BAB 16

860 Kata
KHAYANA Lama kami tenggelam dalam pelukan, ketika akhirnya kami memutuskan untuk menepi di bar. Kami mengobrol banyak hal. Obrolan yang terhitung cukup lama dibandingkan interaksi kami biasanya.             “Romy!” Panggilan itu mengehentikan celotehan Romeo tentang masa kecilnya. Membuatnya menoleh ke sumber suara yang melangkah mendekat. “Bisa antar Teresa pulang? Dia nggak enak badan,” ujar wanita yang menjadi ratu di acara ini.             Romeo mengernyit. “Kenapa nggak minta antar Pak Armand aja? Romy kan juga ada tanggung jawab nganter Khayana.”             Wanita itu menatapku lalu memutar bola matanya. “Tentu saja. Tapi setelah nganter Teresa. Hargai dia yang jauh-jauh ke sini dong. Masa dianter supir.”             “Saya bisa pulang sendiri. Nggak perlu diantar,” sahutku. Tidak ingin membuat Romeo dilema.             Romeo menatapku, rahangnya mengeras. “Kamu berangkat sama saya, pulang juga harus sama saya.”             Nyonya Syadiran mengibaskan tangannya. “Biar Khayana sementara nunggu di sini. Kalau kelamaan kan ada Sena. Atau Pak Armand juga bisa.”             “Kalau Teresa nggak pantes dianter supir, berarti Khayana juga,” sahut Romeo.             “Ya terserahlah. Pokoknya Mama mau kamu antar Teresa sekarang. Keburu sakit dia,” ujarnya kemudian meninggalkan kami berdua.             Romeo pun menghela napas, turun dari bar dan meletakkan wine-nya. “Saya pergi dulu ya? Cuma sebentar. Kamu jangan kemana-mana.”             “Nggak perlu buru-buru. Saya bisa nunggu. Kamu hati-hati aja, jangan ngebut.”             Senyum Romeo mengembang. “Kamu udah mulai kayak istri ngingetin suami,” katanya, kemudian melenggang pergi sambil terkekeh.             Aku sudah terbiasa dengan Romeo yang jahil dan kalimat-kalimatnya yang suka dicetuskan untuk menggoda. Namun kali ini, alih-alih mengacuhkannya aku justru ikut tertawa.             Mataku mengekor langkah Romeo sampai ia menghampiri Teresa yang duduk di salah satu sofa, kemudian menyampirkan jasnya ke bahu wanita itu. Sebelum menghilang di balik pintu, ia menoleh sekilas ke belakang. Kepadaku. Dan aku mengangguk sambil tersenyum.             “Suka dengan pestanya?”             Aku menoleh. Ternyata Nyonya Syadiran sudah berdiri di sampingku. “Oh, iya Bu,” balasku sembari menegakkan tubuh yang semula bersandar di dinding.             “Kamu nggak berpikir sedang menjadi Cinderella, kan?” cetusnya.             “Maaf?” Aku tidak mengerti maksudnya.             “Hiasan itu bukan apa-apa selain tanda bahwa satu-dua permata bisa menggandeng kamu ke mana saja. Kalau kamu cukup cerdas, simpan hadiah itu dan pergi. Jangan berharap lebih, apalagi sesuatu yang melambangkan ikatan.”             “Maaf, tapi saya benar-benar nggak mengerti arah pembicaraan ini. Permisi.”             “Just remember that you’re just the girl in the party.”             Aku berbalik. Menatapnya. “I am,” balasku. “Lalu kenapa? Apa seorang gadis sekali jalan seperti saya merupakan ancaman untuk Anda?”             Alih-alih mendengar sepatah dua patah kata balasan, aku justru merasakan cipratan air membasahi wajahku. Detik kemudian, aku mendengar suara gelas bertemu dengan meja bar. Nyonya Syadiran baru saja menyiramkan isi gelas itu ke wajahku.             Tubuhku membeku dan aku hanya bisa menatapnya. “Bahkan Anda tidak lebih baik dari gadis sekali jalan di hadapan Anda.”             Aku melihat tangannya terangkat seakan hendak melayangkan tamparan. Dan tiba-tiba tubuhku terasa menggigil. Bayangan Teno dan Lena melayangkan makian dan pukulan memenuhi kepalaku. Aku hanya bisa diam di tempat dan memejamkan mata sampai sesuatu menyelimutiku. Dan tamparan itu tidak pernah terjadi. SENA            “Cukup, Tante!”             Tanpa mempedulikan reaksi Tante Wulan, atau tatapan para tamu, juga Opa dan Kiara, gue cepat-cepat membuka jas gue. Bahkan, kancingnya koyak karena gue terlalu buru-buru dan memaksanya. Gue menyampirkannya ke tubuh Khayana, merangkulnya, kemudian membawanya keluar.             Gue menghela napas lega saat kami sampai di halaman. Dan saat gue hendak membawanya ke dalam mobil, Khayana yang sedari tadi menurut, tiba-tiba menghentikan langkahnya.             “Aku …, udah janji untuk nunggu Romeo,” bisiknya seperti orang ketakutan.             Gue menggertakkan gigi. “Tapi nggak dengan keadaan kamu yang kayak gini, Na. Biar Kakak yang jelasin sama Romeo nanti. Dia pasti ngerti.”             Khayana nggak menjawab. Membuat gue balik menatapnya. Seperti digilas truk, gue melihat air mata Khayana merebak. Waktu kami masih kecil, gue selalu tahu apa yang harus gue lakukan saat Khayana menangis. Jelas, gue akan mengeliminasi satu per satu penyebab Khayana mengeluarkan air mata. Begitu pula dengan yang gue lakukan saat Kiara menangis. Gue nggak berdiri layaknya stupa seperti ini dan nggak tahu mau melakukan apa!             Untuk pertama kalinya sejak bertemu Khayana lagi, gue nggak bisa nahan diri untuk nggak memeluknya seperti biasanya. Dengan perasaan bersalah, gue merengkuh Khayana dalam pelukan. Dan rasanya seperti pulang. Pulang ke tempat yang seharusnya, ke tempat yang dirindukan.             Selang beberapa saat, atau mungkin beberapa hari yang cerah, dengan isakan dan air mata yang jatuh ke d**a gue, Khayana bersikeras bicara. “Nana nggak mau bikin Romeo kecewa,” isaknya. “Dia pasti udah berusaha untuk cepet-cepet balik.”             Romeo. Mau nggak mau. Suka nggak suka. Sosok itu sudah mengaitkan jangkarnya ke pulau kecil, dimana penghuninya adalah Khayana dan beberapa orang terdekatnya. Tinggal Khayana bersedia atau enggak naik ke perahunya. Suatu keadaan yang sama sekali berbeda dengan gue dan Khayana sekarang. Dimana gue cuma salah satu penduduk di pulau itu yang kapan aja bisa dia tinggal. Masa lalunya.             Gue menelan ludah, mengusap kepalanya. “Kalau gitu tunggu di mobil sampai Romeo balik. Kakak temenin.”             Seraya mengeratkan pelukan dan mencengkeram kemeja gue, dia mengangguk.                                                                                   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN