Ellen terlihat anggun mengenakan gaun berwarna putih yang melekat sempurna membentuk tubuh indah miliknya. Ia membawa sebuket bunga di tangannya dan berjalan diiringi oleh bridemaids, dan seorang anak kecil yang menabur bunga di depannya. Langkah kakinya diiringi dengan lantunan piano yang dimainkan oleh seseorang di sudut gereja.
Sementara di altar, Oliver dengan tuxedo putihnya menunggu sang pengantin wanita. Senyumnya merekah kala melihat Ellen yang terlihat begitu cantik. Sampai akhirnya Ellen berada di hadapannya, Oliver meraih tangan Ellen dan menghadap pada pendeta yang akan melakukan pemberkatan pada ke duanya.
Seluruh tamu yang hadir kini berdiri, menyaksikan sebuah janji kehidupan yang akan dilakukan oleh ke dua mempelai. Mereka yang menunggu pemberkatan itu juga merasa bahagia. Pendeta memulai acara itu dengan hikmat, hingga tiba akhirnya mereka mengucapkan janji nikah.
“Ellen Brinkman, aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus,” ucap Oliver.
“Ya, aku bersedia,” jawab Ellen.
Setelah itu secara bergantian, Ellen mengucapkan janji pernikahan itu dengan menyebutkan nama Oliver.
“Oliver Morgan, aku mengambil engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus,” ucap Ellen.
“Ya, aku bersedia,” jawab Oliver.
Setelah itu, pendeta menyatakan jika mereka telah resmi menjadi sepasang suami-istri yang sah di mata agama dan juga hukum. Keduanya saling berciuman dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari para tamu.
Setelah semua rentetan acara akad pernikahan selesai, mereka melanjutkan acara itu di ballroom hotel milik Morgan. Ia membuat pesta megah di sana, karena tidak begitu suka dengan yang berbau keramaian, Oliver membatasi tamu yang datang dan juga media yang ingin mengabadikan moment itu. Bahkan Ellen menyetujuinya karena mereka memiliki sisi yang sama dalam hal keramaian.
Ellen yang sudah berada di salah satu kamar hotel, kini sedang mengganti gaunnya dengan pakaian pesta yang sudah disiapkan oleh perancang busana. Ellen kembali tampil dengan menakjubkan di hadapan para tamu undangan, dan tentu saja hal itu membuat kebanggaan tersendiri untuk Oliver.
Tidak menyengka akan menikahi seorang yang baru saja ia temui. Ellen menyuruh Oliver untuk mencubit lengannya, karena tidak percaya pada kenyataan itu. Mendengar permintaan aneh dari istrinya, Oliver justru mencium Ellen tepat di bibirnya.
“Apa yang kau lakukan? Aku menyuruhmu untuk mencubit, bukan mencium.”
“Kau akan terluka jika aku melakukannya, lebih baik seperti ini. Apa kau masih mengira jika ini adalah mimpi?”
“Terima kasih.”
Pesta berlangsung hingga malam hari, hingga beberapa tamu mulai pergi satu persatu. Selesai dengan pesta megah itu, Ellen dan Oliver masuk ke dalam kamar hotel yang mewah. Di dalam kamar itu, semua kebutuhan mereka telah tersedia, seperti kamar pribadi yang ada di rumah mewah Oliver.
“Sayang, bisakah kau membantuku melepaskan dasi ini? Sepertinya tersangkut.”
Ellen berjalan mendekati Oliver dan membantunya untuk melepaskan dasi itu.
“Sudah, kau benar. Tersangkut.”
Setelah itu Ellen berbalik badan hendak menghapus riasan di wajahnya. Tetapi, Oliver justru menarik tangan Ellen ke dalam pelukannya.
“Tuan.”
“Apa?”
“Oliver, aku ingin menghapus riasan di wajahku terlebih dahulu,” ujar Ellen.
“Kau sangat cantik hari ini.”
“Aku tahu, itu karena riasannya.”
“Tidak. Kau memang sudah cantik sebelum dirias, Sayang.”
“Jangan berkata manis denganku,” ucap Ellen.
Oliver tersenyum dan justru menghapus jarak diantara mereka dengan mencium bibir merah wanita di hadapannya. Oliver melumat bibir itu dengan lembut, bahkan tangannya menekan tengkuk leher Ellen agar ciuman itu semakin dalam. Beberapa kali Ellen mencoba melepaskan diri dari dekapan suaminya, hanya saja hal itu tidak akan berhasil.
“Ehm.”
Dalam posisi itu, satu tangan Oliver mulai bermain di tubuh Ellen yang masih mengenakan pakaian tidur.
“Ahh … ehm.” Desahan itu lolos di sela ciuman mereka.
Perlahan Oliver mendorong tubuh Ellen hingga terjatuh ke atas ranjang. Oliver masih berada di atas tubuh Ellen, dan kini ia semakin b*******h untuk menyentuh tubuh istrinya itu.
“Oliver … aku belum siap.”
“Tenanglah … kau akan melakukannya dengan cepat.”
Oliver melepaskan pakaian tidur milik Ellen. Satu persatu ia tanggalkan dari tubuh indah itu. hingga akhirnya terlihat jelas tubuh Ellen tanpa mengenakan sehelai benang. Setelah itu, Oliver juga melepaskan pakaiannya hingga terlihat jelas sebuah kejantanan yang sudah berdiri sempurna.
Malu, Ellen tidak berani menatap tubuh di hadapannya itu. ia memilih mengalihkan pandangannya kearah lainnya. Bukan Oliver namanya jika tidak bisa membuat istrinya menatap tubuh berotot miliknya itu.
“Sayang, kenapa kau tidak menatapku?”
“A-aku malu.”
“Kau akan sering melihatnya mulai saat ini, jadi … kau harus terbiasa mulai sekarang.”
“Aku tahu … hanya saja ….”
Oliver kembali menindih tubuh istrinya itu, dan perlahan bagian bawahnya menggesek pada pintu kewanitaan Ellen. Hal itu memberikan sensasi geli dan juga sedikit aneh untuknya. Ya, kegiatan itu adalah kali pertama untuk Ellen.
“Ehm, Oliver … hen-tikan.”
Oliver tidak akan menurut begitu saja pada Ellen, justru pria itu semakin ganas menyerang isrtinya. Oliver kini mengecup bagian d**a Ellen, dan meninggalkan jejak kemerahan. Hingga kecupan itu berakhie pada puncak gundukan kenyal yang mulai mengeras, karena terangsang. Tubuh Ellen kini bergerak tidak beraturan, merasakan keanehan yang kini tengah membakar dirinya.
“Oliver, ahh … geli,” desah Ellen saat Oliver mulai menyusu padanya.
Satu tangan Oliver mulai menyusuri bagian intim Ellen, jarinya menggesek dan memainkan bulatan daging yang kenyal. Lagi … tubuh Ellen semakin menggelinjang tidak beraturan. Desahannya semakin keras dan napasnya mulai memburu.
“Ahh … Oliver, cukup! Aku ingin ke kamar mandi,” ucap Ellen dengan menahan dirinya.
“Jangan ditahan, keluarkan saja, Sayang.”
“Oliver … aahhh, ku mohon. Ahh, ssttt.”
“Kau menikmatinya?”
“Cukup!”
Oliver tidak mendengarkan perkataan Ellen, ia semakin mempermainkan istrinya dengan sentuhan lembut pada gundukan kenyal lainnya. Satu jari Oliver mulai menerobos area terlarang milik Ellen, mengaduk dan masuk lebih dalam.
“Akh!” pekik Ellen.
Oliver semakin memperdalam posisi jarinya, terasa masih sempit dan juga basah. Ya, Ellen sudah mengeluarkan cairan bening miliknya saat pria itu mempermainkan kewanitaannya. Ellen memejamkan ke dua matanya, dengan tangan yang mencengkeram seprai.
“Ehm … ahhh, Oliver ….”
“Desahanmu sungguh merdu, Sayang. Teruslah memanggil namaku.”
“Kau mempermainkan aku, Oliver.”
“Tidak, Sayang. Aku sedang memberikan kenikmatan,” jawab Oliver.
Oliver semakin mempercepat gerakan jarinya di dalam liang gairah milik Ellen. Hingga wanita itu kembali mendapatkan pelepasannya. Puas dengan kegiatannya, Oliver kembali menindih tubuh istrinya ,dan bersiap untuk memasukkan miliknya ke dalam sana.
“Oliver, aku takut. Kata beberapa temanku, jika itu masuk … akan terasa sakit.”
“Hahaha, jangan membuatku tertawa sepanjang malam. Tidak akan sesakit bayanganmu, Sayang.”
Oliver sudah menempatkan ujung kejantanannya di depan liang gairah itu, dan perlahan pinggulnya mendorong masuk. Mencoba untuk menerobos selaput dara milik Ellen, Oliver menggunakan tangannya agar miliknya bisa masuk dengan mudah. Dan dengan sekali sentakan,kejantanan itu masuk di dalam liang gairah Ellen. Hal itu membuatnya menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.
Ellen terlihat menahan sakit dengan tidak berkata pada Oliver. Ia memejamkan matanya, dan nampak dari ujung matanya, airmata itu jatuh. Sementara Oliver masih membiarkan miliknya terbiasa di dalam sana. Sempit dan basah, bahkan serasa miliknya sedang dipijat dengan lembut.
“Apa itu sakit?” tanya Oliver.
Ellen mengangguk perlahan, hingga akhirnya Oliver mencium bibir Ellen dan mulai menggerakkan pinggulnya.
“Akh!” pekik Ellen.
“Tahan sebentar lagi, aku tidak akan lama melakukannya. Hanya untuk kali ini saja.”
Oliver kembali mencium bibir Ellen. Dan tangan Ellen kini memeluk tubuh Oliver dengan mencengkeramnya.
“Ahh … sempit sekali, milikmu sangat nikmat, Sayang.”
Gerakan Oliver semakin cepat, hingga tubuhnya menegang setelah selama sepuluh menit bergerak memompa tubuh istrinya. Oliver mengeluarkan cairan putih kentalnya di dalam liang itu, dan ia merasa puas karena bisa melakukannya dengan sang istri.
“Kau tahu, aku mulai berpikir untuk merubah kontrak itu.”