Dissdent girl 1

1304 Kata
Suara dentuman musik memenuhi seisi ruangan. Banyak orang-orang yang tengah berjoget ria di lantai bawah, bahkan sampai menggila. Angel terkekeh karena lelucon yang temannya lontarkan. Di ruangan remang-remang ini sangat ramai dikunjungi oleh anak-anak muda atau orang dewasa untuk menghibur dirinya dan sekedar melepas penat. "Kamu ingin tambah wine lagi?" Kata teman Angel menawarkan, namun langsung di tolak oleh gadis itu. "Tidak, sepertinya aku harus pulang." Beberapa teman gadis itu berseru kecewa. "Kenapa sangat cepat?" "Besok aku ada pemotretan, sorry." Dusta Angel padahal kenyataannya tidak. Karena sedari-tadi dia di teror oleh sang ayah dengan rentetan chat dan telpon, Angel yakin sesampainya dia di rumah akan habis di ceramahi oleh sang ayah. Beberapa menit berlalu, Angel baru memasuki rumah orang tuanya itu, tiba-tiba saja sang ayah sudah berdiri tepat di hadapannya. "Dari mana saja, kamu!"  Angel menghela nafas pendek. "Bukankah Daddy sudah tahu, jika Angel baru saja dari club." Katanya. "Daddy, tidak akan mentoleransi mu lagi kali ini, Angel!" Seru Haris menatap wajah putrinya dengan galak. Pria paruh baya itu sudah lelah menasehati anak semata wayangnya yang selalu pergi ke club malam, mabuk-mabukan dan tidak pernah mendengarkan perintahnya. "Namanya juga anak muda, dad." Balas Angel santai, tanpa rasa bersalah sama sekali. Membuat  Haris menghela nafas seraya memijat kepalanya yang terasa pusing karena kelakuan sang anak.  Dia harus mencari cara agar sifat pembangkang putrinya berubah. "Daddy akan menjodohkan kamu dengan, Delon. Secepatnya jika sikap mu tak kunjung berubah!" Tubuh Angel menegang sempurna. Delon? Pria jelek, kutu buku yang satu kampus dengannya, Angel menggeleng. Apa Daddy-nya sudah gila?.  "Dad, Angle masih kuliah! Dan apa Delon? Daddy akan menjodohkan aku yang cantik ini dengan pria jelek sepertinya?"  Angel melirik Harris sekilas. "Lebih baik, Daddy kirim aku ke ujung dunia dari pada harus di jodohkan dengan pria jelek itu!" Geramnya tak habis pikir dengan pilihan pria ayahnya. Haris terdiam sejenak memikirkan perkataan anaknya, mengirimnya pergi? Bukan ide yang buruk. "Baik kalau begitu Daddy akan kirim kamu ke indonesiaan, negara ibu mu berasal!"  Bukan maksud Haris membuang sang anak ke negara lain, tapi ini satu-satunya cara agar Angel bisa berubah. Gadis itu harus di beri pelajaran yang sangat besar dalam hidup, jika tidak Angel tidak akan pernah berubah. "A-apa," Mengerjapkan matannya tak percaya. Tidak biasanya ayahnya itu menganggap serius perkataannya. "Bagaimana kuliah dan pekerjaan ku?!" Kata Angel tak percaya. Pasalnya dia baru saja menerima beberapa kontrak kerja untuk pemotretan sebuah baju. "Dari awal Daddy tidak suka, kamu bekerja menjadi model! Karena seharunya kamu mempelajari tentang bisnis. Jika Daddy sudah tidak ada siapa yang akan meneruskan semua bisnis yang Daddy bangun dari nol!" Haris sudah terlalu lelah dengan kelakuan Angel yang semakin hari tidak bisa di kontrol. Padahal dulu saat mendiang istrinya masih ada, gadis itu sangat penurut, pendiam dan bertolak belakang dengan sikapnya yang sekarang ini. "Model adalah mimpi ku sedari kecil, Daddy tau itu!"  "Oke, kita bikin kesepakatan. Daddy akan kirim kamu ke indonesia selama setahun. Masalah kuliah dan kontra kerja Daddy yang akan urus. Daddy tida pernah meminta apapun pada mu, dan Daddy mohon kali ini saja turuti permintaan, Daddy." Ucap Haris dengan mata sendu membuat Angel yang awalnya ingin menolak langsung mengurungkan niatnya. "Angel mau tapi tidak dengan 1 tahun."  "Oke, 10 bulan?" Gadis itu langsung menggeleng dengan cepat. "Oh dad, serius 10 bulan? Itu sama saja 1 tahun kurang 2 bulan!... 5 bulan, deal?!" Kali ini Haris yang menggeleng tidak setuju. "Apa 5 bulan? 1 tahun saja Daddy belum yakin jika kamu akan berubah. 8 bulan tidak ada tawar-menawar lagi" "6 bulan, pliss!" Mohonnya dengan memasang puppy eyes. Haris menghela nafas panjang, jika putrinya sudah memasang wajah seperti itu, dia tak kuasa untuk menolak. "Oke 6 bulan, tapi dengan syarat. Tidak akan ada uang jajan lebih dari Daddy, pelajari tentang bisnis di sana, tidak menerima tawaran untuk pemotretan atau sebagainya. Daddy akan mengurus perpindahan mu ke negara itu segera." Setelah mengatakan itu Haris langsung melenggang keluar dari kamar Angel.  