“Sayang, jangan ngambek ya. Saya janji ajak kamu ke salon, mandiin kamu dan rawat kamu dengan baik.” Vian meraba-raba stir mobilnya dengan lembut, bak merayu gadis yang dikencani Vian mengucapkan kata-katanya dengan lembut. Dicobanya sekali lagi menyalakan lamborgini merah itu, namun hasilnya tetap sama. Benda itu tidak memiliki tanda-tanda akan menyala. Berkali-kali Vian membenturkan kepalanya pelan di stir mobil untuk menumpahkan kekesalan. Mobil sport merah dengan harga fantastis itu bisa-bisanya kehabisan bensin di tengah jalan. Vian merutuki Riko yang abai dengan mobil kesayangannya ditambah dompet yang selalu melekat di kantongnya raib entah ke mana. Vian keluar dari mobilnya, kaca mata hitam bertengger manis di hidung mancung. Vian menghalau sinar matahari dengan tangannya. Udar

