Vero merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya yang besar. Hari ini adalah hari yang samgat melelahkan baginya. Karena selama beberapa jam dia memangku, Angel di kantor.
Ia heran, entah mengapa saat Angel memeluknya merasa nyaman seakan ada sengatan aneh di dalam jantungnya.
Berusaha memejamkan matanya karena sudah malam. Pria itu beranjak dari atas kasur berpindah ke kursi pijat yang ada di pojok ruangan kamarnya.
Sepertinya dia butuh merilekskan otot yang tegang. Tapi baru saja b****g itu akan mendarat di kursi, sebuah ketukan kencang dan berutal mengalikan perhatiannya.
Vero tau siapa orang yang tengah mengetuk pintu, karena di rumah ini memang hanya ada mereka berdua. Pembantu di rumah ini hanya ada saat pagi sampai sore saja dan setelah itu akan pulang ke rumahnya. Vero dengan tampang lelahnya bergegas membuka pintu kamar.
Baru saja Vero membuka pintu kamar, dia langsung di suguhkan wajah Angel. "Aku lapar!"
Vero mengangkat kedua alisnya secara bersamaan tidak mengerti dengan apa yang Angel maksud. Jika dia lapar apa hubungannya dengan dirinya. Gadis itu bisa langsung pergi ke dapur dan makan, kenapa harus mencarinya.
"Tolong buatkan aku makanan."
Kata gadis itu memohon. Bahkan Angel sengaja memasang puppy eyes dan wajah memelas.
Vero menatap gadis itu datar. Dia kira gadis itu mengetuk pintu kamarnya karena ada sesuatu yang penting untuk di bicarakan ternyata tidak. "Dasar membuang waktu saja!" Batinnya.
Vero kembali menutup pintu kamar itu, tapi ternyata Angel sengaja mengganjal kakinya untuk menahan pintu itu agar tidak tertutup. Lalu langsung mendorong pintu itu membuatnya kembali terbuka lebar.
"Tolong aku kumohon aku benar-benar lapar!"
Vero berdecak malas. "Di rumah ku banyak bahan makanan. Jadi buat saja sendiri!" Sinisnya melangkah keatas kasur, dia sudah tidak mood lagi untuk duduk di bangku pijat.
Pria itu sudah merebahkan tubuhnya seraya memejamkan mata tanpa memperdulikan rengekan dari, Angel.
Gadis itu menghela nafas kasar, dia benar-benar tidak bohong jika sedang lapar. Tanpa kata Angel langsung naik ke atas kasur. "Jika kami tidak membuatkan ku makanan. Aku akan tidur disini!" Ucapnya ikut masuk kedalam selimut yang tengah, Vero kenakan.
Awalnya Vero tidak perduli dengan ocehan Angel. Karena ia kira mungkin jika mendiamkan gadis itu, dia akan segera pergi dengan sendirinya. Tapi ternyata pria itu salah, malahan entah sejak kapan tangan, Angel sudah melingkar tepat di perutnya.
Vero terus berusaha menyingkirkan tangan itu tapi tidak bisa karena setiap tangan gadis itu terlepas, dia akan kembali memeluknya.
Vero menyentak tangan Angel kasar. Lalu mengubah posisi baringnya menjadi duduk.
"Apa kamu bisa tidak menganggu ku sekali saja!" Seru Vero sudah mulai tersulut emosi, hari ini dia benar-benar lelah.
"Kamu sudah besar. Di kulkas ku banyak bahan masakanan yang bisa kamu masak, kenapa harus merengek kepadaku!" Geram Vero mengacak rambutnya kasar menatap Angel dengan tatapan tak suka.
Angel tersentak oleh bentakan pria itu, menatap Vero dengan sendu. Tanpa kata gadis itupun langsung beranjak dari kasur bergegas keluar dari kamar, menghentikan langkah kakinya tepat di ambang pintu.
"Kamu tahu... hanya untuk sekedar menyalakan kompor saja aku tidak bisa, jadi bagaimana aku mau masak." Ucap Angel pelan tapi masih bisa di dengar oleh, Vero. Seketika pria itu langsung mematung merasa bersalah karena telah membentak, Angel.
"Ah sialan!" Gumamnya. Lalu turun dari atas kasur.