Oh s**t! Indonesia? Itu sangat jauh. ... Vero menatap layar komputer dengan serius. Pria workaholic yang hanya mementingkan perkejaan, tapi juga sangat mementingkan keluarganya. Karena sifat workaholic itu lah, Vero tidak memiliki kekasih.  Karena bagi dia itu hanya membuang tenaga dan waktunya saja. Pria itu tidak suka di atur dan di kekang, jangan lupakan sikap keras kepalanya yang membuat siapa pun akan geram sendiri. "Bang, ayo turun mama udah selesai masak" Kata Alister di ambang pintu kamar pria itu. Vero hanya mengangguk tidak menyahut sama sekali. Lalu menyusul ke meja makan yang sudah ada kedua orang tuanya dan kedua adiknya disana. "Morning!" Sapanya mengambil duduk di bangku yang biasa dia tempati. Alanta membalasnya dengan senyuman, terkadang Alanta heran dengan anak pertamanya ini. Dulu dia pria yang hangat, ceria, dan bawel. Tapi sekarang sangat pendiam, irit bicara, dan sangat jujur. Harusnya Alanta senang memiliki anak yang jujur tapi terkadang kejujuran Vero itu bisa menyakitkan. "Bang, Alexis nanti ikut bareng Abang ya. Terus nanti turunin di Flower cafe." Kata adiknya dengan senang. "Jadi kamu masih belum menyerah mengejar, Oliver!" Kata Vero. Alexis menggeleng dengan mantap. "Sudah lah, Alexis jangan mengejar pria yang sudah memiliki pacar!" Seru Alanta karena anak perempuannya yang satu ini benar-benar membuat kepalanya pusing. "Selagi janur kuning belum melengkung, Alexis akan terus berusaha mengejar Oliver sampai dapat. Iya gak pah!" Lirik gadis itu pada Alvaro yang langsung di berikan acungan jempol dengan tinggi. "Sebentar, ini yang masak ayam goreng siapa?!" Ucap Alister yang sedari tadi hanya terdiam terdiam membuka suara. Alanta langsung menunjuk kembaran pria tersebut yaitu Alexis. Seketika Alvaro dan Vero langsung mengurungkan niatnya untuk mengambil ayam goreng yang terlihat menggiurkan itu saat tahu siapa yang memasak. Peraturan pertama di rumah ini adalah, jangan pernah mencoba setiap makanan yang Alexis buat jika tidak mau celaka. Terakhir gadis itu memasak saat sang mama tengah berlibur dengan sahabatnya ke Bali. Dan berakibat membuat ke-tiga pria yang ada dirumah langsung di larikan kerumah sakit karena ternyata daging yang Gadis itu masak sudah kadaluarsa. Vero melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Mengurungkan niatnya untuk makan di rumah. "Vero berangkat dulu!" Ucapnya mencium punggung tangan kedua orang tuanya berganti. "Sering-seringlah pulang kerumah" kali ini Alanta yang berucap. Vero memang sudah 1 tahun tinggal terpisah dengan keluarganya yaitu di rumah miliknya sendiri. "Tentu" baru saja kaki pria itu akan melangkah meninggalkan ruang makan namun langsung terhenti karena panggilan dari Alvaro. "Vero, sebelum pergi ada yang ingin papah  katakan" Alvaro bangkit memberi kode pada Vero agar mengikutinya. "Ada apa?" Kata Vero saat masuk kedalam ruang kerja papahnya. Alvaro duduk di salah satu sofa yang ada disana dengan Vero di hadapannya. "Kamu kenal om Haris bukan?" Vero hanya mengangguk karena memang pernah terlibat kerja sama dengan pria paruh baya itu. Sebuah senyuman terbit dari bibir Alvaro. "Om Haris meminta tolong pada papah untuk merawat anaknya selama 6 bulan disini, agar anaknya itu bisa berubah menjadi anak yang penurut." Vero mengangkat kedua alisnya secara bersamaan. Heran karena hal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. "Lalu?" "Papah ingin meminta tolong padamu agar Angel tinggal di rumah mu" Mata pria itu terbelalak sempurna, dia paling malas berhubungan dengan seorang wanita kecuali Mama, dan adiknya, Alexis. "Kenapa tidak disini saja?!" Alvaro mengusap wajahnya kasar, memang awalnya Angel akan tinggal disini. Tapi mengingat anaknya Alister yang juga suka pergi ke club malam dan selalu bermain wanita membuat pria itu mengurungkan niatnya. Dan satu lagi dia menitipkan Angel pada Vero karena ingin membuktikan jika anaknya masih normal tidak gay. "Hanya 6 bulan saja, setelah itu Papa dan Mama berjanji tidak akan menjodoh-jodohkan kamu dengan wanita lain. Kamu bebas untuk untuk melajang sampai kapan pun, asal tolong ubah Angel menjadi anak yang penurut" Vero menimang-nimang, sejujurnya dia tidak mau tapi jika imbalannya tidak akan lagi di jodoh-jodohkan dengan wanita yang ribet. "Oke!" Katanya setuju. Hanya membuatnya berubah kan, lagi pula setahunya anak om Haris itu tidak banyak tingkah dan ulah jadi mungkin semua ini akan mudah, Batin Vero.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN