Tia duduk bersila sembari mengunyah camilan di depan tivi. Rumah itu terasa sangat lengang, bahkan suara kriuk kripik singkong yang dikunyahnya terasa menggema. Untungnya ada bik Jum yang menemaninya di rumah. Bik Jum adalah tetangganya di kampung. Saat bunda kebingungan mencari pengganti bik Inah yang di jebloskan ayah ke penjara, Tia menawarkan bik Jum. “Neng Tia kenapa nggak ikut ke Swiss?” tanya bik Jum yang mengantarkan segelas jus alpukat. “Pengennya, sih, ikut bik. Cuma nggak dapat cuti dari kantor. Kan, nggak lucu abis jalan-jalan jadi pengangguran.” “Oalah… kasihan banget, lagian kantor Neng Tia kok tegel gitu ya, nggak ngasih cuti?” “Namanya juga kantor bik, mana mau dia rugi. Lagi pula aku juga baru bekerja di sana, jadi memang belum dapat jatah cuti.” “O… begitu. Ya sudah,

