Bab 20

806 Kata
Reino mengelus-elus kepalanya sambil berdecak kesal. Dia cuma kasih usul loh, bukannya berterima kasih malah dianiaya. "Moizha, kamu pergi sana ke Jakarta." Moizha membelalak dan menatap Reino yang cuma mengangkat bahu, kemudian dengan heran dia memandang ayahnya. "Ngapain ke sana?" "Kamu inget gak sama nenek yang jualan nasi disebelah rumah kita dulu?" "Nenek? Nenek yang mana sih...?" Moizha termenung dengan wajah berkerut, tapi dia sama sekali gak ingat sama nenek yang dimaksud ayahnya. "Wajarlah kamu gak inget." Kata Pak Zainuri setelah akhirnya Moizha menyerah. "Kita terakhir kali ketemu sama nenek itu pas ibumu meninggal." Moizha cuma ber O panjang. Dengan orang yang baru dia kenal saja dia kadang dia suka lupa sama nama dan bentukan mukanya, apalagi sama nenek-nenek yang sudah lima belas tahun gak dia temui. Lupa banget pasti. "Ayah udah ngomong sama beliau tentang kamu." Lanjut Pak Zainuri, memanfaatkan kebisuan anaknya. "Nenek seneng kalau kamu mau datang." Moizha memutar-mutar bola matanya jengkel. "Kenapa harus aku? Reino 'kan bisa. Lagian aku mesti siap-siap buat balik ke Ausie awal bulan ini." "Justru karena itu ayah nyuruh kamu ke sana!" Hening sejenak. Seakan sadar dengan ketegangan antara ayah dan anak itu, kucing yang tadinya meringkuk di kolong kursi terbangun lalu dengan malas melangkah menuju dapur. "Gak ada manfaatnya aku kesana. Kenal juga nggak sama mereka." Tolak Moizha. "Pergilah ke sana, barang dua atau tiga bulan. Kalau setelah itu kamu tetap sama pendirianmu. Ayah akan kasih restu kamu nikah sama bule itu." Moizha dan adiknya berpandangan dengar ucapan ayahnya barusan. "Ayah nggak bo'ong 'kan?" Moizha memastikan, ketika ayahnya menggeleng gadis itu ketawa gembira. Apa susahnya coba tinggal di Jakarta sama nenek-nenek selama tiga bulan? Sepuluh tahun sendirian di negeri orang saja dia sanggup. Dalam kepalanya dia sudah mulai menyusun rencana. Paspornya jangan sampai ketinggalan, uang simpanannya juga lebih dari cukup. Seandainya dia gak betah atau tiba-tiba dapat panggilan kerja di Australia, dia bisa langsung beli tiket dan langsung terbang ke sana. Yang paling penting sih, kalau nanti di Jakarta. Dia bisa bebas chat, video call atau apalah sama Shawn tanpa ada yang rese. "Oke deh, aku setuju." Moizha memberi keputusan. "Berangkatnya kapan?"  "Besok. Naik kereta yang jam lima." **** "Cucu laki-laki pendiri restaurant khas sunda 'saung garing' ternyata penyuka sesama jenis!" Dibukanya lagi berita yang lain. "Masih ingat sama cucu pemilik 'Saung Garing'? Ini kabarnya sekarang...nomor enam bikin cewek baper tujuh hari tujuh malam!" Ranu menggeser layar ponselnya ke kiri. Pria itu menggelengkan kepala dan mendecakkan lidah. Dari sekian banyak foto kerennya yang beredar di internet, kenapa juga foto laknat itu yang harus mereka pasang?  "Aku akan menuntut semua media online ini!"  Zeon, sepupunya yang lulusan hukum dan sudah enam kali gagal ujian buat jadi pengacara tergelak-gelak sampai Ranu tercengang. Mereka berdua berada di ruang kerja yang ada di rumah besar. Ranu memantau berita tentang dirinya. Zeon main game sambil sesekali kasih pendapat. "Kenapa ketawa?" "Gak apa-apa." Sahut Zeon. "Kamu mau tuntut mereka pake pasal apa?" "Pencemaran nama baik lah! Apa lagi?" Zeon terpingkal-pingkal lagi. Ranu mengawasinya dengan keheranan, ketika pria yang lebih muda enam tahun itu gak juga berhenti, Ranu mengambil gumpalan tissue dan melemparnya tepat di dahi Zeon yang tertutup poni berantakan. "Nama baik apaan? Orang videomu sama Rayyan udah beredar dimana-mana." Benar juga, sumber semua masalah ini 'kan Rayyan. Harusnya si kunyuk itu yang tanggung jawab membersihkan namanya. Ranu menghubungi nomor Rayyan, lalu ngomel-ngomel karena panggilannya selalu dialihkan. "Haisshhh!!! Kemana sih kunyuk satu itu?!!" Ranu masih ngomel-ngomel ketika tiba-tiba ibunya muncul dan mengeplak punggungnya. "Bener-bener anak ini! Gak bisa ya ngomong itu pelan sedikit?!" Percuma. Walaupun Ranu sudah minta maaf, ibunya masih terus ngoceh-ngoceh sambil memijat-mijat dahinya. "Seharian ini gak telepon rumah, gak hp bunyi terus cuma nanya video itu benaran kamu atau bukan. Ditambah lagi nenekmu tiba-tiba pingsan. Bisa gila mama kalau begini terus!" Ranu melihat ibunya dengan perasaan bersalah. "Terus, keadaan nenek gimana?" Ibunya yang tadi marah-marah akhirnya mulai melunak, omelannya berubah jadi helaan napas berat. "Barusan sadar. Sana ke kamarnya, nenek mau ngomong sama kamu." Ranu menuruti perintah ibunya. Dia masuk ke kamar neneknya tanpa suara. Wanita tua itu tengah berbaring dengan selang infus di tangannya. "Kata dokter nenek sakit apa?" Ranu bertanya ke ayahnya yang duduk disamping tempat tidur. "Penyakit tua. Kecapekan." Begitu mendengar jawaban ayahnya, perasaan bersalah yang tadi menghantui Ranu langsung hilang seketika. Persis kayak lemak yang disiram sunlight. Kalau sampai neneknya kenapa-napa, senggaknya 'kan bukan gara-gara dia. Tiba-tiba neneknya membuka mata, wanita gemuk yang rambutnya sudah memutih semua itu memanggil nama cucunya dengan suara lirih. "Ranu..." "Ya, nek?" "Besok jemputlah Moizha." Kata neneknya dengan suara lemah. Heh? Moizha? Ranu menatap neneknya penuh tanya. Saat tangan keriput wanita itu menggenggam telapak tangannya, Ranu sangat tegang. Dia yakin ada hal buruk yang bakal menimpanya. "Moizha itu calon istri yang nenek pilih buat kamu." Nenek memandang Ranu dengan tajam. "Nggak ada penolakan! Sudah waktunya kamu kembali ke jalan yang benar." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN