Bab 06

817 Kata
Yasmin berdiri di halaman depan dengan selang air di tangannya. Daster rumahannya sederhana, tanpa motif mencolok, tetapi potongannya pas mengikuti lekuk tubuhnya. Kainnya menempel ringan di pinggang dan pinggul, bergerak setiap kali ia melangkah menyiram pot-pot tanaman yang tertata rapi. Rambutnya disanggul seadanya, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya. Udara pagi masih sejuk, dan sinar matahari menyentuh kulitnya yang putih bersih. Rio melangkah keluar dari pintu depan tanpa suara, berniat langsung menuju mobil. Namun langkahnya terhenti begitu matanya menangkap pemandangan di hadapannya. Tenggorokannya terasa kering. Ia menelan saliva dengan kasar, cepat-cepat menarik napas panjang agar ekspresinya tetap terkendali. Dalam hati ia memaki dirinya sendiri. Ia tahu betul siapa Yasmin. Ia tahu batas. Ia tahu siapa istrinya. Tapi tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada logika. Yasmin menoleh, menyadari kehadirannya. Senyum lembut langsung terukir di bibirnya, senyum yang tidak berlebihan, tidak dibuat-buat. “Mau ke mana, Rio?” tanyanya sambil mematikan aliran air dan meletakkan selang di sisi pot. Rio berdeham kecil sebelum menjawab. “Ke perusahaan. Ada beberapa berkas yang harus aku periksa hari ini.” Yasmin mengangguk pelan. “Oh begitu.” Ia melangkah mendekat satu langkah, menjaga jarak yang tetap sopan. “Semoga lancar. Hati-hati di jalan.” Nada suaranya lembut, hampir seperti bisikan. Tidak ada tekanan, tidak ada maksud tersembunyi dalam kata-katanya, tetapi justru itu yang membuat d**a Rio terasa aneh. “Terima kasih,” jawab Rio singkat, berusaha menatap lurus ke depan, bukan ke arah leher jenjang yang sedikit terbuka oleh kerah daster Yasmin. Yasmin memperhatikannya dalam diam. Ia tahu tatapan Rio barusan bukan kebetulan. Ia perempuan dewasa, bukan gadis polos. Ia paham caranya dilihat, caranya diinginkan. Namun ia memilih tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. “Kau belum sarapan?” tanya Yasmin ringan. Rio menggeleng. “Belum. Aku buru-buru.” “Kau mau kubuatkan bekal?” Yasmin bertanya sambil menyilangkan tangan di depan perutnya. “Tidak berat. Hanya roti atau buah.” Rio refleks ingin menolak, tetapi kata-kata itu tertahan di lidahnya. Ia ragu terlalu lama, lalu mengangguk kecil. “Tidak apa-apa. Terima kasih.” Yasmin tersenyum lebih lebar. “Tunggu sebentar.” Ia masuk ke dalam rumah dengan langkah santai. Rio berdiri sendiri di teras, menghembuskan napas panjang. Ia memijat pelipisnya pelan. “Apa yang kau lakukan, Rio,” gumamnya pelan. Tak lama kemudian Yasmin kembali dengan sebuah kotak kecil berisi potongan buah dan sebotol air mineral. “Ini saja,” katanya sambil menyerahkan kotak itu. “Setidaknya kau tidak berangkat dengan perut kosong.” Rio menerima kotak itu, jari mereka sempat bersentuhan singkat. Hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat jantung Rio berdetak lebih cepat. “Terima kasih,” katanya lagi, kali ini lebih pelan. Yasmin mengangguk. “Sama-sama.” Sesaat mereka terdiam, hanya suara burung dan angin pagi yang mengisi ruang di antara mereka. Yasmin kemudian tersenyum kecil, seolah ingin mencairkan suasana. “Kau kelihatan lelah belakangan ini.” Rio terkejut kecil. “Benarkah?” “Iya. Matamu,” Yasmin menunjuk samar ke arah wajahnya tanpa benar-benar mendekat. “Seperti kurang tidur.” Rio tersenyum kaku. “Banyak hal yang harus dipikirkan.” Yasmin tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk pelan, memahami bahwa ada hal-hal yang tidak perlu diucapkan. “Jangan terlalu memaksakan diri,” katanya lembut. “Kesehatan itu penting.” Rio mengangguk. “Aku akan ingat itu.” Ia melangkah turun dari teras, berjalan menuju mobil. Namun sebelum membuka pintu, ia menoleh kembali. “Yasmin…” Yasmin mengangkat wajahnya. “Ya?” “Terima kasih. Untuk… semuanya.” Yasmin menatapnya beberapa detik lebih lama dari sebelumnya, lalu tersenyum tipis. “Kau tidak perlu berterima kasih.” Rio masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Mobil itu perlahan meninggalkan halaman, meninggalkan Yasmin yang masih berdiri di sana, menatap punggung kendaraan itu sampai menghilang di ujung pagar. Begitu mobil tak terlihat lagi, senyum di wajah Yasmin perlahan memudar. Ia menghembuskan napas panjang, menatap tangannya sendiri. “Tenang, Yasmin,” gumamnya pada diri sendiri. “Jangan terburu-buru.” Ia kembali ke tanamannya, menyiram satu per satu dengan gerakan pelan, seolah menenangkan pikirannya sendiri. Di dalam rumah, dari balik jendela lantai dua, Eliona berdiri dengan tangan terlipat di d**a. Matanya menyipit tajam, mengikuti arah mobil Rio yang pergi, lalu beralih ke sosok Yasmin di halaman. Bibirnya melengkung tipis, penuh kecurigaan. “Jadi begini caramu,” gumam Eliona dingin. “Bermain halus.” Ia memalingkan wajahnya, namun rahangnya mengeras. Di saat yang sama, Rio mengemudi dengan pikiran yang tak kalah kacau. Kata-kata Yasmin terngiang di telinganya, suaranya, senyumnya, caranya menatap tanpa menuntut apa pun. Ia menggenggam setir lebih erat. “Aku harus fokus,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku tidak boleh salah langkah.” Namun semakin ia mencoba menyingkirkan bayangan Yasmin dari pikirannya, semakin jelas wajah itu muncul, tenang, lembut, dan tanpa sadar… mulai menetap di ruang yang seharusnya tidak boleh ia izinkan siapa pun masuk. Dan di rumah besar itu, benang-benang ketegangan terus terjalin, perlahan, tanpa suara, menunggu waktu untuk ditarik hingga putus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN