Bab 10 Liontin Milik Ivander

1844 Kata
Cittt.. Jip milik Steven berhenti cepat, karena pria itu dan Peter melihat pertarungan tersebut. Sang CEO langsung keluar dari mobil tersebut, hendak membantu Nina yang saat ini fighting sama Mike, adik tirinya. “Jangan turun, Tuan!” Peter cepat menghalangi tuan muda ini. “Hais, Peter!” seru sang CEO kesal, “Saya harus membantu Nina!” “Tuan, biarkan saja.” Si asisten meminta tuannya tidak membantu, “Agar Nyonya Sabina mengenal Nona.” “Apa maksudmu?” “Tuan kan kepicut ama Nona, terus Tuhan sengaja mempertemukan Nyonya sama Nona. Dengan Nona menolong Nyonya, pasti habis ini jalan Tuan mendapat cinta Nona lebih mudah, karena Nyonya pasti merayu Nona agar menerima Tuan.” Steven menyimak semua itu sambil dipikirkan, lantas menghela napas, terpaksa mengikuti perkataan Peter. Dia dan asisten hanya mengawasi fighting tersebut. Senyum bangga mulai menghias wajah karena Nina mengalahkan Mike. Tampak Mike terlentang di aspal jalan, leher dibelit cambuk, dan perut diinjak. Sabina dan Darian juga melihat ini, tersenyum haru karena Nina menang dalam fighting. Nina dengan santai merundukan setengah badan sambil menarik tali cambuk yang membelit leher Mike, agar kepala pria itu naik ke atas. “Aku paling benci,” terdengar suara dia sambil menatap Mike dengan garang, “Pria menyerang perempuan. Apalagi perempuan itu sudah nenek-nenek!” Mike tidak bisa menyahut karena lehernya dibelit kuat cambuk si nona. “Kamu dengar kan?” tanya putri sulung ini membesarkan mata melotot ke Mike. Cucu Sabina ini terpaksa menganggukan kepala, tangannya menunjuk-nunjuk ke cambuk di leher, minta dibebaskan sama Nina. Nina malah menoyor kening pria itu, lantas berseru lantang ke Gandy. “Gandy!” “Sayah, Nonaku!” seru Gandy bergegas mendekati nona besarnya ini, “Nona, semua orangnya pria ini sudah kami ringkus, dan sebentar lagi Jenderal Ruhut dan pasukannya menggelendang mereka ke penjara.” Dia langsung melaporkan hasil kerjanya. “Good!” Nina tersenyum, lantas memberikan gagang cambuk ke tangan asisten, “Kamu jaga baik-baik kutu kampret ini, Saya mau bawa Nyonya itu ke Bella Hospital.” Diturunkan instruksi ke sang asisten. “Membawa beliau dengan motor Anda, Nona?” Nina terkesiap, lantas sedikit menjitak kening pria ini. “Gandy, Nyonya itu terkena belati, ngga mungkin kuat membonceng di motor Saya.” Mendengar ini Gandy cengegesan, segera menginjakan satu kaki di perut Mike, biar kaki si nona bisa meninggalkan perut itu. Dia juga mengambil kunci motor yang diberikan sang gadis. “Makasih, Gandy.” Nina mengucapkan terima kasih, “Kamu keep ini dari Papa ama Opa ya.” “Mana bisa, Nona? Saya menghubungi Jenderal Ruhut, pasti ayah anda dan tuan besar tahu kejadian ini.” Nina terhenyak, lantas menghela napas, baru tersadar kalau Jenderal Ruhut yang dihubungi sang asisten adalah Jenderal yang bekerja menjaga keluarga mereka. Dia menghela napas, segera mendekati Sabina yang duduk di aspal jalan ditopang Darian. Begitu berhadapan, dia mengecek luka di bahu Sabina, lantas memeriksa denyut nadi dipergelangan tangan kanan si nyonya. Sabina mengamati rupa cantik nona sulung ini. ‘Mengapa gadis ini mirip sama Ivander, putraku?’ sekali lagi dirasa si nona mirip mendiang Ivander. ‘Tunggu dulu-! Rasaku, gadis ini Nina, cucunya Iqbal.’ Dia mulai merasakan yang lain, sebab sekelebat terbayang foto Nina, cucu Iqbal, ‘Puji Tuhan, akhirnya Aku bertemu anak ini, yang sering diceritakan Iqbal.’ Terharu karena bertemu Nina. Selesai mengecek luka, Nina mengeluarkan dua jarum akupuntur dari balik sisi celana pendeknya, ditusukan dua titik di dekat nadi pada pergelangan tangan sang nyonya. Sabina yang sebelumnya megap-megap sesak napas selain kesakitan menjadi tenang. “Terima kasih, Nona.” Dia pun mengucapkan terima kasih karena Nina melakukan pertolongan pertama ke dia. “Jangan sungkan, Nyonya.” sahut Nina tersenyum sambil mengambil plastic klip dari saku celananya, lantas mencabut kedua jarum itu, dibengkokan, dan disimpan ke dalam plastic, baru dikantongin ke saku celana. “Maaf, nyonya, Saya lepas blazer Anda ya.” Dia segera melepas blazer yang dikenakan Sabina, kemudian diberikan ke Darian, lantas melepas syal dari leher, dibebat luka si nyonya, baru dipandang perempuan itu, “Nyonya, mari Saya bawa Anda ke Bella Hospital, agar luka Anda bisa diobatin di sana.” “Baik, anak cantik.” Sabina setuju, senyum haru menghias wajahnya, “Sekali lagi terima kasih Kamu dan asistenmu cepat menolong Saya.” “Jangan sungkan, Nyonya.” Nina membalas dengan senyuman, menopang Sabina dari sisi lain si nyonya, lalu bersama Darian mengangkat hati-hati tubuh tua ini. “Mas!” ditegur si asisten, “Di mana mobil Nyonya?” ditanya yang mana mobil sang nyonya. “Di sana, Nona.” Darian menunjuk Jaguar milik Sabina, “Tapi jendelanya dipecahkan Tuan Mike saat fighting sama Nyonya.” Imbuh dia melihat jendela mobil pecah. Jadi tidak mungkin membawa sang nyonya dengan mobil yang penuh pecahan kaca. Nina menghela napas, dilepas menopang tubuh Sabina, bergegas mendekati Mike yang masih merana terkapar di aspal dengan perut diinjak Gandy. Dipandang pria ini yang ciut melihatnya. “Mana kunci mobilmu?” tanya si nona to the point, “Iya, kunci mobilmu!” serunya saat Mike melongo mendengar pertanyaan dia. Pria itu menunjuk ke arah Manuel yang tewas di aspal jalan. Nina segera ke sana, merogoh semua saku pakaian pria itu, lantas menarik keluar kunci mobil dari saku depan kemeja sang pria. “Hei, Kamu!” seru dia lantang ke Mike yang mengawasi dia, “Benar ini kunci mobilmu?” diacungkan kunci itu ke udara. Mike menganggukan kepala, lantas jari tangan dia menunjuk BMW berwarna merah metalik mobil dia di antara semua mobil yang ada. “Good, boy!” seru Nina melihat mobil itu, lantas segera kembali ke Sabina yang tersenyum haru menyaksikan aksi berani dia. Segera diserahkan kunci itu ke tangan Darian, lantas kembali menopang sisi lain sang nyonya. Tidak lama bersama sang asisten membawa Sabina masuk ke dalam mobil milik Mike, lantas Nina berseru ke Gandy dengan lantang. “Gandy!” “Saya, Nonaku!” “Nanti minta Jenderal Ruhut mengambil mobil ini di rumah sakit, gelandang ke kantor polisi!” Nina menurunkan perintah baru sambil menunjuk mobil Mike. “Siap, nonaku!” “Thanks, Gandy!” seru si nona terakhir kali, lantas masuk ke dalam mobil, duduk disisi Sabina. Tidak lama Darian melajukan mobil menuju Bella Hospital. Steven dan Peter cepat mengikuti. Dalam perjalanan Nina mengajak Sabina mengobrol. “Nyonya, maaf, siapa pria yang melukai Anda?” “Dia Mike, cucu kedua Saya, anak tunggal Melda si bungsu.” “I see.” Nina paham, “Maaf, Nyonya, mengapa dia mencelakai Anda?” “Ceritanya panjang, Nona.” Sabina tersenyum memandang nona ini, lantas tanpa sengaja melihat liontin kalung yang terpampang di permukaan atas overall gadis tersebut. Satu tangannya cepat meraih liontin tersebut, diamati sejenak. ‘Tuhanku!’ bisik hati dia, ‘Ini lambang milik keluargaku, dan inisial huruf I dan D adalah nama putra sulungku, Ivander Duarte.’ Dia mengenali model liontin tersebut. “Nyonya.” Nina menegur si nyonya karena melihat aksi tersebut, “Ada apa?” tanyanya. “Nona,” Sabina menatap Nina dengan penuh harapan, “Maaf, Anda dapat kalung ini dari siapa?” dia memperlihatkan liontin kalung ke nona itu. “Dari Opa Saya, Nyonya.” Sahut Nina, “Kata Opa, kalung ini diberikan saat Saya masih bayi.” Dijelaskan dari mana memperoleh kalung tersebut. “Opa juga bilang kalung ini milik keluarga beliau.” Sabina tercenung, Ivander memberikan kalung ini saat Bella masih bayi, direncanakan saat dewasa, baru diberi kalung sendiri. Namun saying sang anak tewas, dan cucunya menghilang. “Siapa nama Opa