Suara mesin pendeteksi jantung terdengar menyayat hati. Ellen tidak bisa menahan airmata saat ini, karena tubuhnya juga tengah berbaring di atas brankar rumah sakit. Ellen terus menangisi pria itu, yang sudah berkorban demi dirinya. “Bagaimana kondisinya?” tanya Ellen. Daniel yang berdiri di depan Ellen, hanya bisa menundukkan kepala. Perlahan Daniel menjelaskan pada Ellen mengenai kondisi pria itu. “Ia mengalami koma, setelah sadar beberapa detik. Peluru itu hampir saja sampai di bagian jantung, dan dua peluru lain bersarang di punggungnya.” Mendengar penjelasan Daniel, membuat Ellen tidak sanggup lagi mendengarkan kondisi pria itu. Harapan … hanya itu yang bisa Ellen inginkan saat ini. Ia terus berdoa agar pria itu bisa pulih kembali. “Kau harus menyelamatkan nyawanya!” ujar Ellen

