KIARA Tedengar suara ketukan pintu. Entah sudah berapa kali orang rumah bergantian membujukku untuk keluar kamar. Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Wajah polosku tanpa yang tanpa make-up. Bibir pucat tanpa pewarna, juga mata sayu dan sembab karena menangis seharian penuh. Aku melepas seluruh perhiasan yang biasa menempel padaku tanpa tersisa. Kalung, anting, bahkan cincin pertunanganku pun lenyap dari jari manisku. Melalui cermin, aku bisa melihat pantulan keadaan kamarku sekarang. Barisan kanvas yang kurobohkan, cat yang kutumpahkan, bahkan sketsa-sketsaku yang kurobek. Semua berserakan memenuhi lantai kamar. Aku tidak akan melukis lagi. Gagasan itu membawaku lagi pada satu nama. Khayana. Apa yang dilakukannya untuk memenangkan hati Kak Sena? B

