Janda 2

1091 Kata
Hampir menjelang dzuhur Dhena, Aiman dan Anwar baru kembali dari jalan-jalan. Setelah menikmati car free day di sempur mereka melanjutkan shoping si Botani Square. Saat Dhena di rumah, Wildan yang berdandan sangat spesial hari itu menyambut dengan senyum khasnya. Sudah lebih dari setengah jam dia menunggu. Secangkir kopi dan makanan ringan yang disuguhkan Bi Arnah bahkan sudah nyaris tandas. Sementara Anwar, Aiman dan Bi Arnah sibuk mengangkut belanjaan yang banyak sekali. "Asyik nih yang sudah shopping, gak ngajak-ngajak," sambut Wildan seraya mencium tangan Dhena yang terhulur mengajaknya bersalaman. "Wil, penyakit lama lu kambuh lagi, ya?" tanya Dhena membuat Wildan sedikit melongo. "Penyakit apaan, Teh?" Wildan tak mengerti. "Penyakit bawaan orok. Kebiasaan lu pamer si Bangla. Keluarin tuh kausnya! Dari jauh aja keliatan banget s**********n lu ngejendol ampe segitunya!" "Uppps! Ternyata dari dulu teteh gak berubah, ngomentarin s**********n Idan, hahahaha!" "Ya, habisnya lu gak berubah! Gak malu apa keliatan sama Bi Arnah?" Dhena mendelikkan matanya. "Alah! nasib Idan kalau depan teteh kenapa selalu apes, ya? Baru aja ketemu lagi udah kena damprat. Gak kebayang nanti di jalan empat jam, bakalan penuh nih telinga, hehehehe." Wildan mesem-mesem sambil menarik baju dari dalam celananya. "Lagian kamu tuh gak pernah ada kapok-kapoknya, Wil. Dari dulu si Banglamu kan selalu bikin masalah, masih aja dipamer-pamer!" Dhena mulai melunak. "Oh my Teteh! Siapa yang pamer? Ini kan sudah takdir. Masa harus dikecilin? Emang ada alatnya buat ngecilin si Bangla, hahahahaha." Wildan segera menghindar karena sebuah tonjokan keras tiba-tiba meluncur dari tangan Dhena. "Ya setidaknya, Wil. Kalau pakai baju jangan dimasukin dalam celana. Kan jadi keliatan banget. Kamu kan hobynya pake celana ketat gitu. Cukup si Tiara aja yang tahu gimana bentuk dan besarnya si Banglamu itu, yang lain jangan tahu! Uppps, lupa! Tiaranya udah nikah sama Erik gelandangan itu ya? Hahahaha, cucian deh lu, duda ganteng tapi nasibnya ngenes kalah sama Erik!, hahahaha." Dhena tertawa terpingkal-pingkal. "Alah bodo amat dibilang duda ngenes sama janda cantik sih gak bakal sakit hati. Palingan entar juga kepincut sama si Bangla, hahahaha. Marah lagi! Marah lagi, hadeeeuh capek deh. Hahahaha!'" balas Wildan sambil loncat-loncat menghindari beberapa tendangan maut dari Dhena. "Kegeeran ya, lu!" Dhena kembali memberikan tendangan pamungkas, Wildan yang satu perguruan dengan Dhena, tentu saja dengan sangat mudah menangkis dan menghindarinya. Seperti itulah pertemuan mereka sejak zaman dahulu. Saling pukul dan tendang bukan perkara aneh. "Oh Iya, udah makan siang belum, Wil? Entar aja berangkatnya agak sorean ya. Kalau mau salat atau istirahat dulu, di kamar belakang aja. Kamar yang di atas kayaknya masih berantakan. Teteh juga mau nungguin Teguh dulu, sebentar lagi juga sampai, sih." "Siap Teteh. Saya ke kamar dulu ya, tadi juga udah disuruh sama Bibi," balas Wildan sambil jalan membuntuti Dhena yang sudah lebih dulu masuk ke rumahnya. Wildan segera menuju kamar tamu yang lokasinya agak di belakang. Sementara Dhena masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian Dhena keluar kamar karena mendengar Aiman yang berisik teriak-teriak memanggil Teguh. Rupanya si Ganteng pun sudah tiba. Seperti biasa, setiap Teguh datang, Dhena langsung memanggil Bi Arnah, Anwar dan Aiman untuk kumpul bersama di ruang keluarga. Mendengarkan semua cerita Teguh tentang kegiatannya selama sekolah dan mondok di pesantren. Nilai akademik Teguh, tak perlu lagi dipertanyakan. Dhena justru lebih antusias dan bangga mendengar cerita bagaimana perjuangan Teguh hingga bisa membawa pulang beberapa piala dan piagam penghargaan dari beberapa lomba yang diikutinya, baik tingkat sekolah, tingkat pesantren maupun di di luar itu. Dan dengan sangat bangganya, Teguh mempersembahkan semua hasil jerih payahnya itu pada Bi Arnah dan Dhena. Dua wanita yang tulus ikhlas mencintainya itupun langsung menyambutnya dengan pelukan dan tangis keharuan. "Bunda juga lagi nunggu persembahan piagam dari si Kasep," bisik Dhena seraya mencubit pipi Aiman yang sudah mulai lancar berbahasa Inggris. "Terus Ganteng mau kapan ke Bandung? Mau bareng sama bunda sekarang atau gimana?" tanya Dhena di sela-sela isak harunya. "Mungkin beberapa hari lagi, Bun. Teguh masih kangen sama Aiman dan Emak," jawab Teguh santun seraya memeluk Aiman yang sejak pertama selalu nempel pada kakaknya. "A, kata Mom sekarang kita gak boleh manggil Emak, tapi Mom." Tiba-tiba Aiman menyela. Bi Arnah terperanjat dan tangannya reflek membekap mulut Aiman. "Ih apaan sih Aiman, ember deh kamu. Gak kok! Emak cuma bercanda, hehehehe." Bi Arnah bicara malu-malu, matanya yang basah dan sembab terlihat meredup karena malu ditatap Teguh yang tersenyum penuh tanda tanya. Bi Arnah suka bercanda dan ngocol dengan siapapun, termasuk dengan Dhena dan seluruh keluarga besarnya. Namun hanya satu orang yang membuat Bi Arnah seketika kehilangan selera humor dan kemapuan ngocolnya, ialah Teguh. Di depan Teguh Bi Arnah selalu bersikap sangat hati-hati. "Oh, jadi gak bisa bareng sama Bunda ya. Kalau gitu, Ganteng telpon papa atau mama, ya. Soalnya, Bunda udah bilang kalau Ganteng mau bareng sama Bunda," balas Dhena seraya menyeka air matanya dan merapikan piagam serta piala yang dipersembahkan Teguh. "Tadi waktu masih di pesantren kan mama juga nelpon, Bun. Teguh udah bilang, Insya Allah tiga hari lagi baru bisa ke Bandung. Soalnya Anwar sama Aiman pengen pada ikut. Nunggu pembagian raport mereka dulu." Teguh memandang Anwar yang duduk di samping Emaknya. "Oh ya? Kok si Kasep Bunda, gak ngomong sih?" Dhena mencubit pipi Aiman yang sedang bermanja-majaan di pangkuan Teguh. "Katanya sih ini rahasia, Bun. Soalnya takut Emak denger terus kepengen ikut, hehehehe." Anwar membantu menjawabkan untuk Aiman. "Ya terus kenapa kalau emak juga ikut?" Dhena menatap heran pada Teguh, Anwar dan Aiman secara bergantian. "Kalau Emak ikut, terus yang nungguin rumah siapa?" Aiman menjawab. "Hmm, kan ada Mang Sarta sama istrinya kali. Suruh aja mereka yang nginep di sini. Lagian tiap satu jam juga ada satpam yang patroli. Ketakutan amat, sih." sergah Dhena seraya menatap Bi Arnah yang sepertinya dia juga baru tahu kalau ketiga anaknya berencana liburan di Bandung. "Nanti aja bibi mah kalau yang kerja udah beres." Bi Arnah menjawab lembut. "Hari ini juga yang kerja mah kelar, Bi. Ya udah nanti semua aja liburan di Bandung. Gak usah naik umum, sewa mobil Pak RW aja, biar gampang. Kasihan si Kasep suka mabuk kalau naik bus." Dhena mengambil keputusan lalu memeluk Aiman yang wajahnya berseri seri kegirangan. "Asiiiiik ke Banduuuuung!" Aiman tiba-tiba berseru sambil meloncat kegirangan. Dan kebahagiaan itu menular pada semua orang. Mereka pun melanjutkan kebahagiaan itu dengan makan bersama. Wildan pun ikut serta. Bagi Wildan yang sudah mengenal keluarga besar Pak Abdullah dari sejak kecil, tentu saja tidak kaget lagi melihat perlakukan Dhena pada keluarga Bi Arnah. Keluarga Abdullah sejak dulu memang selalu menganggap asisten rumah tangga, adalah bagian keluarga mereka. Setahu Wildan, semua pembantu, sopir dan tukang kebun keluarga Abdullah, sudah diberangkatkan ke tanah suci melaksanakan rukun Islam yang ke lima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN