9

1730 Kata
"Kau terlihat tidak baik hari ini, Davina." Suara sang sepupu menyapa. Kala Davion menoleh, mengesampingkan pekerjaannya di atas meja untuk memeriksa Davina yang pucat di tempat duduknya. "Benarkah? Haha. Aku tidak apa," balasnya lemah. Melambai di depan Ken yang cemas. Davion menaruh pensil di atas kertas. Bangun untuk memeriksa Davina lebih dekat saat Ken ikut mendekat, memeriksa denyut nadi dan panas di dahi sepupunya. "Sial. Dia demam, Davion." Davion menempelkan telapak tangannya pada panas di dahi sahabatnya. Menemukan Davina yang berusaha mendorong tangannya dan Ken yang gemas, menguncinya agar tetap diam. "Benar. Bawa dia ke rumah sakit." "Aku tidak sakit!" Davina membentak dan Ken membekap mulut sepupunya dengan keras. "Aku tidak apa, sialan." "Jangan memaksakan diri, Davina." Davina mendelik dengan raut merah. Saat kepalanya yang berdentam hebat tidak bisa membantunya berkonsentrasi. "Aku tidak apa, Davion." "Jangan dengarkan dia, Davion." Ken mengambil tasnya. Membawa Davina dalam gendongan ketika Davion ikut beranjak, mendorong pintu dan membukakan pintu mobil Ken untuk Davina yang masih berusaha memberontak lemah. Meski tenaganya kini tidak lagi ada. Sejak Davion sibuk bersama Ken dari pagi, dia melewatkan kondisi pucat rekan sekaligus teman baiknya. Davina tampak kelelahan dan Davion memberinya kesempatan untuk istirahat. "Kau tetap di sini. Nanti kukabari lagi," kata Ken memberi tepukan pada bahu sahabatnya dan bergegas masuk ke dalam mobil. Duduk dengan siap di balik kemudi. Saat Davion mendorong pintu agar tertutup rapat. Dan memandang mobil hitam itu lepas ke jalan, saat itu juga Davion melihat ada sosok lain yang baru saja keluar dari dalam mobil. Memperhatikan bagaimana penampilan seorang Amara dalam balutan setelan kerja bersama gadis yang Davion lihat dua hari sebelumnya di kafe miliknya. Amara mengangkat alis. Melihat sekitarnya saat dia menangkap mobil yang baru saja berjalan turun dari parkiran. Matanya menyipit dan Davion berbalik untuk masuk ke dalam kafe tanpa suara. "Sesuatu terjadi?" Ana bertanya dan Amara menggeleng. Saat dia membawa langkahnya masuk ke dalam, dan pendingin ruangan menyapa wajahnya. Ana menatap sekitarnya yang sepi. Menarik napas panjang ketika dia mengekori atasannya untuk memesan. Lalu merasa cemas untuk beberapa alasan klasik yang tidak dia tahu. Davion ada di sana. Tengah sibuk menunggu sesuatu dari mesin kopi yang berbunyi, bergerak seirama dengan satu mesin lain. Menunggu dengan sabar. Sampai mesin kopi berbunyi, dan kopi-kopi itu siap untuk dihidangkan. "Aku suka lagu ini," ucap Ana polos. Ketika dia menatap Amara yang balas menatapnya datar. Mendengar lagu yang terputar di dalam kafe dan gadis itu tersenyum manis. "Ingin pesan apa?" Amara terdiam sebentar. Menatap pria itu dalam kilasan kilat sebelum matanya menangkap sesuatu yang janggal. Amara mengembuskan napas sebelum dia menjawab. "Seperti biasa." Davion meliriknya sebentar, kemudian mengangguk. "Aku?" Ana menunjuk dirinya sendiri dengan tawa canggung. "Sama seperti kemarin. Biasa." Davion menautkan alisnya. Menatap Ana seakan gadis itu baru saja melucu. Saat Amara menggeleng pelan, menatap Davion bergantian dengan sekretarisnya. "Apa yang kau pesan sebelumnya?" "Oh? Astaga," Ana menepuk dadanya sendiri dan tertawa malu. "Kemarin aku bersama temanku pesan dengan barista perempuan. Aku baru sadar. Maaf." Ana menyebutkan pesanannya dan Amara berbalik untuk mencari tempat duduk. Ketika Ana ikut menarik kursi, menatap Amara yang tengah membuka tablet mahalnya. "Kafe ini sebenarnya bagus. Tapi kenapa terlihat sepi? Harganya juga tidak terlalu mahal. Aku rasa ini kafe terbaik. Tapi mungkin beberapa pesaing memiliki interior yang lebih bagus atau beberapa hal lain? Karena kalau bicara dari segi rasa, kafe ini tidak buruk. Dan menurutku harganya terjangkau. Cocok untuk karyawan seperti kami." "Letaknya tidak terlalu strategis," sahut Amara dan Ana mengernyit dalam. "Apa karena gedung kantor menutupi seluruh bangunan kafe ini?" Amara merespon dengan bahu terangkat. "Mungkin saja," tangannya bergulir untuk memeriksa kotak masuk. Menatap satu-persatu pesan dan dokumen yang tersimpan dalam draft. Davion datang dengan