Ia, tidak ada niat sama sekali untuk membentak gadis itu. Dengan cepat dia langsung bergegas menyusul, Angel.
Baru saja tangan gadis itu akan membuka pintu kamar langsung di cekal oleh, Vero. Menariknya pergi menuju dapur tanpa kata dan jangan lupakan tatapan datar pria itu yang sangat menyebalkan.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Vero akhirnya angkat suara.
"Apa saja yang penting jangan pakai jamur, aku alergi."
Angel terus memperhatikan, Vero yang tengah mengeluarkan bahan-bahan yang akan dia gunakan. Tanpa sadar seulas senyuman terbit di bibir gadis itu. Entah mengapa, ia sangat suka melihat wajah, Vero yang sangat serius saat melakukan sesuatu.
"Apa kamu sudah gila senyum-senyum sendiri!" Sinis, Vero. Seketika senyum di wajah gadis itu sirnah. Ingatkan Angel untuk menghitung setiap hinaan, Vero yang di lontarkan untuknya.
Angel mendengus sebal. "Dasar nyebelin!"
...
Angel mengerjapkan matannya karena ketukan pintu yang mengusik tidur nyenyak pagi ini. Gadis itu berdecak sebal saat suara ketukan pintu semakin kencang.
"Iya, sabar!" Teriak Angel bergegas membuka pintu kamar.
Saat pintu sudah terbuka langsung menampilkan sesosok pria tampan dengan wajah datar khasnya dan jangan lupakan senyum sinis dari pria itu.
"Cepat bersiap, saya beri kamu waktu 5 menit untuk mandi dan ganti baju!" Kata Vero membuat Angel mengernyitkan keningnya. 5 menit? Ganti baju?
"5 menit mana cukup!"
"Saya tidak peduli, cepat mandi atau saya tinggal!"
"Memang kita mau kemana?"
"Jangan banyak tanya, nanti juga kamu akan tau sendiri."
"Apa susahnya hanya tinggal menjawab!" Dengus Angel sebal.
Vero langsung berbalik tanpa memperdulikan ocehan gadis itu. "Dasar pria jelek menyebalkan!" Teriak Angel setelah itu langsung menutup pintu kamarnya dengan kencang.
Beberapa menit berlalu. Vero menatap jam di pergelangan tangannya dengan malas, ini sudah lebih dari waktu yang dia tentukan untuk, Angel mandi dan berganti baju. "Lama!" Decaknya saat melihat gadis yang sedari tadi dia tunggu menuruni anak tangga.
"Sabar, Lo kira mandi cuma 5 menit!" Vero mengangkat kedua alisnya, terkejut dengan bahasa yang Angel pakai, Lo? Apa Vero tidak salah dengar.
"Apa liat-liat, iya gue tau gue cantik." Ucap Angel percaya diri. Jangan tanya mengapa Angel sekarang memakai gue-elo. Karena sedari awal gadis itu sengaja menggunakan Aku-kamu agar membuat Vero terpikat padanya. Tapi lama-kelamaan dia muak sendiri terus berusaha bersikap anggun di hadapan, pria itu.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Dengan Vero yang tengah fokus menyetir, pria itu sedari tadi terus melirik kesebelah kiri. Ia ingin bertanya mengapa gadis itu sekarang menggunakan gue-elo saat berbicara. Tapi karena gengsinya yang terlalu tinggi dia lebih memilih diam.
"Kita mau kemana! Bukannya hari ini libur?!"
Vero masih saja terdiam seakan menganggap Angel tidak ada. "Vero!" Seru gadis itu marah.
"Ada suara tapi tidak ada wujud. Uh menyeramkan!" Monolog pria itu semakin membuat Angel tersulut emosi. Bahkan wajah gadis itu sudah merah padam.
"Dasar pria gila!"
Rasanya sekarang, Angel sangat ingin menjambak rambut Vero sampai botak. Tapi dia urungkan karena itu akan berbahaya apa lagi sekarang pria itu tengah menyetir. Angel membuang muka ke arah jendela, moodnya sekarang sangat hancur.
Lihat saja, Vero. Sebentar lagi pasti lo bakal jatuh ke tangan gue. Batin Angel yakin