Dissdent girl 9

1183 Kata
"Akan aku buktikan pada mu jika aku bukan gay." Ucap Vero langsung menarik Angel merengkuh pinggang gadis itu. Menciumnya dalam, bahkan Angel di buat terkejut dengan perlakuan pria itu. Mengerjapkan matannya bingung, tubuh gadis itu menegang hebat karena ciuman yang vero ciptakan. Entah bagaimana tiba-tiba saja tubuhnya sudah berbaring di atas kasur dengan Vero yang berkuasa di atasnya. Pria itu seakan sudah di butakan oleh gairah terus melanjutkan aksinya tersebut. Angel menggeleng berusaha memberontak, tapi tubuhnya tidak cukup kuat. Gadis itu tidak membalas ciuman pria itu sama sekali, karena jika dia membalas akan sangat bahaya. Angel sebisa mungkin terus mengontrol dirinya agar tersadar. Tapi ternyata usahanya sia-sia, dengan sendirinya gadis itu membalas ciuman Vero. Karena bagaimanapun Angel adalah wanita normal yang pastinya akan tergoda dengan cumbuan mematikan seperti ini. Vero yang merasa mendapat lampu hijau menyeringai senang antara sadar dan tidak sadar. Bahkan bibir pria itu sudah berpindah tepat di leher jenjang, Angel. Mereka benar-benar sudah terbuai dengan dunia mereka merasakan sensasi yang benar-benar hebat tapi menyesatkan keduanya. Sebuah lenguhanterlontar dari bibir seksi milik, Angel. Bahkan Angel sampai mengigit bibir bawahnya untuk menahan erangan laknat itu. Angel menangkup kedua wajah Vero agar segara menatapnya. Entah dapat dorongan dari mana Angel langsung mendekatkan wajahnya pada leher mulus Vero memberikan beberapa tanda kemerahan. Vero tersenyum senang, menahan gadis itu agar menghentikan aksinya, dengan cepat gadis itu menurut. Bibir Vero sekarang semakin turun kebawah, yang awalnya hanya memberikan kecupan dan gigitan kecil di leher sekarang sudah berpindah di sela-sela bukit kembar Angel. Pria itu kembali mendaratkan bibirnya di sana, memberikan kecupan manis di sana dengan meninggalkan satu tanda kemerahan. Tapi dengan tiba-tiba, Angel langsung mendorong tumbuh Vero menjauh. Bahkan pria itu hampir saja terjungkal dari atas tempat tidur jika tidak segera berpegangan pada tepian ranjang. Wajah Angel memucat bahkan pandangan gadis itu tak lepas dari wajah, Vero yang sama tengah menatapnya. "Apa yang baru saja kita lakukan!" Gumamnya syok. Mata gadis itu sedari tadi tak bisa lepas dari tanda merah yang bertengger jelas di leher, Vero. Apa aku seganas itu? Vero masih setia dalam keterdiamannya, bahkan pikiran pria itu sudah berkecamuk. Mengisap wajahnya kasar. "Aku tidak tahu, ini sudah terlalu jauh." Ucap Vero tanpa sadar. Setelah itu hanya keheningan yang menyelimuti ruangan kamar Angel. Tanpa kata Vero beranjak dari atas kasur melenggang keluar dari kamar dengan wajah syoknya sama seperti, Angel. Tapi tiba-tiba pria itu kembali  masuk lagi kedalam kamar, Angel mengambil kamera yang tadi di gunakan untuk memotret gadis itu. "Batalkan kontrak kerjanya dengan brand pakaian sialan itu!" "Kamu gila! Aku tidak ada uang untuk membayar pinaltinya!" Seru Angel. Untuk saat ini gadis itu benar-benar tengah kere, karena Daddy-nya hanya mengirim uang sedikit. "Aku yang akan membayarnya!" Ucap Vero dingin. Entah mengapa ada rasa tidak rela jika dia membayangkan foto Angel yang terpampang di majalah dengan pakaian seperti itu. Setelah itu, Vero langsung melenggang keluar meninggalkan Angel yang masih mematung ditempat. Sampai akhirnya gadis itu langsung tersadar akan sesuatu. "Vero kembalikan kamera ku!" Teriak Angel menggema di seisi ruangan kamarnya. Keesokan harinya Angel mengernyitkan keningnya heran saat melihat Vero yang masuk ke dalam ruang makan. "Kamu akan memakai itu saat berangkat ke kantor?" Angel menunjuk syal yang melingkar di leher jenjang milik, Vero. "Tidak ada pilihan lain!" Ucapnya datar langsung duduk di bangku makan tempat biasanya. "Di mana tanda kemerahan milik mu?" Vero mengakat alisnya heran saat melihat leher Angel sudah bersih dari tanda kemerahan yang kemarin dia buat. "Hilang." "Bagaimana bisa?" "Rahasia." Vero menghela nafas panjang dengan memasang wajah tidak bersahabatnya. Angel hampir tertawa saat melihat wajah cemberut