Kegigihan Vian untuk mendekati Melisa tidak diragukan lagi. Semenjak Vian datang ke rumah sakit Melisa tidak pernah absen melihat wajah tampannya, baik pagi, siang atau pun malam. Terlebih Vian sudah tahu di mana ia bekerja sekarang. “Gila keren banget tuh cowok.” “Orang kaya emang beda.” Melisa menutup wajahnya dengan tas saat melihat Vian duduk di kap mobil depan restaurannya. Walau di luar gelap namun Vian terlalu mencolok dengan mobil merahnya. Tidak sedikit yang memujinya karena tampan dan kaya raya membuat Melisa semakin takut untuk keluar dari restaurant. “Mel pulang yuk!” ajak Dewi sahabat Melisa. Gadis berambut sebahu itu sering mengantarnya pulang terlebih rumah mereka berada di jalur yang sama. “Kamu duluan saja, saya masih ada urusan sedikit. Gak apa-apakan kamu pulang sen

