ROMEO
“Aku nganter kamu karena permintaan Mama dan peduli sama kamu sebagai sahabatku. Jadi tolong hargai niatku.”
Gue mengatakan itu untuk menghentikan Teresa yang akan menarik gue ke dalam kamar hotel tempatnya menginap. Mendengar itu, raut manja dan merayunya sirna. “You won’t stay?”
Gue menggeleng. “Someone is waiting for me. Kamu istirahat, ya? Aku pergi dulu.”
“Apa sih yang kamu lihat dari dia? Staf kamu itu. Dia jago di ranjang?” Tiba-tiba Teresa menaikkan suaranya.
“Why’d you suddenly care about this?”
Teresa nggak bergeming. Gue meraih wajahnya, mengusap bibirnya yang baru saja menyumpah serapah. “She’s not a girl like that.”
Teresa menatap gue. “She’s not the girl like that? Terus menurut kamu aku gadis seperti apa?”
Gue tersenyum. Untuk pertanyaannya yang satu ini, gue bahkan nggak berhak memberikan penilaian. “I have to go. Have a nice dream,” balas gue lalu mengecup keningnya.
“Romy!” panggilnya saat gue berjalan menjauh.
“Aku udah pesankan tiket pulang untuk kamu. Kamu bisa pulang lusa setelah penandatanganan kontrak yang terakhir.” Tanpa menunggunya menutup pintu, gue bergegas menuju lift kembali ke parkiran.
****
Sesampainya di rumah, gue mendapati mata sembab Khayana. Bahkan bekas air mata masih tersisa di sana. Dan hati gue remuk saat itu juga. Terutama saat gue nggak bisa melakukan apa-apa dan justru Sena yang mengambil alih tanggung jawab gue.
“Ayo, saya antar kamu pulang,” ujar gue setelah Sena selesai menghapus butiran air mata terakhir di mata Khayana sebelum akhirnya menyerahkan gadis itu ke gue.
Khayana sendiri tidak mengucap sepatah kata pun. Ia hanya mengangguk dan menurut ketika gue membimbingnya masuk ke mobil.
Setelahnya, gue menatap Sena. “Thanks, Sen.”
“Gue titip dia,” katanya, yang gue balas dengan anggukan.
Gue bergegas menyusul masuk. Menatap sosok di samping gue sejenak. Memastikan keadaannya. Bahkan, untuk memasang sabuk pengaman pun Khayana masih terlihat nggak berdaya gara-gara insiden yang tadi sempat diceritakan Sena secara sekilas.
“Na? Perlu saya pasangin seat belt-nya?”
Khayana mengangguk lemah. Ia meraih bagian di sisi kirinya, kemudian memberikannya ke gue untuk tinggal mengaitkannya tanpa perlu mendekat ke tubuhnya.
Gue meremas kemudi, berusaha mengendalikan diri. Berbeda dengan keberangkatan tadi yang gue nggak perlu susah-susah untuk fokus ke jalanan karena gue memakai supir, kali ini gue harus mengendalikan diri supaya bisa mengemudi dengan benar sementara Khayana di samping gue.
Gue mulai melajukan mobil sehalus mungkin. Sepanjang perjalanan, Khayana hanya terdiam. Lebih pendiam dibanding Khayana biasanya. Samar-samar, gue membayangkan apa yang terjadi di pesta tadi. Dan kali ini gue nggak akan tinggal diam. Mama udah keterlaluan.
****
“Makasih,” ucapnya lirih setelah turun dari mobil.
“Na,” panggil gue sebelum dia berbalik. Gue pengen banget meraihnya ke dalam pelukan. Menenangkannya dengan bilang semua baik-baik aja tanpa perlu ada yang dimasukkan ke hati. Tapi tangan gue tertahan, bahkan untuk sekedar merengkuh wajahnya. Melihat rautnya, nyali gue menguap. Gue merasa nggak pantas! Karena harusnya, yang penting bukan keberadaan dan peran gue sekarang, tapi tadi …, di pesta itu. Saat Mama mempermalukannya.
“Saya minta maaf. Kamu istirahat gih,” akhirnya, cuma kalimat itulah yang berhasil keluar dari mulut gue.
Khayana mengangguk. Kemudian dengan gerakan lemah, dia melepas hiasan rambut yang gue berikan dan menarik tangan gue untuk menerima benda itu kembali.
“Kenapa? Saya kasih ini buat kamu.”
“Saya udah selesai nemenin kamu. Jadi saya nggak perlu itu lagi. Kasih ke yang lain,” katanya lembut. Kelembutan yang justru merupakan belati paling tajam. Menghunus dan membunuh harapan dan bahagia yang berjam-jam lalu berdiri menjulang paling depan, paling percaya diri di antara perasaan-perasaan yang lain.
Gue menggenggam tangannya. “Kamu tahu saya ingin kamu terus yang nemenin saya. Bukan yang lain.”
Khayana menggeleng, tersenyum getir seraya melepaskan tangannya dari genggaman gue. Menyisakan hiasan itu dalam genggaman gue. “Lebih baik kamu pulang sekarang. Istirahat. Besok ada rapat sama direksi.”
Dan dia berbalik. Masuk ke dalam ruang dan dunia yang gue tahu sulit untuk gue raih. Tanpa sadar, gue meremas kuat-kuat benda yang diberikannya. Menyalurkan sakit dengan sakit yang lain. Hingga sesuatu terasa mengalir hangat dari tangan gue
KIARAPesta berjalan menyenangkan pada awalnya. Aku berdansa dengan Kak Sena, begitu pula Kak Romy dengan Khayana. Selain itu, banyak kolega yang memanfaatkan momen ini untuk berdiskusi ringan masalah bisnis atau sekadar mengobrol untuk lebih mengenal.
Aku menghampiri Kak Sena setelah sebelumnya ia asyik terlibat obrolan dengan beberapa tamu. Ia tengah bersandar di balkon sembari berkutat dengan tabletnya.
“Hai,” sapaku yang diam-diam sudah menumpukan daguku di bahunya. Membuat Kak Sena terlonjak kaget.
“Kamu Key! Kayak hantu aja tiba-tiba muncul,” katanya.
Aku memperlihatkan senyuman termanisku kemudian merangkul lengannya. Tanpa sengaja melihat apa yang tampak di layar tabletnya. “Kamu bukannya udah beli apartemen ya? Kok masih nyari-nyari lagi?” tanyaku.
Seperti menyadari sesuatu, Kak Sena mengganti tampilan daftar apartemen di layarnya dengan tampilan utama yang merupakan foto kami berdua. “Ehm, enggak. Ini…, bukan buat aku.”
Alisku terangkat, masih menunggu penjelasannya.
“Aku cari buat Khayana,” sambungnya dibarengi helaan napas.
“Khayana?”
Tidak ada jawaban dari Kak Sena. Rupanya ia tengah mengamati sesuatu. Aku mengikuti arah pandangnya. Dan menemukan Khayana tampak sedang beradu argumen dengan Tante Wulan. Detik kemudian, aku merasakan rangkulanku terlepas diikuti tubuhku sedikit terempas ke belakang. Semua terjadi karena Kak Sena berlari ke arah itu. Arah dimana Khayana berdiri.
Kak Sena melesat secepat kilat dan semua terjadi begitu cepat sampai-sampai aku sulit mempercayai bahwa apa yang kusaksikan merupakan kenyataan. Kak Sena menahan tangan Tante Wulan, menatapnya marah kemudian membawa Khayana pergi tanpa mempedulikan yang lain. Tanpa mempedulikanku.
****
“Kenapa Nana kamu tinggal sendiri, sih?”
Sama sekali bukan bentakan. Tapi malam itu, saat ia berpapasan denganku selepas Kak Romy datang untuk mengantar Khayana, untuk pertama kalinya Kak Sena berkata dengan nada dan juga tatapan kecewa padaku.
Khayana mungkin menjadi sosok yang paling dipermalukan di pesta itu. Namun, gadis yang membutuhkan dosis obat penenang setelah itu adalah aku. Karena malam itu aku menyadari sesuatu. Ada kecacatan dalam keyakinan yang kubangun selama ini. Keyakinan bahwa akulah dunia seorang Anantasena. Namun ternyata, ketika disandingkan dengan Khayana, kedudukanku tidak ada apa-apanya.
Usai pesta, meski aku sudah mencoba menjelaskan bahwa kejadian di pesta dipicu oleh sikap Tante Wulan yang kurang pantas, Opa masih kecewa karena sikap Kak Sena yang dianggapnya tidak sopan kepada Tante Wulan dan meninggalkan acara tanpa pamit.
Beliau bahkan sempat akan menyuruh Papa membatalkan rencananya untuk memberikan sebagian sahamnya kepada Kak Sena. Rencana yang Papa buat karena Kak Sena akan menjadi menantunya. Namun hal itu tidak sampai terjadi karena aku berusaha meyakinkan mereka bahwa Kak Sena akan menemui semuanya untuk meminta maaf.
Keesokan harinya, Kak Sena benar-benar datang menemui Opa dan Papa. Mereka bicara cukup lama. Membuat kekhawatiran tak henti-hentinya memerangkap dadaku. Khawatir bahwa pembicaraan ini berujung pada hal buruk. Hingga kemudian, wajahku terangkat ketika mendengar suara pintu terbuka. Mereka selesai. Satu per satu utas tali yang mengikat sesak dadaku sejak tadi, akhirnya melonggar demi menelan kelegaan ketika melihat Kak Sena keluar.
Namun, kelegaan itu dengan cepat berganti ketakutan dan kepanikan yang melebihi sebelumnya ketika kulihat Kak Sena keluar ruangan dengan raut kaku dan mengeras. Jelas dia tidak baik-baik saja. Bahkan, dia hanya menoleh ketika melihatku yang menunggunya di ruang tamu.
Dengan perasaan kalut, aku segera bangkit menyusulnya.
“Kamu langsung pulang? Nggak mau makan dulu?” tanyaku saat berhasil menyejajari langkahnya, menyembunyikan kekalutanku dan berupaya tampak baik-baik saja.
“Aku capek, Key. Lain kali, ya?” jawabnya enggan.
Aku menahan tangannya. “Maafin keluargaku, ya? Aku tahu kamu marah. Kamu nggak suka sama sikap mereka yang sering semena-mena. Nuntut kamu macem-macem, manfaatin kamu, bahkan mempermalukan Khayana. Tapi aku akan usahain kejadian seperti ini nggak terulang.”
Kak Sena menatapku. “Ini bukan salah kamu. Kamu nggak perlu melakukan apa-apa.” Ada jeda sejenak sebelum akhirnya ia melanjutkan. “Dan kalau aja kamu tahu, Key. Aku juga manfaatin mereka,” balasnya sembari berusaha melepaskan tanganku. Gerakannya lembut yang bagiku justru bagaikan belati yang mengiris hati. Kemudian, dengan gerakan singkat dia membawa kepalaku mendekat dan mengecup keningku. “Aku harus pergi sekarang.”
Dan saat mata kami bertemu, aku hanya bisa mengangguk. “Hati-hati,” ucapku berusaha tersenyum.