Vero yang menurutnya sangat lucu. Beberapa menit berlalu Vero dan Angel sudah berada di dalam ruangan kantor pria itu. Sepanjang perjalanan menuju ruangan, Vero. Semua pasang mata seketika langsung menatap Vero heran, merasa aneh dengan bos dingin mereka. Padahal hari ini panas tapi anehnya pria itu malah memakai syal. "Puas kamu!" Sinis Vero pada Angel yang sedari tadi tak henti-hentinya untuk tertawa. "Tantu saja, itu adalah hukuman untukmu yang sudah seenaknya main mencium seperti kemarin." Vero berdecak sebal, dengan malas langsung melepas syal di lehernya kasar bahkan dia hampir tercekek karena terlalu asal saat melepas syal di lehernya. Moodnya hari ini benar-benar jelek. "Apa kamu sudah selesai membaca berkas itu?" Angel langsung menjawabnya dengan anggukan kecil. "Bagus, setelah ini kamu akan aku beri tugas untuk menyelesaikan satu laporan." Angel hanya terdiam tak mengindahkan ucapan pria tampan itu karena pandanganya saat ini tengah terkunci pada tanda merah yang sangat mengangguk mata dan perhatiannya. Vero yang sadar akan pasangan mata gadis itu dengan segera langsung menutupi tanda kemerahan di lehernya. "Jangan memandangi leherku seperti itu!" Seru Vero tak suka. Angel memutar bola matanya malas. "Baru satu tanda saja kamu sudah seperti itu, bagaimana aku yang kamu berikan lebih dari lima tanda di mana!" Ucap gadis itu tak mau kalah. Satu tanda apanya decak batin Vero. "Itu juga semua salah mu." Timpalnya lagi. "Aku?" "Iya, jika saja kamu tidak menggunakan baju yang memperlihatkan tubuh mu seperti kemarin, sisi lelakiku tidak mungkin beraksi." "Milikmu saja yang murahan." "Apa katamu murahan! Bahkan milikku hanya bisa berdiri jika melihat mu!." Ucap Vero tanpa sadar malah membocorkan rahasia yang sangat penting. Angel terdiam di tempat, tiba-tiba menggoroknya terasa kering karena ucapan Vero barusan. "Apa!" Teriak Angel kaget, wajahnya seketika memerah sempurna. Gadis itu langsung bangkit dari duduknya mendekat pada, Vero. "Dasar pria gila m***m. Bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu pada ku!" Angel mendaratkan beberapa pukulan berutal di tubuh, Vero.  "Hey hentikan." Kata Vero tapi tak diindahkan sama sekali oleh gadis itu. "Tidak aku tidak mau, karena pria m***m seperti dirimu harus segera aku beri pelajaran!" Vero yang tidak mau terkena pukulan bar-bar Angel, langsung menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya. "Diam dan dengarkan aku, aku bukan pria m***m seperti yang kamu katakan tadi, ini hanyalah naluri seorang pria yang tidak bisa di cegah jadi mengertilah." Angel menghela nafas pendek, tanpa kata kembali duduk di kursinya. Tapi gadis itu tiba-tiba langsung ke arah Vero lagi. "Vero bukankah hari ini kamu ada meeting?" "Sial, aku lupa!" Vero mengacak rambutnya kasar. "Bagaimana caranya aku menutupi tanda kemarahan ini nanti." Monolog Vero pada dirinya sendiri karena tidak mungkin jika dia harus menggunakan syal yang akan membuatnya terlihat aneh saat di ruang meeting. Angel berdiri mengambil sesuatu di dalam tasnya lalu menggeret kursinya untuk mendekatkan pada, Vero. "Apa yang mau kamu lakukan?" Tanyanya heran. Mewanti hal gila yang nanti akan gadis itu lakukan. "Sekali-kali berfikir positif tentangku bisa tidak!" Desisi Angel pada pria itu.  "Condongkan lehermu sekarang juga!"  Interupsinya tapi Vero enggan mendengarkan. "Condong kan lehermu atau aku akan duduk di atas pangkuan mu sampai sore!" Ancam Angel yang tentu saja langsung di turuti oleh Vero segera. "Dasar gadis bar-bar!" Angel tidak perduli dengan ucapan Vero. Dengan segera gadis itu langsung menaruh sedikit foundation untuk mengcover tanda kemerahan di leher Vero. Pandangan Vero terkunci tepat pada bola mata Hazel milik Angel yang sangat indah dan tak lupa wajah gadis itu yang sangat cantik tak heran jika pegawai pria di perusahaannya selalu menatap Angel dengan tatapan memuja. Bahkan tanpa sadar detak jantung pria itu berdetak semakin kencang. Jantungku, sepertinya aku harus segera membuat jadwal dengan dokter batin Vero..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN