Vania Aku memarahi Santi atau Sinta ini dengan berapi-api, tapi kesannya masih elegan. Sejak sepupunya itu menyatakan perasaan, Mas Bagas jadi tidak terlalu mempedulikannya. Bahkan panggilannya pun ada dua. Ketika aku hanya mana yang benar, jawabannya selalu sama. Dua-duanya juga benar. Kamu bukan sedang mengaji. Makanya aku jadi ikut-ikutan latah seperti Mas Bagas. Padahal, rasanya seperti ada yang tidak pas kalau marah tidak panggil nama, tapi kalau panggil nanti aku sendiri yang akan dipermalukan. Seketika aku kembali terkejut ketika melihat wajahnya itu. Karena bukannya kecewa dengan apa yang aku katakan, dia malah tersenyum lebar, dan menatapku penuh cinta. Tidak mungkin bukan kalau dia langsung jatuh cinta padaku pada pandangan pertama? "Bagus. Kalau memang cinta di antara kalian