Kamu, anakku?” “Iqbal Ramlan.” “Iqbal Ramlan?!” Sabina mengulang nama yang disebut Nina, “Apa Opa Kamu presdir Ramlan Company?” dia memberi pertanyaan dengan hati-hati. “Apa namamu, Nina Ramlan?” “Kok Nyonya tahu? Apa Nyonya kenal Opa Saya?” *** Damar, Fitri, dan Adam tergesa menuju ICU Bella Hospital setelah dihubungi Jenderal Ruhut mengenai kejadian penyerangan atas Sabina. Mereka mencemaskan tuan putri saat ini, karena dari keterangan Gandy ke sang Jenderal, si anak nekat menolong Sabina. “Tuan!” seru Adam yang melihat Nina lebih dulu, “Itu Nona sulung!” ditunjuk si nona saat tuannya melihat ke dia. Damar segera melihat ke arah tersebut, lantas cepat menggandeng tangan sang istri, dibawa berjalan secepat mungkin. Nina di luar ICU bersama Darian, karena Sabina masih ditangani dokter. Si nyonya bukan hanya luka tusuk, Asma pun kambuh. “Nina!” seru Damar memanggil putrinya yang berdiri depan pintu ICU. Sang anak mengenali suara tersebut, sedikit menghela napas, sudah tahu mengapa sang ayah terbirit kemari pasti sudah mendapat laporan dari Jenderal Ruhut. “Anakku!” kembali suara si ayah terdengar saat berhadapan dengan putri cantiknya, “Kamu ngga apa-apa, nak?” segera mengecek si anak dari mulai wajah, leher, kepala, tangan dan kaki, “Ruhut bilang Kamu bertarung sama banyak orang bersenjata.” Wajah dia cemas luar biasa saat ini. “Siapa mereka, Sayang?” Fitri juga khawatir sama si anak, “Lantas siapa Nyonya Sabina yang Kamu tolong?” Nina membawa orangtuanya duduk di kursi tunggu yang ada di sebelah kanan seberang pintu ICU. “Papa, Mama,” dia mulai bicara sambil memandang orangtuanya, “Nina selamat lahir batin, dunia akhirat.” diberitahu dirinya tidak apa-apa, “Tapi Nyonya Sabina kena tusuk belati, lantas asma pula, sehingga napas beliau menjadi sesak.” Diceritakan kondisi Sabina, “Sekarang masih di ICU.” Damar dan Fitri berbarengan menghembuskan napas lega. Meski putri mereka jago kungfu dan menggunakan senjata apa pun, tetap saja perempuan, pasti mereka cemas kenapa-napa. Darian mengamati orangtua Nina dengan serius, merasa pernah mengenal mereka. Lantas dia terbelalak, sudah mengingat memang pernah mengenal pasangan itu. Sedangkan Adam juga mengenali asisten Sabina ini. Nina segera berdiri, dihampiri Darian, lantas membawa pria ini menghadap Damar dan Fitri. “Pak Darian, Nina kenalin sama orangtua Nina.” Dia menunjuk orangtuanya, “Ini Papa Nina, namanya Damar Ramlan, lantas disebelah beliau, Mamanya Nina, Fitri Ramlan.” Damar dan Fitri tercenung melihat Darian, teringat di masa lalu saat menemui Sabina prihal si nyonya ingin memastikan Nina adalah Bella cucu nyonya tersebut, atau bukan. “Tuan Damar,” Darian menegur sopan sang tuan, “Nyonya Fitri.” Menyapa pula si nyonya, “Apa kabar? Senang bisa bertemu Anda berdua lagi.” Nina terkesiap mendengar ini, “Maksud Pak Darian apa?” ditanya asisten itu. Namun, cepat Damar menyalip dengan berdiri, disalami Darian. “Pak Darian,” dia pun bicara, “Saya dan istri sehat aja.” “Kalian?” sela Nina cepat, “Sudah saling kenal?” dia menunjuk kedua pria itu bergantian. “Iya, Nina.” Damar tersenyum kecut, “Pak Darian dulu pernah menolong Mamamu yang kecopetan dompet.” Dikarang asalan satu cerita agar Nina tidak tahu dulu Sabina menemui mereka untuk prihal Bella. “Betul kan, Ma?” diajak si istri bersekutu menutupi kenyataan masa lalu. “Betul itu!” Fitri setuju karangan sang suami, “Kalau saat itu tidak ditolong Pak Darian, melayanglah black card Mama dan lainnya.” Menambahkan cerita suaminya. Darian sedikit menghela napas, merasa pasangan ini tidak mau Nina tahu yang sebenarnya. Dia pun teringat saat Sabina mengenali liontin dikalung Nina. Apakah Damar yang menyelamatkan Bella di masa lalu, lantas dijadikan keluarga Iqbal Ramlan rekan kerja Sabina di masa ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN