Stella membeku, matanya membesar, napasnya pun tertahan. “Holy …” bisiknya pelan, nyaris tidak percaya. Rain tidak menundukkan kepala. Justru kali ini ia menatap langsung ke ibunya—mata yang jujur, dewasa, dan terluka. “Ma,” ucap Rain lirih tapi mantap, “aku serius sama Liora. Kami berdua sama-sama pertama kalinya melakukan itu … dan kami suka sama suka. Nggak ada paksaan. Nggak ada yang dimanfaatkan.” Samudera memotong cepat. “Rain, cukup.” Ia mengangkat tangan, wajahnya memerah di antara shock, malu, dan frustasi terhadap anak tengahnya itu. “Tidak perlu oversharing di meja makan.” Hera yang biasanya paling cool malah memegang gelasnya erat-erat. “Ya Tuhan … steak ini kayak nyangkut di tenggorokan aku,” gumamnya. Noah, tentu saja, malah makin semangat. “Bro, you’re insane. Gila be

