Kesepakatan Rahasia

1621 Kata
Santa memejamkan mata sejenak. Ia tahu apa pun keputusannya malam ini akan mengubah hidupnya selamanya. Tapi suara Yunita... kepedihan di matanya... tangis yang ia tahan... membuat sesuatu dalam d**a Santa bergolak hebat. ** Pukul tujuh pagi, langit Jakarta sudah mulai terang. Suara kendaraan mulai mengisi jalanan. Santa berdiri di depan kamar kost, tas kecil Yunita tergenggam di tangannya. “Saya udah pesenin taksi online,” kata Santa, membuka pintu pagar kostan. Yunita mengangguk pelan. Ia tidak banyak bicara pagi itu. Matanya sembab, semalaman tampaknya susah tidur. Saat taksi berhenti di depan gang, Santa membantu membawakan tasnya hingga ke pintu mobil. Tapi begitu pintu terbuka dan Yunita mulai masuk, Santa tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ada kegelisahan yang menggantung di dadanya. Ia menatap jalanan, lalu menatap bangku kosong di sebelah Yunita. “A?” tanya Yunita. Santa diam sesaat. Lalu ia membuka pintu sisi lain dan masuk ke dalam mobil. Yunita menatapnya heran. “Koq ikut naik? Semoga Aa bukan mau memata-matai saya untuk laporan ke Toni?” setengah bercanda, tapi cukup menusuk. Santa menggeleng sambil menunduk. “Saya cuma... nggak tega ngelepasin Teteh pergi sendirian. Apalagi jauh ke kampung. Saya cuma mau nganter, itu aja.” Yunita terdiam. Tatapannya keras, tapi matanya tak sanggup menyembunyikan rasa lelah. Santa bukan hanya mengantar ke terminal bus, melainkan ikut naik ke dalam Bus Primajasa. Ia tak peduli dengan kata-kata Yunita yang berkali-kali mencoba mencegah Santa. Namun lambat laun, saat Yunita mencegah Santa, nadanya bukan lagi karena merasa curiga, melainkan khawatir merepotkan Santa. Perjalanan panjang naik bus menuju Banjar terasa sunyi. Di tengah perjalanan, Santa hanya sesekali bicara, menanyakan apakah Yunita butuh makan atau ingin berhenti sejenak. Tapi Yunita menolak dengan pelan. Sore menjelang saat mereka sampai di sebuah terminal kecil. Dari sana, mereka naik taksi online terakhir menuju arah selatan, ke sebuah desa bernama Pasir Endah—nama yang seindah pemandangannya. Perjalanan menuju kampungnya Yunita, disambut hamparan sawah nan hijau sejauh mata memandang. Udara lebih segar, angin lebih bersih, dan langit tampak lebih jujur. Di ujung jalan tanah, berdiri rumah mungil berdinding kayu, halamannya luas, ditumbuhi pohon jambu dan pepaya, serta rumpun bambu di pojok pekarangan. Ayah Yunita duduk di kursi rotan, sementara ibunya membuka pintu sambil tersenyum. “Assalamu’alaikum...” ucap Yunita pelan. “Wa’alaikumussalam, Neng!” sambut ibunya hangat. “Alhamdulillah, kamu pulang…” Tatapan mereka beralih ke Santa yang berdiri kikuk di belakang. “Ini siapa, Neng?” tanyanya . “A Santa. Dia yang bantu Neng di Jakarta,” jawab Yunita cepat. Ayah dan ibunya mengangguk ramah. Mereka mempersilakan masuk, bahkan menyiapkan teh hangat dan pisang goreng. Santa merasa tak enak. Ia berdiri sebentar, lalu berkata pelan, “Kalau begitu saya pamit, Bu, Pak. Saya cuma nganterin aja…” Namun belum sempat ia melangkah, Yunita menahannya. “A… nanti malam saya mau bicara serius. Bisakah menginap satu malam saja?” Santa sempat ragu, tapi ia tak punya alasan untuk menolak. “Baiklah,” katanya. ** Sore menjelang malam, Santa berjalan-jalan sendirian di kampung itu. Angin berhembus lembut di antara pematang sawah. Ia menyusuri jalan tanah yang mengarah ke gubuk kecil tempat orang berjualan. Sebuah warung bambu yang sederhana tapi nyaman. Ia memesan mie rebus dan segelas kopi hitam. Sambil menunggu, Santa mengobrol dengan pelayan warung, seorang gadis muda yang manis dan ramah. Suaranya lembut, tawanya jernih. Tapi belum sempat percakapan berkembang lebih jauh, suara motor terdengar dari kejauhan. Ternyata Yunita yang datang mengendarai sepeda motor. Wajahnya dingin, matanya menatap Santa penuh curiga. “A…” katanya datar. “Ayo pulang.” Santa berdiri tergesa. “Eh… iya, Teh.” Saat naik ke motor, dibonceng Yunita. Ketika mulai melaju, Yunita berbisik tanpa menoleh: “Jangan ada lagi orang kampung yang jadi korban pria seperti Aa…” Santa tertegun. Tapi Yunita menambahkan pelan: “…maksud saya, seperti teman Aa itu.” Santa terdiam. Hatinya nyeri, meski sedikit tersenyum. Ia tahu, kemarahan Yunita bukan untuknya. Itu kemarahan seorang wanita yang dikhianati dunia. ** Angin malam di Kampung Pasir Endah berembus pelan, membawa aroma sawah basah dan bunga melati dari pekarangan rumah. Di balkon rumah panggung yang remang, Santa duduk sendiri, memandangi langit yang dihiasi bintang-bintang berkerlip. Di tangannya, sebatang rokok terbakar pelan. Terdengar langkah kaki dari balik pintu. Yunita muncul dengan nampan kecil berisi dua cangkir kopi hitam. Rambutnya tergerai pelan, wajahnya tanpa riasan, tapi tetap terlihat cantik—lelah, namun tenang. “A, enggak dingin di sini?” tanyanya pelan. Santa buru-buru mematikan rokok dan berdiri. “Dingin, tapi saya menikmatinya. Anginnya sangat sejuk.” Yunita tersenyum samar dan duduk di sampingnya, meletakkan nampan di meja bambu kecil. “Saya bikin kopi, khusus buat Aa. Saya sendiri yang bikin…” Santa mengangguk, menerima cangkir. Mereka diam cukup lama. Hanya suara jangkrik dan desir daun pisang yang menjadi latar. Yunita menarik napas panjang, lalu mulai berbicara, suaranya berat, seperti menahan sesuatu yang telah lama ia tahan. “Saya masih ingat ketika pertama kali Toni tidur di rumah ini. Waktu itu hujan deras. Dia ngebantuin Bapak nutupin tumpukan jerami. Dan ibuku langsung suka. Katanya Toni itu anak kota yang nggak manja...” Ia terdiam sebentar. Matanya memandang kosong ke sawah gelap di kejauhan. “Dan saya... mulai percaya. Dia perhatian. Dia sering pulang-pergi ke kampung cuma untuk bawain saya oleh-oleh dari Jakarta... dan janji-janji manis.” Santa tak menyela. Ia hanya mendengarkan. “Saya pikir... saat itu… saya bisa memulai lagi. Saya pikir... meski saya seorang janda, saya masih pantas dicintai...” Yunita menunduk, suaranya tercekat. “Tapi saya salah. Saya terlalu cepat menyerahkan segalanya. Tubuh saya... hati saya... semuanya.” Santa menoleh, ingin mengatakan sesuatu, tapi Yunita mengangkat tangan, menyuruhnya biar mendengarkan dulu. “Saya nggak nyesal karena saya pernah berharap. Tapi saya nyesal karena saya mempercayakan hidup saya kepada orang yang... ternyata cuma numpang lewat.” Ia mengusap matanya yang berkaca. “Dan ibunya Toni... ya Allah... saya nggak nyangka mengalami dibentak, dihina, dicap murahan. Padahal saya cuma... ingin mempertanggungjawabkan hidup yang tumbuh di dalam rahimku ini.” Santa meremas cangkir di tangannya. “Saya bingung, A... bagaimana jika nanti ayah dan Ibu tahu? Mereka pasti akan murka, sedih, kecewa, dan… entahlah. Saya tak mau membuat orangtua saya sakit karena memikirkan aib keluarga yang besar ini…” Santa menatapnya dengan tatapan iba yang tak dibuat-buat. Tapi ia tahu, itu belum semuanya disampaikan Yunita. Ia masih menunggu. Yunita menoleh. Wajahnya tegar meski air mata masih menggantung di sudut mata. “A... saya tahu ini gila, tapi saya nggak punya jalan lain.” Santa tetap menunggu. “Saya tahu Aa orang baik...” lanjut Yunita. “Saya bisa merasakan dari cara Aa memperlakukan saya... tapi... sejujurnya saya masih sedikit takut. Saya takut Aa sekongkol dengan Toni,” Santa menggeleng perlahan. “Saya nggak punya kedekatan istimewa sama dia. Dia teman SMA. Itu aja. Teteh tahu sendiri kan sikap ibunya. Saya kapok ke rumahnya, dan sama sekali tidak tertarik untuk lebih dekat dengan Toni apalagi keluarganya...” jawab Santa. “A…” berhenti sejenak, “Tolong nikahi saya, A... Saya mohon…” Santa tertegun. Cangkir di tangannya hampir jatuh. Yunita buru-buru melanjutkan. “Aa nggak usah takut. Saya nggak minta cinta. Saya juga nggak minta harta. Saya hanya minta nama. Supaya anak saya ini... punya harga diri. Supaya keluarga saya nggak jatuh makin dalam dengan aib ini...” Santa menatap Yunita lama. Di matanya, wanita itu bukan lagi hanya seorang janda cantik yang terluka. Tapi seorang ibu—yang sedang berjuang untuk melindungi anaknya, bahkan sebelum ia lahir. “Teh, saya harus jujur… saya kerja menjadi buruh pabrik di Jakarta, dengan gaji kecil. Saya belum punya bekal apa-apa untuk membangun rumah tangga. Saya masih harus nyekolahin adik saya. Dan… saya juga masih harus membantu ibu saya tiap bulan. Terus terang, saya belum pernah kepikiran buat nikah. Maka, sampai saat ini, pacaran pun tidak… maksud saya, belum…” Yunita mengangguk. “Saya nggak akan ganggu. Saya nggak akan menuntut apa pun. Kalau perlu... kita hidup seperti saudara. Saya cuma minta Aa datang sesekali. Biar orang kampung nggak curiga. Atau sesekali saya ke Jakarta, pura-pura menengok suami.” Santa memejamkan mata sejenak. Ia tahu apa pun keputusannya malam ini akan mengubah hidupnya selamanya. Tapi suara Yunita... kepedihan di matanya... tangis yang ia tahan... membuat sesuatu dalam d**a Santa bergolak hebat. Lalu, entah ada kekuatan dari mana, pelan tapi pasti... Santa mengangguk. “Baiklah, kalau begitu, saya bersedia, Teh.” Yunita terdiam. Matanya membulat, lalu perlahan menunduk. Air matanya jatuh. Tapi kali ini bukan karena kesedihan. Ada harapan kecil di sana. “Tapi kehamilanku… mohon hanya menjadi rahasia kita…” ucap Yunita. “Tentu saja, Teh….” “Dan mulai hari ini, bisakah Aa tidak memanggilku ‘Teteh’? Meski usiamu dibawah saya, panggillah saya: Neng…” “Baik, Teh… maksudku… Neng,” “Satu hal lagi…” ucap Yunita. “Ya, katakan saja, Teh, maaf, Neng…” “Saya masih lelah dan trauma. Mohon jangan memaksa saya untuk… melakukan intim seperti halnya suami-istri. Saya… saya… tidak mau. Saya hanya mohon Aa menikahi saya untuk menyelamatkan harga diri janin yang saya kandung,” “Ya, baik, Neng. Saya janji…” “Terimakasih, A…” setitik air mata Yunita menetes, menelusuri pipinya. Dan malam itu, Santa langsung menghadap ayahnya Yunita, Pak Darta, dan mengutarakan niatnya. Darta tersenyum dengan mata berkaca. “Jika memang kalian sudah sepakat, saya sebagai ayah Yunita, tentu saja mendukung dan akan mendoakan dengan sepenuh hati.” Ibu Ocih, ibunya Yunita, memeluk anaknya erat sambil menangis bahagia. “Emak sangat bahagia mendengarnya...” Hanya Yunita dan Santa yang tahu: ini bukan kisah cinta seperti dongeng. Ini adalah kisah tentang luka... dan keberanian untuk menyelamatkan seseorang yang tak bersalah, sebelum semuanya terlambat. Dan malam itu, di bawah langit kampung yang sunyi, dua hati membuat kesepakatan yang akan mengikat mereka... dalam cara yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN