“Jangam coba-coba berbohong. Jangan coba-coba berbohong apapun padaku.” “A-aku enggak bohong. Pria yang mana?” “Pria yang makan bersamamu di kafe tadi.” “Oh, itu-“ “Jangan bilang mantan pacarmu yang dosen itu?” “Ha? Bu-bukan. Aku gak pernah pacaran, Davin. Kapan aku bilang punya pacar?” Zara memundurkan langkahnya karena Davin terus merangsek. “Itu, pria yang datang pas kita nikahan. Yang langsung nangis pas lihat kita di pelaminan? Laki 'kok cengeng.” “Bukan dia, Davin!” Davin mengernyit, curiga. Urat-urat di keningnya terlihat karena terlalu mengekspresikan rasa penasarannya. “Banyak amat mantan pacar kamu. Kalau bukan dia, terus siapa?” “Ish, aku bukan sepertimu, yang mantan berserakan,” ucap Zara sambil terduduk di tepi ranjang. “Eh, kalau laki mah bebas. Namanya juga proses

