik alami—bukan hasil riasan tebal atau perawatan mahal. Kulitnya bersih, tubuhnya padat berisi namun tertutup rapi oleh blouse polos dan rok panjang sederhana khas perempuan desa. Rambutnya disanggul rapi, senyumnya lembut, dan caranya menunduk saat menatap Santa membuatnya tampak sangat sopan. "Ini Yunita," kata Toni santai. "Calon istriku." Santa terdiam sejenak. Ia memandang Toni, lalu Yunita, lalu kembali ke Toni. Calon istri? Lagi? "Malam Mas Santa, saya Yunita..." suara Yunita pelan, lembut. Ia menunduk sopan. "Masuk, Mbak... masuk aja, Ton," ujar Santa, dan segera menyisihkan tumpukan baju yang tadi hendak ia cuci besok pagi. Yunita duduk di lantai beralas karpet tipis. Santa sudah terbiasa dengan kejutan dari Toni. Beberapa bulan lalu, Toni juga datang malam-malam, membawa gadis muda berusia awal 20-an. Waktu itu juga bilang "calon istri". Sebelumnya lagi... cerita yang sama. Santa jadi tidak bisa menelan mentah-mentah ucapan Toni. Dalam hatinya, ia sudah menaruh curiga—Toni memang sahabatnya, tapi soal perempuan... entahlah. Kamar kost Santa sederhana. Tak ada penyekat, hanya satu ruangan dengan kasur kecil, rak kayu tua, kompor satu tungku, dan kipas angin yang berdengung pelan. Santa tetap berusaha ramah. “Kunci rumah gue ketinggalan. Nyokap-bokap juga lagi di luar kota. Jadi, bisa nebeng semalam, ya?” ujar Toni sambil nyengir, sama sekali tak terlihat bersalah. Santa mengangguk, meski dalam hati bergumam, kapan sih dia mikir serius? "Gue serius sama Yunita. Besok mau kenalin dia ke orang tua gue," lanjut Toni. Kali ini dengan nada sedikit meyakinkan. Santa menatap wajah Yunita sejenak—ia masih duduk diam, tampak lelah. Tapi ekspresinya tenang. Tidak banyak bicara, sikapnya dewasa. Jauh berbeda dari perempuan-perempuan sebelumnya. Santa menggelar kasur tipis tambahan di karpet. “Maaf, Mbak Nita. Kamarnya sempit, tapi semoga cukup nyaman,” katanya sambil tersenyum. “Terima kasih banyak, Mas Santa. Maaf sudah merepotkan,” jawab Yunita tulus, sebelum akhirnya perlahan merebahkan diri. Matanya mulai terpejam dalam diam. Toni langsung merebah di kasur utama milik Santa. Tangannya sibuk memainkan ponsel, entah membalas chat siapa. Santa duduk bersandar di dinding, memandangi langit-langit kusam, lalu melirik Toni. “Ton... lo serius kali ini kan?” tanyanya lirih. Toni tertawa pelan. “Iya lah, bro. Masa gue terus main-main? Gue udah umur 25, udah seperempat abad lho.” Santa hanya menanggapi dengan senyum samar. Di hatinya, masih ada keraguan. Tapi ia tak ingin membuat malam jadi canggung. Ia melirik ke arah Yunita yang sudah tertidur. Wajahnya damai dalam lelah. Satu hal pasti, dilihat dari raut wajahnya, Santa yakin wanita itu tampak terlalu baik untuk sekadar dijadikan cerita sementara oleh Toni. Toni justru masih bercerita panjang lebar, seperti biasanya. “Gue ketemu Yunita pas liburan ke Pangandaran, bro. Dia udah janda sih, tapi... mantep banget. Elegan. Yang penting cocok. Gue suka sama yang dewasa. Hahaha.” Santa hanya mengangguk-angguk sambil duduk di pojok kasurnya. Ia tak suka menghakimi, tapi cara Toni bicara terasa terlalu enteng membahas tentang seorang perempuan. “Jadi lo beneran serius sama dia?” tanya Santa perlahan, ingin meyakinkan sekali lagi. “Serius lah. Gue sampe mau ngenalin ke ortu. Lo pikir gampang?” Santa diam. Ia tidak terlalu yakin. Tapi bukan urusannya. Ia hanya bisa berharap yang terbaik untuk perempuan itu. Di tengah malam yang sepi, Santa memandang langit-langit kamar. Hatinya tak tenang. Entah kenapa, ada sesuatu yang mengusiknya sejak Yunita masuk ke dalam ruangan itu. Bukan perasaan suka, bukan juga cemburu. Entah apa. ** Adzan Subuh menggema dari masjid kecil ujung gang. Santa terbangun, seperti biasa. Dengan gerakan tenang, ia mengambil wudhu dari kamar mandi luar, lalu menggelar sajadah di pojok kamar kost. Usai shalat, ia menoleh ke arah Toni yang masih terlelap, dan Yunita yang masih tertidur dalam posisi menyamping, menyelimuti tubuhnya dengan rapi. Baru saja ia melipat sajadah, Toni terbangun. Matanya sembab, tapi masih dengan gaya santainya. “Bro, gue keluar bentar ya. Mau cari sarapan,” katanya sambil memasukkan ponsel ke saku. “Sekalian beli rokok.” “Sendirian?” “Iya. Santai aja, cepet kok,” ujar Toni sebelum melangkah cepat keluar. Tanpa pamit ke Yunita, tanpa banyak kata. Santa mengangguk pelan, lalu kembali duduk di sisi kasurnya. Waktu berlalu. Jarum jam menunjuk ke angka enam. Sinar matahari pagi menelusup dari ventilasi atas. Yunita terbangun, mengusap wajahnya pelan. Ia menoleh ke arah Santa dan mengangguk sopan. “Maaf, Mas Santa… boleh minta tolong?” ucapnya lembut. “Saya belum shalat Subuh. Apa mungkin... ada mukena yang bisa saya pinjam?” Santa tertegun sejenak. Tapi ia langsung berdiri. “Saya coba tanya ke kamar sebelah ya, Mbak. Sebentar.” Santa melangkah menuju kamar nomor 5. Ia mengetuk pelan. Tok. Tok. Pintu terbuka. Muncul Susan, penghuni kost yang sudah lama dikenal Santa. Wajahnya cantik, tubuhnya montok, dan selalu berdandan rapi meski pagi-pagi. Senyumnya langsung mengembang saat melihat Santa. “Eh, A Santa...” suaranya agak manja. “Maaf ganggu, Mbak Susan. Ada mukena yang bisa dipinjam sebentar? Buat saudara saya, perempuan,” jelas Santa cepat-cepat. “Ya iya lah perempuan… masa laki mau pinjem mukena… ntar saya ambilkan…” Susan masuk sebentar, lalu kembali dengan mukena lipat. Saat menyerahkannya, tangannya menyentuh tangan Santa, sedikit terlalu lama untuk disebut tidak sengaja. Santa buru-buru menarik tangannya. “Terima kasih ya, Mbak.” Senyum Susan makin lebar. “Sama-sama, Mas Santa…” Santa menutup pintu dengan pelan, lalu kembali ke kamarnya. Ia memberikan mukena itu kepada Yunita, yang menerimanya dengan anggukan sopan. "Terima kasih, Mas," ucapnya lirih. Waktu berjalan. Santa sudah mandi, sudah berpakaian rapi untuk berangkat kerja. Tapi Toni tak kunjung kembali. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lewat. Santa mulai gelisah, sementara Yunita hanya duduk diam, menatap ponselnya yang tak berbunyi sejak pagi. Akhirnya, Santa memutuskan untuk keluar, membeli dua bungkus bubur ayam dari warung depan gang. Saat kembali, ia menyodorkan satu ke Yunita. “Sarapan dulu, Mbak. Toni belum nelepon?” Yunita menggeleng, wajahnya sedikit bingung, tapi tetap berusaha tersenyum. “Belum. Biasanya dia memang suka... agak susah ditebak.” Mereka duduk bersisian di atas karpet, bubur di pangkuan masing-masing. Suasana hening sejenak, hanya sendok yang beradu dengan plastik mangkuk. “Kalau boleh tahu... Mbak Yunita dari mana asalnya?” tanya Santa, mencoba mencairkan suasana. “Banjarsari,” jawab Yunita sambil tersenyum tipis. “Saya tinggal sama orangtua di sana.” Jawab Yunita. “Oh, berarti saya harus memanggil Teteh saja…” kata Santa. Santa terdiam beberapa jenak. “Saya dari Tangerang, Mbak. Masih ada ibu saya di sana, ditemani.. dua orang adik saya, masih sekolah.” Yunita mengangguk pelan. “Berarti saya juga manggil Aa saja… kirain bukan orang Tangerang…” Setelah selesai makan, Santa mencuci tangan lalu bersiap-siap mengambil helm. “Teh, kalau nanti Toni sudah pulang, maksud saya… kalau mau keluar, tolong nanti kunci simpan di bawah keset ya. Saya takut kesiangan, mau berangkat kerja,” ucap Santa hati-hati. “Baik, A Santa. Terima kasih, ya… udah repot banget.” Santa tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Teh.” Ia menaiki motor, melaju ke arah pabrik. Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak tenang. Setibanya di tempat kerja, ia langsung mengeluarkan ponsel dan mencoba menelepon Toni. Nomor tidak aktif. Santa mencobanya lagi. Tetap sama. Ia mengirim pesan. Centang satu. Kemudian ia menghubungi beberapa teman lama dan teman nongkrong mereka jaman SMA. Tak ada yang tahu keberadaan Toni. Siang hari datang. Jam dinding di ruang istirahat pabrik menunjukkan pukul 12.30. Santa baru saja selesai makan siangnya yang sederhana, nasi dan telur balado di warung makan Bu Ety, warung langganan tempat biasa ia makan siang. Tapi ada yang mengganjal. Toni. Santa kembali mencoba menghubunginya. Tombol nada panggilan ditekan pada nama Toni. Di layar ponsel hanya muncul: “Memanggil” Ia menghela napas panjang, lalu membuka kontak dan menelepon seseorang yang ia percaya: Darto, tetangga kost kamar nomor 3. Telepon tersambung. “Halo, Mas Darto?” “Halo, Ta! Eh, lo nggak kerja?” “Kerja, ini lagi istirahat siang. Mas Darto di kamar nggak?” “Iya nih, gue libur hari ini.” Santa terdengar lega. “Mas, tolong banget ya… Bisa nggak beliin nasi rames sebungkus di warteg depan? Terus... anterin ke kamar saya.” “Oh, buat lo?” “Saya kan lagi di pabrik. Itu buat... saudara saya dari kampung. Ketuk saja nanti pintunya, bilangin disuruh nganter makan siang sama saya.” “Oalah, bisa, bisa. Bentar ya, paling sepuluh menit juga kelar.” “Duitnya nanti saya ganti sore, Mas. Maaf ya jadi ngerepotin.” “Tenang aja, bro. Nggak masalah. Orang lo juga sering bantuin gue.” Santa mengucapkan terima kasih dan menutup telepon. Ia menatap layar ponsel yang tetap sepi, lalu menatap kosong ke depan. Toni benar-benar menghilang. Ia menggenggam ponselnya erat, lalu kembali melangkah ke tempat kerja dengan pikiran yang berat. Tapi satu hal membuat hatinya tenang: setidaknya, Yunita tidak sendirian di tempat kost.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN