Hanya saja masalah bukan di situ. Seperti yang sudah-sudah, ketika sudah agak jauh dari lokasi, Alarik disuruh mencari alasan untuk pergi meninggalkan Ghamaliel hanya berdua dengan Tera. Sekali dua kali masih oke. Tetapi ini dilakukan setiap hari. Meskipun Ghamaliel selalu memberinya uang jalan yang lebih dari cukup. Lama kelamaan kesabarannya habis. Heyyy! Jarak dari kampus ke rumahnya tidak dekat. Mana jauh, kereta datangnya lama, naik busway macet, belum lagi di jalanan banyak debu dan kotoran yang menyumbat pori-pori. Wajahnya mulai kusam sekarang. Tetapi yang paling parah bukan itu. Intensitas kedatangannya ke kampus yang terlalu sering, rupanya menarik perhatian ayahnya. Entah bagaimana ceritanya, sore jam tiga dia mendapat telepon dari nenek Sutedja. Nenek tua itu dengan ter

