KIARA Dia tidak datang. Untuk hari ini saja, dia tidak datang. Hanya hari ini. Itu adalah kalimat yang kugumamkan terus menerus untuk meyakinkanku pada sore yang mendung itu. Langit tampak kelabu dan udara begitu dinginnya menusuk kulit lengan dan bahuku yang telanjang. Ya, gaun pengantin putih dengan bahu terbuka adalah gaun impianku sejak lama. Dan aku tidak pernah mengira bahwa mengenakannya bisa sedingin ini. Jauh dari kehangatan yang selama ini kubayangkan. “Kamu udah nyoba nelpon Sena lagi, Key?” tanya Mama untuk kesekian kalinya sore ini. Urat-urat wajahnya mulai menegang. Pertanda sedang menahan amarah. “Barusan aku kirim pesan ke dia. Kalau emang nggak bisa dateng, nggak apa-apa,” jawabku pada akhirnya. Enggan mematut diri di ce