dua gelas kopi dingin. Saat mata kelamnya menyapu pada gadis yang sedang bertopang dagu, menatap tabletnya dalam diam. "Ke mana teman perempuanmu?" Ana mengangkat alis. Memandang bos bersama si pria tampan yang sempat menjadi bahan gosip teman kantornya. Sebentar lagi kafe ini ramai oleh semua orang yang penasaran dengan rupa si barista super keren. Sejujurnya, orang tampan menjual. Dan Davion memiliki segalanya. Rupa, paras, badan atletis, dan kesan misterius yang membunuh. Ana berpikir kalau Davion adalah segalanya tentang semua yang wanita idamkan dari diri seorang pria. Semua menawan, memikat, dan mendebarkan. Amara menoleh untuk sekedar memastikan bahwa Davion belum menjawab. Ketika pria itu menghela napas. "Dia dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi tiba-tiba." "Astaga. Aku rasa dia kelelahan," timpal Ana dan Amara hanya mengangguk samar sebagai respon. Davion memalingkan muka saat tatapan Ana tidak lepas darinya. "Nikmati minuman kalian. Selamat siang." "Siang," balas Ana ramah dan Amara hanya diam. Membiarkan pria itu berlalu. Ketika Davion sudah menjauh, Ana baru bisa melepas napasnya. Memandang Amara dengan binar bahagia. "Aku benar-benar baru melihat laki-laki sangat tampan seperti pekerja satu itu." Ana masih terus berceloteh tanpa peduli Amara mendengarkan atau tidak. "Aku berpikir hanya Tuan Rail yang benar-benar sempurna. Ternyata saingannya tidak jauh dari gedung. Ini membuatku geli. Tapi serius, duniaku tidak pernah diisi dengan barisan para pria tampan. Ini mencengangkan dan mendadak jantungku berdebar keras." Amara menghela napas saat Ana mendadak diam. Tersenyum malu pada Amara yang sekarang memandangnya datar. Gadis itu menunduk, memandang cangkir kopinya. Ini sedikit membantu daripada dia merasa terintimidasi dengan pandangan lain yang lebih sengit. "Kau sudah siapkan dokumen untuk rapat bersama tender hari ini? Ini terakhir, Ana. Aku akan memutuskan dengan siapa aku bekerjasama sekarang." "Sudah, Nona Amara." Amara mengulum senyum saat dia melirik singkat pada Davion yang sibuk membersihkan mesin kopi. "Bagus," dan kembali berkutat dengan tabletnya. Membiarkan Ana sendiri, mematung di kursi dan memandang Davion yang sibuk tanpa lelah. Dengan senyum khas remaja yang membuat Amara diam, merasa menjemukkan tiba-tiba. *** "Apa ada yang berkunjung selain aku?" Dokter Kana tampak bingung. Saat Amara duduk di depannya, menatapnya dengan sorot angkuh yang menyala terang. "Amara." "Aku hanya bertanya dokter," balas Amara. Tidak peduli kalau tatapan matanya mengintimidasi dokter senior satu itu. "Ada." "Kau bisa menyebutkan nama atau ciri-cirinya?" Dokter Kana menghela napas panjang. "Sera. Dia datang berkunjung. Setelah bertahun-tahun hanya kau yang menjadi pengunjung tetap, baru kali ini ada pengunjung lain." "Apa yang dia katakan padamu?" Kepala Dokter Kana menggeleng. "Tidak banyak. Dia hanya menitipkan agar aku tidak bicara padamu. Kalau dia datang untuk melihat." Amara mengangguk. Ketukan jemarinya pada paha kanan mengeras. Ketika garis rahangnya mengetat dan Amara memilih untuk membuang rasa kecewa itu pergi. "Kau mengenalnya?" Amara mengangguk singkat. "Ya. Dia masih menjadi bagian dari keluarga. Sudah lama sekali. Aku sampai tidak ingat kalau dia masih hidup," dustanya dan Dokter Kana mengangguk mengerti. "Aku bisa melarangnya datang kalau kau mau," Amara." Amara menghela napas. Menatap Dokter Kana yang terlihat serius. "Tidak perlu," ujarnya dengan senyum penuh arti. "Biarkan saja kalau dia berkunjung. Secara tidak langsung, dia seharusnya yang bertanggung jawab atas apa yang pernah ia perbuat." Dokter Kana benar-benar tidak mengerti. Karena Amara dan keluarganya menyimpan banyak rahasia. Selain uang mereka yang banyak, dan berasal dari keluarga konglomerat ternama. Selepas itu, dia tidak tahu apa pun. Karena salah satunya sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Berjuang antara hidup dan mati. Di tengah gempuran rasa sakit dan lelah yang bercampur menjadi satu. "Terima kasih, dokter. Kabari aku kalau terjadi sesuatu." Amara bangun dari tempat duduknya. Memandang Dokter Kana dengan satu senyuman tipis. Sebelum dia mengangguk sopan dan bergegas pergi. Amara menarik pintu itu tertutup. Menatap datar pada seisi koridor yang sepi. Ketika dia berjalan, membiarkan gema pada sepatu hak tingginya menemani senyapnya suasana. Memandang dingin pada pintu kamar bernomor enam yang mencolok mata. Saat Amara menarik napas, mendorong dirinya masuk dan terjebak dalam sesak yang tiada ujung. "Ibu, apa ayah akan sembuh?" "Tentu, sayang. Ayah akan sembuh. Amara mau terus berdoa?" "Kalau ayah pergi, Amara bermain dengan siapa? Tidak ada yang mau mendorong sepedaku lagi." "Jangan menangis, sayang. Ayah akan sembuh. Sebentar lagi dia bangun. Membawa Amara ke lapangan untuk belajar bersepeda. Jangan sedih, ya? Ada ibu di sini. Amara tidak sendiri." Amara terkesiap dengan kenangan yang membuat dadanya kembali berdebar hebat. Rasa tak nyaman itu mulai memakan habis dirinya dalam diam. Membuat bibirnya bergetar dan bahunya merosot tajam. "Ayah, ibu sudah siapkan makan malam. Kenapa ayah tidak mau bangun?" "Bangun, ayah. Ayo bermain sepeda lagi. Lihat, lututku berdarah karena jatuh. Ayah tidak ada di sana. Sepedaku oleng dan aku terjatuh di dekat pagar." Kedua tangan itu terkepal erat. Saat Amara sadar, yang ia lihat adalah masa kini. Bayangan dirinya di masa kecil tidak lagi ada. Amara yang naif sudah pergi. Matanya menelusuri isi ruangan yang penuh dengan alat medis. Mewahnya fasilitas terbaik tidak berujung apa-apa. Semua tidak berguna. Karena yang tersisa di sini hanyalah sesosok manusia tak berdaya yang berusaha meminta waktu untuk mengembalikan dirinya yang tangguh seperti di masa muda. Alat rekam jantung itu berbunyi konstan. Amara menarik napas untuk membuang panas pada d**a dan matanya. Ketika dia menatap pada kenangan lain yang berhasil membuat perasaannya terbang bebas. Satu pigura manis yang tampak usang. Potret kedua orangtuanya di masa muda. Amara melihat bagaimana senyum itu merekah manis dari bibir ibunya. Saat mereka duduk di bangku taman, saling menggenggam tangan dengan kamera yang siap mengambil gambar sempurna pada masanya. Garis-garis kuning yang melekat pada gambar tidak lagi Amara pedulikan. Ketika tangannya gemetar dan saat dia menoleh, memeriksa apakah sosok yang sama masih terlelap atau membuka mata. Guratan itu nampak jelas. Amara menatap pantulan dirinya sendiri dari cermin wastafel kamar mandi. Lelah itu membayangi. Pucat itu menemani. Dia bisa mati karena kehabisan napas karena terlalu lama di dalam kamar ini. Atensi Amara berpaling pada selembar kertas yang terselip di antara jemari yang masih bergeming. Tanpa bergerak sedikit pun. Dan seakan-akan kertas itu tidak lagi terlihat baru. Amara mendekat dengan ekspresi dingin yang masih berlumur kental. Ketika dia menarik lembaran itu pergi, membukanya dengan pandangan menelisik. Aku mencintaimu. —Lily. Amara menarik napasnya dengan gerungan keras. Meremas kertas itu dengan pandangan basah karena menahan panas. Saat dia membuang kertas malang itu ke tempat sampah. Melepasnya begitu saja tanpa perasaan. Langkahnya tertatih menuju pintu keluar. Menarik napas panjang saat dia berjalan pergi. Melewati lorong lain yang lebih ramai karena koridor kelas terbaik benar-benar seperti tidak berpenghuni. Kakinya menarik pelan kala matanya mendapati sosok lain duduk di kursi tunggu dengan selembar kertas berisi gambar. Yang tidak bisa Amara lihat dengan jelas. Yang tidak bisa Amara tebak apa isinya. Namun dengan Davion yang duduk di sana, setidaknya Amara bisa menyimpulkan satu alasan hadirnya pria itu di rumah sakit yang sepi. Jam malam dan seorang diri. Amara menarik napas. Membuangnya perlahan ketika dia tidak punya alasan untuk pergi. Atau berbalik pergi melewati lorong sebelumnya. Langkahnya kembali memapaki lantai yang dingin. Saat matanya bersirobok dengan sepasang mata lain yang menatapnya bingung. Amara tidak perlu memasang wajah ramah untuk membalas sapaan dalam diam pria itu. Amara meremas tasnya sendiri. Saat dia berjalan, mengembuskan napas pelan dan mengangguk pada Davion yang masih mematung. Menatap sosoknya yang mulai berjalan menjauh, tidak lagi mau menoleh ke belakang untuk sekadar memastikan bahwa tidak ada satu pun yang berhak tahu tentang dirinya. Mereka semua tidak perlu tahu tentang dukanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN