L.A.M - 8

773 Kata
Waktu sudah berganti petang dengan ngebutnya. Rasa cemas yang dialami Kinan dan Vina sudah berangsur turun.   “Aku nggak apa-apa, Ma,” kata Alan tenang tetapi sembari melirik sinis pada Kinan. Seolah menyalahkan keaadaan ini semua karena Kinan.   “Mas,” ucap Kinan dan hampir menyentuh tangan kiri Alan yang terluka.   “Apa sih?! Nggak usah pegang-pegang,” bentak Alan. Meski ada mamanya di situ juga   Setelah melihat Alan memasuki kamarnya, Kinan menunjukkan wajah sedih.    “Ma, Kinan pulang dulu,” pamitnya pada Vina.   “Alan? Antar Kinan dulu?” ucap Vina saat Alan sudah hampir menutup pintu kamarnya.   “Eh? Nggak, Ma. Kinan pulang pakai ojek online aja.”   “Beneran kamu?”   Kinan mengangguk.   Setelah itu Kinan memesan ojek tersebut. Vina mengantarkan Kinan hingga ke gerbang rumah setelah berpamitan pada orang rumah ini.   “Hati-hati, ya. Maafin Alan kalau kasar kayak tadi.”   Kinan tersenyum. “Nggak apa-apa, Ma. Mas Alan baru kesal sama keadaan … dan aku.”   “Jangan begitu. Doakan Alan cepat merasa baikan saja,” saran mertuanya.   “Ya, Ma. Sudah ya Kinan pulang dulu.”   Selama perjalanan pulang, Kinan tak fokus. Hanya karena memikirkan Alan yang tadi kecelakaan.    Mengapa Kinan jadi sepeduli ini pada Alan apabila ia kesal bahwa Alan sangat dingin dan tak pantas untuk diberi cintanya?   Ataukah memang sudah hasrat wanita mengidamkan laki-laki yang cuek dan dingin padanya?   Akhirnya Kinan menapakkan kakinya kembali ke keramik rumahnya.   “Papa?”   “Kinaaan,” sapa papanya sambil merangkul Kinan.   Kinan merangkul balik tetapi hanya sebentar dan melepaskannya.    “Udah datang dari siang tadi, Pa?”   “Ya tadi jam dua.”   “Papa sehat-sehat aja, kan?”   Ranto, nama papanya Kinan, menjawab. “Ya sehat, Dek. Gimana sama Alan?”   “Ha? Nggak gimana-gimana, Pa. Semalam tidur di rumah Mama Vina. Terus ini baru bisa pulang karena nggak bawa kunci.”   “Oh, iya. Mama cerita tadi.”   Kinan berdeham. “Ehem. Iya, Pa. Aku masuk kamar dulu ya, Pa?”   Ranto mengiyakan.   Kinan memasuki kamarnya setelah dari kamar mandi.   Di dalam kamar Kinan merasa aneh bertemu dengan papanya setelah sekian lama. Hanya kecanggungan yang ia rasakan.   Setelah menatap langit-langit yang redup cahayanya, Kinan berusaha menanyakan keadaan Alan.   Lamun usahanya sia-sia. Ia tak mendapatkan balasan dari Alan. Meski ini belum jam tidur.    Merasa otaknya sedang buntu, Kinan mengalihkan pikirannya untuk bekerja. Ada pesanan dari beberapa klien yang belum ia kerjakan. Serta batas waktunya hanya tinggal dua hari lagi.    Setelah dua jam berkutik di depan laptopnya untuk menerjemahkan dokumen, ponsel Kinan akhirnya berdering juga.   Segeralah ia membuka notifikasi tersebut.   “Kita nggak usah ketemu dulu sampai hari pernikahan tiba.”   Itulah pesan yang ia terima. Tentu saja dari Alan.    Ya ampun! Kinan semakin merasa bersalah saja.    Dengan berat hati Kinan membalas. “Ya, Mas.”   Meski dengan kepasrahan tersebut dan seolah Kinan tunduk pada Alan, Kinan meracau dalam hatinya.   Sumpah ya! Orang ini adalah orang terbangke di dunia! Bertindak sesuka hatinya!   Namun Kinan tak mampu berkata langsung seperti itu pada Alan. Padahal Kinan termasuk wanita yang agak bar-bar di sirkelnya.   ***   Saat makan malam tiba Alan berbicara pada mamanya.   “Ma? Aku sama Kinan tidak akan bertemu dulu sampai nanti hari pernikahan kita.”   “Lho? Kenapa?”   Alan mengangkat alisnya singkat. “Yaaa bukannya biasanya ada istilah dipingit, ya?”   Vina tersenyum. Semakin lama mereka tidak bertemu semakin rasa kangen itu muncul dan … boom! Saat bertemu mereka pasti akan semakin b*******h saja!   Pikiran emak-emak yang ingin segera punya cucu lagi ya begini!   “Oh! Ya ya ya! Mama setuju. Rencana mama sih dipingit seminggu saja. Tapi nggak apa deh kalau misal kalian hanya tidak bertemu sebulan begitu,” imbuh Vina penuh semangat 45.   Padahal Alan sudah yakin seyakin-yakinnya bahwa ia tidak akan merindukan Kinan. Perasaan pada Kinan saja tidak punya. Bagaimana mau kangen?   “Oke! Kalau begitu kita setuju ya, Ma!”   Akhirnya Alan tidak bertemu dengan ‘hama pengganggu’ tersebut. Setidaknya dalam sebulan. Dia bisa mengulur waktu sebelum hujan badai menerjangnya dan menjadikannya seorang suami dan kepala keluarga.   Alan kembali menatap ponselnya lekat-lekat.   “Juga jangan hubungi aku selama sebulan, ya?!”    Rupanya Alan mengirimkan pesan lagi ke Kinan.   Alan sungguh tega pada calon istrinya itu. Apa maksud Alan? Ingin menjauh sementara? Kalau misalkan tidak suka kenapa ia tidak kabur saja dan meninggalkan perjodohan ini?   “Kenapa, Mas?”   Kinan bertanya.   “Kalau kamu terganggu dengan chat-ku aku nggak akan chat kamu lagi kayak semalem.”   Kinan mengirimkan pesan lagi karena ia tak mendapatkan jawaban dari pesan pertama tadi.   “Aku sudah bilang. Jangan hubungi aku selama satu bulan.”   Pesan itu dikirimkan pada Kinan. Seolah tegas dan memaksa Kinan untuk berhenti membalas pesannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN